BUDAYA  

Pesta Rakyat Malioboro, Ruang Guyub Masyarakat dan Panggung Budaya

Foto dok Republika

YOGYAKARTA, NUSANTARANEWS.co – Puluhan angkringan gratis serta beragam pertunjukan budaya dari berbagai daerah di DIY kian menyemarakkan Pesta Rakyat yang berlangsung di sepanjang Jalan Malioboro pada Kamis (02/04) malam.

Gelaran yang menjadi wujud syukur atas bertambahnya usia Gubernur DIY sekaligus Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang genap berusia ke-80 ini menjadi wadah guyub masyarakat, sekaligus panggung ekspresi dan pelestarian budaya daerah melalui berbagai pementasan.

Malam itu, masyarakat tak hanya disuguhi gemerlap lampu bernuansa hangat, mereka dimanja dengan ragam pilihan makanan, diiringi alunan musik dan harmoni tarian daerah yang tersaji di sepanjang jalan Malioboro. Suasana ini mencerminkan semangat masyarakat dari seluruh kabupaten/kota di DIY dalam bertambahnya usia sang pemimpin.

Manda, seorang mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan, menceritakan pengalaman pertamanya bersama teman-temannya mengikuti gelaran ini. Ia mendapatkan informasi mengenai gelaran tersebut dari pemilik kos temannya, dan menyempatkan diri untuk hadir di sela waktu senggang perkuliahan.

Menurutnya, kehadiran jajanan gratis dari angkringan yang tersedia, menjadi nilai tambah dan membuat Pesta Rakyat semakin terasa menyenangkan. “Asik, seru banget, apalagi ngantri buat dapetin makan gratis itu,” ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan Anto Seno dan Doni, wisatawan asal Jakarta yang baru tiba di Jogja. Mereka menyaksikan langsung gelaran tersebut, memanfaatkan momen liburan sekolah untuk menghabiskan waktu bersama keluarga.

Meski tidak mendapatkan jajanan angkringan karena antrean yang cukup padat, keduanya tetap merasakan kesan positif dari pesta rakyat ini, tidak hanya bagi masyarakat Jogja, tetapi juga bagi para wisatawan. “Acaranya tidak hanya istimewa untuk masyarakat Jogja, tapi mungkin juga bagi masyarakat dari luar kota Jogja juga seperti itu,” jelasnya.

Ia berharap, gelaran ini dapat menumbuhkan semangat seluruh masyarakat untuk ikut menjaga keistimewaan DIY, terutama dalam hal kebersihan dan kenyamanan ruang publik, ruang-ruang seni yang mudah diakses, serta tetap lestarinya angkringan sebagai ruang yang merangkul seluruh lapisan.

“Harapan saya untuk Jogja ya pasti tetap menjadi daerah yang istimewa, semakin solid, semakin bersih, tentunya mempunyai suatu hal yang lebih bisa dicontoh untuk daerah-daerah lain. Juga semoga Jogja bisa seperti yang dulu lagi, banyak ruang-ruang seni, terus banyak angkringan-angkringan seperti itu,” ungkapnya.

Antusiasme warga tak terbendung, jajanan yang disediakan di tiap angkringan sepanjang Jalan Malioboro laris manis, bahkan tak sedikit masyarakat yang tidak kebagian. Meski begitu, para penjual angkringan mengaku senang melihat tingginya minat masyarakat terhadap jajanan khas angkringan yang ternyata masih diminati hingga kini.

Seperti yang diungkapkan Leli, salah satu pemilik angkringan, yang bercerita bahwa dagangannya bahkan harus menyetok ulang hingga dua kali, dengan ratusan gorengan, sate, dan nasi kucing pada setiap pengisian. “Iya, antusiasnya sangat mengebu-gebu gitu loh Mas. Belum ditata aja, sudah pada antri, dan gerobaknya ditunggu,” tuturnya.

Menurutnya, gelaran pesta rakyat ini berhasil menggandeng UMKM lokal untuk naik kelas dengan ikut berpartisipasi dalam perayaan Yuswa Dalem ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia pun berharap UMKM lokal, khususnya angkringan di DIY, dapat terus diberdayakan dengan dilibatkan dalam berbagai gelaran serupa di depannya.

“Ya harapan saya semoga untuk tahun-tahun yang akan datang bisa diselenggarakan seperti ini lagi, UMKM bisa diangkat lagi,” harapnya.

[Humas Pemda Yogyakarta]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *