OPINI  

Bukan Nafsu yang Bermasalah, Tetapi Siapa Yang Memimpin Diri Anda: Perjalanan Dari Nafs Ammarah Menuju Nafs Muthma’innah

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya nafs itu benar-benar selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati Tuhanku” (QS. Yusuf: 53). Ayat ini sering dipahami seolah-olah manusia pada dasarnya jahat. Padahal para ulama tafsir menjelaskan bahwa persoalannya bukanlah karena manusia memiliki nafs, melainkan karena jiwa yang seharusnya menjadi pemimpin justru sering diperintah oleh dorongan-dorongan yang lebih rendah darinya. Dengan kata lain, masalah utama manusia bukan keberadaan nafs itu sendiri, tetapi siapa yang memegang kendali dalam dirinya.

Dalam Al-Qur’an disebutkan tiga keadaan jiwa: nafs ammarah (jiwa yang mendorong kepada keburukan), nafs lawwamah (jiwa yang mencela dirinya sendiri), dan nafs muthma’innah (jiwa yang tenang). Menurut banyak ulama, ketiganya bukanlah tiga jenis jiwa yang berbeda. Yang ada hanyalah satu jiwa manusia yang dapat berada pada tingkat perkembangan yang berbeda-beda.

Seseorang bisa berada pada kondisi ammarah ketika hidupnya dikuasai oleh dorongan-dorongan rendah, kemudian naik menjadi lawwamah ketika mulai sadar dan mengoreksi dirinya, lalu mencapai muthma’innah ketika jiwanya telah matang, tenang, dan selaras dengan kebenaran. Karena itu, ayat tentang nafs ammarah tidak sedang mendefinisikan hakikat manusia untuk selamanya, melainkan menggambarkan keadaan jiwa yang masih belum berkembang dan belum tersucikan.

Mengapa jiwa bisa sampai pada kondisi yang disebut ammarah? Para ulama menjelaskan bahwa pada awal kehidupannya, jiwa manusia sangat terkait dengan tubuh dan kebutuhan-kebutuhan biologis. Sejak lahir, manusia merasakan lapar, haus, kenyamanan fisik, rasa takut, keinginan memiliki, dan berbagai kenikmatan inderawi. Perhatian jiwa secara alami tertarik kepada hal-hal tersebut karena memang itulah yang pertama kali dialaminya.

Dalam keadaan ini, jika akal, kesadaran, dan petunjuk fitrah belum cukup kuat memimpin, maka dorongan-dorongan yang lebih rendah akan mengambil alih kemudi kehidupan. Syahwat berbicara, amarah berbicara, ego berbicara, dan jiwa mengikuti semuanya. Inilah yang disebut nafs ammarah: keadaan ketika jiwa lebih banyak diarahkan oleh dorongan-dorongan instingtif daripada oleh kebijaksanaan dan kesadaran.

Namun penting dipahami bahwa keadaan ini tidak berarti hakikat jiwa itu sendiri jahat. Dalam pandangan filsafat Islam, khususnya Hikmah Muta’aliyah, setiap wujud bergerak dari keadaan yang lebih lemah menuju keadaan yang lebih sempurna. Jiwa manusia pun demikian. Ketika masih berada pada tingkat perkembangan yang rendah, ia lebih mudah dikuasai oleh dorongan-dorongan material. Tetapi di dalam dirinya sudah tersimpan potensi untuk tumbuh, berkembang, dan mencapai tingkat yang jauh lebih tinggi. Jadi, keburukan bukanlah esensi jiwa, melainkan akibat dari dominasi tingkat eksistensi yang lebih rendah atas tingkat yang lebih tinggi.

Karena itu para ulama menegaskan bahwa kejahatan tidak berasal dari fitrah manusia. Fitrah manusia pada dasarnya suci. Sejak awal penciptaannya, manusia memiliki kecenderungan untuk mengenal kebenaran, mencintai kebaikan, dan mencari Tuhan. Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk yang membawa ruh dari perintah Allah dan memiliki potensi menjadi khalifah di bumi. Dengan demikian, identitas terdalam manusia bukanlah nafs ammarah, melainkan fitrah Ilahiah yang ada dalam dirinya. Keburukan muncul ketika fitrah tersebut tertutupi oleh syahwat, egoisme, dan keterikatan yang berlebihan pada dunia. Yang asli adalah cahaya fitrah, sedangkan ammarah hanyalah lapisan yang menutupinya.

Karena itulah ayat tersebut melanjutkan dengan kalimat, “kecuali yang dirahmati Tuhanku.” Dalam penjelasan para ulama, rahmat di sini tidak hanya berarti ampunan setelah seseorang berbuat salah. Rahmat juga berarti segala bantuan Allah yang membuat manusia mampu bertumbuh dan memperbaiki dirinya. Rahmat dapat berupa hidayah, taufik, cahaya akal, ilmu yang benar, lingkungan yang baik, kekuatan untuk menahan hawa nafsu, kemampuan untuk melihat kesalahan diri, hingga dorongan untuk beribadah dan berdzikir.

Semua itu merupakan bentuk kerja rahmat Allah dalam kehidupan manusia. Artinya, seseorang tidak dapat keluar dari keadaan nafs ammarah hanya dengan mengandalkan keinginan ego semata. Ia memerlukan kesadaran, pembelajaran, latihan spiritual, dan pertolongan Ilahi yang terus-menerus.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa psikologi modern, gambaran ini cukup dekat dengan pemahaman tentang dua lapisan fungsi manusia. Pada lapisan bawah terdapat dorongan-dorongan yang berhubungan dengan kelangsungan hidup, kepuasan instan, impuls, agresi, dan kepentingan diri. Pada lapisan yang lebih tinggi terdapat kemampuan untuk merefleksikan diri, memahami makna, mempertimbangkan nilai moral, mengendalikan impuls, dan mengarahkan hidup menuju tujuan yang lebih besar.

Masalah muncul ketika lapisan bawah mengambil alih kendali. Saat itu pola yang terjadi menjadi sederhana: seseorang mengalami suatu peristiwa, muncul impuls otomatis, lalu ia langsung bereaksi tanpa kesadaran yang memadai. Pengalaman berubah menjadi impuls, impuls menjadi reaksi, dan reaksi menjadi perilaku. Dalam kerangka SAT (Self Awareness Transformation), keadaan ini sangat dekat dengan apa yang disebut Reactive-Predictive Mode, yaitu kondisi ketika hidup lebih banyak digerakkan oleh pola otomatis daripada oleh kesadaran yang hadir.

Namun, seluruh perjalanan spiritual bertujuan membalik struktur tersebut. Jika pada kondisi ammarah syahwat memimpin jiwa, maka pada kondisi yang lebih matang jiwa kembali memimpin syahwat. Dorongan-dorongan biologis tidak dihilangkan, tetapi ditempatkan pada posisi yang semestinya. Tubuh tetap memiliki kebutuhan, emosi tetap ada, dan keinginan tetap hadir, tetapi semuanya berada di bawah arahan kesadaran yang lebih tinggi. Inilah perjalanan yang digambarkan Al-Qur’an sebagai perpindahan dari nafs ammarah menuju nafs muthma’innah.

Dalam perspektif Hikmah Muta’aliyah, perjalanan ini bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan transformasi hakiki pada diri manusia. Jiwa bergerak secara bertahap dari tingkat keberadaan yang lebih rendah menuju tingkat yang lebih sempurna. Setiap kali seseorang mengembangkan kesadaran, mengendalikan impuls, memperkuat akal, membersihkan hati, dan mendekat kepada Allah, jiwanya mengalami peningkatan kualitas eksistensi.

Dengan demikian, kehidupan spiritual bukanlah usaha menjadi sesuatu yang asing bagi diri kita, melainkan proses kembali kepada identitas terdalam yang sejak awal telah ada dalam fitrah manusia. Perjalanan dari nafs ammarah menuju nafs muthma’innah pada akhirnya adalah perjalanan dari keterpecahan menuju keutuhan, dari reaktivitas menuju kesadaran, dan dari dominasi dorongan-dorongan rendah menuju kedekatan dengan Allah sebagai tujuan akhir seluruh gerak jiwa.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *