NUSANTARANEWS.co, Medan — Bencana hidrometeorologi meluas melanda Provinsi Sumatera Utara dalam beberapa pekan terakhir
Akibat pengaruh Siklon Tropis Senyar, yang terbentuk dari bibit siklon 95B di kawasan Selat Malaka. Fenomena cuaca ekstrem ini memicu hujan sangat lebat hingga ekstrem disertai angin kencang, sehingga menyebabkan banjir, tanah longsor, banjir pesisir, serta kerusakan infrastruktur dasar di berbagai wilayah.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Sumatera Utara, sedikitnya 13 kabupaten/kota terdampak, yakni Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Kota Padang Sidempuan, Kota Medan, Kota Binjai, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Langkat, Deli Serdang, dan Serdang Bedagai.
Dampak bencana menyebabkan ribuan warga mengungsi, kerusakan rumah dan fasilitas umum, serta terganggunya layanan air minum dan sanitasi.
Merespons kondisi tersebut, Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Jenderal Cipta Karya memperkuat langkah tanggap darurat dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, khususnya air bersih dan sanitasi.
BPBPK Sumut melakukan koordinasi intensif dengan pemerintah daerah, BPBD, BNPB, Basarnas, PDAM, TNI, Polri, PLN, Pertamina, Telkomsel, serta instansi terkait lainnya.
Untuk memudahkan pengendalian operasi, penanganan darurat dibagi ke dalam tiga klaster wilayah, masing-masing dengan posko utama di Pandan (Kabupaten Tapanuli Tengah), Sipirok (Kabupaten Tapanuli Selatan), dan Kota Medan. Pembagian klaster ini bertujuan mempercepat distribusi bantuan dan memastikan respons teknis berjalan efektif di wilayah terdampak.
“Hingga Jumát (26/12/2025) pukul 17.00 WIB, BPBPK Sumut telah memasang 106 unit hidran umum (HU) di berbagai titik pengungsian dan permukiman terdampak. 11 unit hidran umum di Tapanuli Utara, 5 Unit di Kota Medan, 13 Unit di Kab. Tapanuli Selatan, 18 Unit di Kab. Langkat, 37 Unit di Kab. Tapanuli Tengah dan 22 Unit di Kota Sibolga,” jelas jelas Staf BPBPK Sumut, Dani Hermansyah kepada media ini di Medan, Selasa 30/12/2025.
Distribusi air bersih juga diperkuat melalui pengoperasian 9 unit Mobil Tangki Air (MTA), dengan rincian 1 Unit di Kab. Tapanui Selatan, 3 Unit di Kab. Tapanuli Tengah, 2 Unit di Kota Sibolga, 1 Unit di Kab. Tapanuli Utara dan 2 Unit di Kab. Langkat. Sementara itu, 1 unit Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mobile dioperasikan di Tepi Sungai Sibuluan Dekat Tugu Kota Pandan Kecamatan Pandan, Kabupaten Tapanuli Tengah,
Untuk mendukung pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat. katanya, IPA Mobile sendiri berfungsi untuk mengolah air kotor yang bercampur lumpur dari sungai menjadi air bersih.
Dari sisi sanitasi, pemerintah menyiagakan 15 unit toilet portable dan 7 unit biority yang ditempatkan di lokasi-lokasi pengungsian, terutama di Kabupaten Langkat, Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Selatan. Upaya ini dilakukan untuk menjaga kesehatan lingkungan dan menekan risiko munculnya penyakit berbasis air dan sanitasi di tengah situasi darurat.
Secara kumulatif, penanganan darurat air bersih di Sumatera Utara telah menyalurkan lebih dari 2,8 juta liter air kepada masyarakat terdampak. Namun demikian, layanan air minum perpipaan di sejumlah daerah masih belum pulih sepenuhnya akibat kerusakan intake, pipa transmisi, serta instalasi pengolahan air yang tertimbun sedimen banjir dan material longsor.
BPBPK Sumut menyatakan, setelah fase tanggap darurat berakhir, pemerintah akan melanjutkan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, termasuk pembangunan kembali infrastruktur air minum dan sanitasi yang mengalami kerusakan berat. Pemerintah berharap sinergi lintas sektor dan dukungan seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat pemulihan layanan dasar dan kehidupan masyarakat Sumatera Utara pascabencana.(bay)












