Wahm VS Niat Sadar: Dari Motivasi Defensif Menuju Motivasi  Yang Lebih Tinggi Kualitasnya

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam tradisi filsafat dan tasawuf Islam, wahm dipahami sebagai kemampuan batin yang membentuk gambaran tentang realitas, tetapi gambaran ini bukan bersumber dari kebenaran yang sesungguhnya. Wahm bekerja melalui dugaan, ketakutan, dan bayangan mental, sehingga apa yang dirasakan tampak nyata, padahal belum tentu benar secara hakiki.

Dalam bahasa modern, wahm dapat dijelaskan sebagai cara otak menafsirkan situasi secara otomatis ketika merasa terancam. Ia muncul sebagai cerita tentang diri yang dipenuhi asumsi dan kecemasan, serta sebagai respons sistem saraf yang membaca lingkungan seolah-olah tidak aman, meskipun ancaman nyata belum tentu ada.

Ketika wahm menjadi dominan, cara seseorang memandang dunia ikut berubah. Ancaman kecil terasa besar, masa depan dibayangkan penuh kemungkinan buruk, dan identitas diri menyempit menjadi sesuatu yang harus terus dijaga dan dilindungi. Dalam keadaan seperti ini, dorongan untuk bertindak jarang lahir dari makna atau pilihan sadar. Motivasi lebih sering bersifat defensif, misalnya karena takut pada hukuman, konsekuensi, rasa malu, atau rasa bersalah. Tindakan dilakukan bukan karena kesadaran, melainkan karena dorongan untuk menghindari rasa tidak aman.

Yang penting dipahami, wahm tidak hanya bekerja di tingkat pikiran. Ia menyatu dengan sensasi tubuh, seperti tegang, gelisah, atau tidak nyaman. Karena itu, nasihat logis atau penjelasan rasional seringkali tidak cukup untuk mengubah motivasi seseorang. Walaupun secara akal ia “mengerti”, namun tubuhnya masih membaca situasi sebagai ancaman. Selama sinyal bahaya ini tetap aktif di dalam tubuh, wahm akan terus memengaruhi cara merasa, berpikir, dan bertindak.

Sebagai contoh, seseorang yang ingin memulai usaha kecil. Secara logis, ia sudah menghitung modal, memahami risiko, dan bahkan melihat peluang yang cukup realistis. Namun ketika wahm mengambil alih, pikirannya dipenuhi bayangan semu tentang kegagalan: “Bagaimana kalau usaha ini bangkrut?”, “Bagaimana kalau orang lain menertawakan saya?”, atau “Bagaimana kalau saya mengecewakan keluarga?”. Masa depan yang belum terjadi diperlakukan seolah-olah sudah pasti buruk.

Bayangan ini segera diikuti respons tubuh. Dada terasa sesak, pikiran sulit fokus, dan muncul dorongan untuk menunda atau membatalkan langkah. Tubuh membaca ketidakpastian sebagai ancaman, sehingga motivasi yang muncul bukan lagi dorongan untuk belajar dan bertumbuh, melainkan dorongan untuk menghindari rasa takut. Ia akhirnya tetap bekerja di zona aman, bukan karena itu pilihan terbaik, tetapi karena tubuhnya mencari rasa aman semu.

Dalam situasi ini, wahm mengubah arah motivasi. Keputusan tidak diambil berdasarkan kesadaran akan potensi dan makna, melainkan berdasarkan ketakutan akan rasa malu, kegagalan, atau penilaian orang lain. Walaupun secara akal ia tahu bahwa setiap usaha memiliki risiko dan peluang belajar, selama tubuh masih terikat pada sinyal ancaman, wahm akan terus memimpin cara berpikir dan bertindak.

Jika wahm menjadi penggerak utama motivasi defensif, maka niat berperan sebagai kunci untuk menggeser motivasi menuju kualitas yang lebih sehat dan lebih tinggi. Dalam kerangka Self Awareness Transformation (SAT), niat tidak dipahami sekadar sebagai keinginan, harapan, atau afirmasi positif. Juga bukan sebagai dorongan keras yang memaksa seseorang untuk bertindak, melainkan sebagai arah kesadaran yang disadari secara tenang. Niat dipahami sebagai arah kesadaran yang disadari, dipilih, dan dihidupi. Niat berfungsi seperti kompas batin: ia memberi kejelasan ke mana seseorang hendak melangkah, menghadirkan kesediaan untuk berjalan di arah tersebut, dan menautkan tindakan dengan makna yang dirasakan relevan. Karena itu, niat dalam SAT tidak bekerja melalui tekanan atau paksaan, tetapi melalui pemahaman dan keterhubungan batin terhadap apa yang sedang dijalani.

Artinya, kita secara sadar menentukan dari “tempat batin” mana kita akan bertindak, apakah dari rasa terancam atau dari kesadaran yang lebih jernih. Niat berfungsi sebagai penentu arah energi batin. Perilaku yang tampak sama di luar dapat memiliki dampak yang sangat berbeda di dalam, tergantung niat yang melandasinya. Ketika seseorang bertindak dengan niat sekadar bertahan hidup atau menghindari masalah, aktivitas tersebut cenderung terasa berat dan menguras energi.

Sebaliknya, ketika tindakan yang sama dijalani dengan niat untuk belajar, bertumbuh, atau memberi makna, pengalaman batin menjadi lebih menguatkan. Bukan karena tantangannya hilang, tetapi karena pusat penggeraknya berubah.

Saat niat lahir dari kesadaran, ancaman tidak lagi menjadi fokus utama. Ego yang sebelumnya tegang dan defensif mulai melembut, dan tubuh perlahan membaca situasi sebagai lebih aman. Pergeseran ini sejalan dengan temuan psikologi modern, khususnya Self-Determination Theory (SDT), yang menunjukkan peralihan dari controlled motivation – dorongan karena tekanan, rasa takut, atau kewajiban – menuju autonomous motivation, yaitu dorongan yang lahir dari pilihan sadar dan makna personal.

Secara fisiologis, perubahan ini juga tercermin dalam aktivasi sistem saraf yang lebih regulatif, khususnya jalur ventral vagal, yang mendukung rasa aman, keterhubungan, dan kapasitas untuk berfungsi secara optimal.

Niat dan pilihan sadar merupakan fondasi awal dari perubahan perilaku yang berkelanjutan. Sebelum perilaku benar-benar berubah, terlebih dahulu terjadi pergeseran di tingkat kesadaran, yaitu saat kita menyadari bahwa kita tetap memiliki pilihan, bahkan ketika situasinya terbatas. Kesadaran akan pilihan ini langsung memengaruhi kualitas motivasi. Ketika kita berkata dalam diri, “Saya memilih melakukan ini”, tubuh menerima pesan bahwa diri kita tidak sedang berada dalam ancaman. Pesan sederhana ini menurunkan respons defensif, membuat sistem saraf lebih tenang, dan membuka ruang bagi munculnya makna dalam tindakan yang dijalani.

Sebagai contoh, seseorang yang harus merawat anggota keluarga yang sakit. Jika ia menjalani peran tersebut dengan perasaan terpaksa – “Saya tidak punya pilihan lain” – tubuh cenderung tegang, mudah lelah, dan cepat jenuh. Namun ketika ia menyadari bahwa di balik keterbatasan itu tetap ada pilihan batin – misalnya memilih untuk merawat sebagai bentuk kasih dan tanggung jawab – kualitas pengalamannya berubah. Tugas yang sama tetap dijalani, tetapi tubuh terasa lebih tenang, emosi lebih stabil, dan motivasi menjadi lebih bertahan lama. Perubahan ini bukan karena situasinya berbeda, melainkan karena niat dan pilihan sadar yang melandasinya. Niat yang jernih mengirimkan sinyal yang jelas ke tubuh dan sistem saraf: “aku memilih untuk melangkah”, bukan “aku harus bergerak karena terpaksa”.

Niat yang sehat dan selaras dengan kesadaran memiliki ciri-ciri yang cukup jelas. Ia ditandai oleh ketenangan, bukan ketegangan; oleh konsistensi langkah, bukan ledakan semangat sesaat; serta oleh keterlibatan yang utuh, bukan rasa keterpaksaan. Kita tetap bergerak dan berusaha, tetapi tanpa dorongan panik atau tekanan berlebihan. Inilah fondasi dari motivasi intrinsik, yaitu motivasi yang lahir dari dalam diri, dan yang memungkinkan ketekunan jangka panjang tanpa harus terus-menerus dipaksa oleh rasa takut atau tekanan eksternal.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *