banner 728x250
OPINI  

Pompanisasi Solusi Strategis Meningkatkan Produksi Pertanian di Jawa Timur

Andhika Wahyudiono

Oleh: Andhika Wahyudiono*

Pertanian merupakan sektor vital bagi perekonomian Indonesia, yang menyumbang secara signifikan terhadap penyediaan pangan nasional serta menciptakan lapangan kerja bagi jutaan petani di seluruh negeri. Di tengah tantangan perubahan iklim, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengambil inisiatif yang proaktif dengan memimpin Apel Siaga Alat Mesin Pertanian (Alsintan) di Provinsi Jawa Timur, yang menyoroti pentingnya pompanisasi dalam meningkatkan luas tanam dan produksi pertanian.

Menurut Amran, pompanisasi adalah solusi cepat dan tepat dalam menangani fenomena El Nino yang dapat mengganggu pola tanam dan produksi pertanian. Dalam konteks ini, pompanisasi dianggap sebagai langkah strategis yang dapat memberikan dampak positif signifikan dalam mencapai target produksi untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Lebih lanjut, Amran menjelaskan bahwa pompa air ini memiliki potensi untuk mendukung petani dalam meningkatkan efisiensi waktu dan tenaga dalam proses menanam dan berproduksi, yang pada gilirannya akan mempercepat laju produksi secara maksimal. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur pompanisasi menjadi sebuah investasi yang berpotensi memberikan hasil yang optimal dalam meningkatkan produktivitas pertanian.

Provinsi Jawa Timur, yang dikenal sebagai salah satu daerah lumbung pangan nasional, memiliki peran sentral dalam menyumbangkan sebagian besar produksi padi untuk kebutuhan nasional. Dengan kurang lebih 380 ribu hektare lahan tadah hujan, potensi pertanian Jawa Timur sangat besar. Amran optimis bahwa implementasi sistem pompanisasi akan mampu memaksimalkan pemanfaatan lahan pertanian, khususnya dalam meningkatkan luas tanam di sekitar 300 ribu hektare lahan tersebut. Dengan demikian, tidak hanya dapat mencapai target produksi yang signifikan, tetapi juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor beras, yang selama ini menjadi salah satu tantangan dalam keberlanjutan ketahanan pangan nasional.

Adhy Karyono, Pejabat Gubernur Jawa Timur, menegaskan bahwa Jawa Timur tetap mempertahankan posisinya sebagai produsen padi terbesar di Indonesia. Dengan kontribusi sebesar 17,9 persen terhadap produksi padi nasional dalam periode 2020-2023, Jawa Timur telah membuktikan peran strategisnya dalam menyokong ketahanan pangan nasional. Meskipun terdapat dampak dari fenomena El Nino yang mempengaruhi pola tanam dan produksi pertanian, namun dengan adanya inisiatif pompanisasi, Adhy yakin bahwa persoalan ketersediaan air untuk pertanian dapat teratasi secara efektif.

Langkah konkret yang diambil oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dengan mengalokasikan 3.700 unit pompa air merupakan sebuah langkah yang sangat signifikan dalam mendukung sektor pertanian di Jawa Timur. Bantuan tersebut, senilai Rp113,9 miliar, mencakup lebih dari 60.000 hektare lahan pertanian, menunjukkan komitmen nyata pemerintah dalam memperkuat infrastruktur pertanian di tingkat daerah. Keputusan ini tidak hanya sekadar upaya memenuhi kebutuhan praktis, tetapi juga sebagai wujud dari keseriusan pemerintah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim serta dalam meningkatkan produktivitas sektor pertanian secara berkelanjutan.

Pompanisasi menjadi sebuah strategi yang penting dalam menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi oleh petani, terutama di daerah dengan pola tanam yang terpengaruh oleh faktor iklim. Dengan memperkenalkan teknologi pompa air, petani akan mampu mengoptimalkan penggunaan sumber daya air, yang merupakan salah satu aspek krusial dalam keberhasilan produksi pertanian. Dukungan yang diberikan oleh pemerintah pusat dan daerah sangatlah penting dalam menjembatani kesenjangan infrastruktur di daerah pedesaan, sehingga teknologi tersebut dapat diakses oleh seluruh petani tanpa terkecuali.

Pentingnya peran petani dalam mengadopsi teknologi pompanisasi tidak dapat dilebih-lebihkan. Keterlibatan aktif dari para petani dalam memahami, menguasai, dan menerapkan teknologi ini menjadi kunci utama dalam keberhasilan implementasi pompanisasi. Edukasi dan pelatihan teknis perlu diberikan secara berkelanjutan agar petani dapat memanfaatkan teknologi ini secara efektif dan efisien. Selain itu, pendekatan partisipatif juga sangat diperlukan dalam merumuskan kebijakan yang lebih inklusif dan sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan.

Namun, langkah-langkah tersebut masih memerlukan dukungan yang lebih luas dari berbagai pihak terkait, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta, lembaga riset, organisasi petani, dan masyarakat umum. Kolaborasi antarstakeholder menjadi kunci dalam membangun ekosistem yang mendukung bagi pertanian berkelanjutan. Investasi dalam riset dan pengembangan juga perlu ditingkatkan untuk menciptakan teknologi yang lebih inovatif dan ramah lingkungan guna meningkatkan daya saing sektor pertanian Indonesia di pasar global.

Lebih dari sekadar alat teknis, pompanisasi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan, terutama dalam hal pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan kesejahteraan petani. Melalui peningkatan produktivitas pertanian, diharapkan dapat tercipta lapangan kerja yang lebih luas, pengurangan kemiskinan, dan peningkatan taraf hidup masyarakat pedesaan. Selain itu, dengan meningkatnya produksi pertanian, Indonesia dapat menjadi lebih mandiri secara pangan dan mengurangi ketergantungan terhadap impor pangan dari luar negeri.

Pompanisasi juga memberikan dampak positif dalam hal pengelolaan sumber daya alam, terutama air. Dengan adanya sistem pompa air yang efisien, penggunaan air pertanian dapat dioptimalkan sehingga mengurangi risiko kekeringan dan konflik air di masa yang akan datang.

Selain itu, dengan adanya infrastruktur irigasi yang baik, terjadinya erosi tanah dapat diminimalkan, yang pada akhirnya akan mendukung keberlangsungan lingkungan hidup di sekitar area pertanian.

Meskipun demikian, tantangan-tantangan yang dihadapi dalam implementasi pompanisasi tidak dapat diabaikan. Masih terdapat beberapa kendala teknis, ekonomi, dan sosial yang perlu diatasi, seperti biaya investasi yang tinggi, kurangnya akses terhadap teknologi di daerah terpencil, serta perubahan pola hidup dan kebiasaan petani yang sulit untuk diubah. Oleh karena itu, dibutuhkan langkah-langkah konkret dalam menyediakan fasilitas pembiayaan yang terjangkau, memperluas jaringan distribusi teknologi, dan meningkatkan kapasitas petani dalam mengelola dan merawat infrastruktur pompanisasi.

Dalam konteks Jawa Timur, sebagai salah satu provinsi dengan kontribusi besar terhadap produksi padi nasional, implementasi pompanisasi dapat menjadi katalisator bagi kemajuan pertanian di wilayah tersebut. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, petani, dan berbagai pihak terkait, diharapkan bahwa Jawa Timur dapat memperkuat posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani di daerah tersebut.

Secara keseluruhan, pompanisasi bukan hanya sekadar solusi teknis dalam meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga merupakan bagian integral dari strategi pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kesejahteraan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan dukungan yang kuat dari semua pihak, diharapkan bahwa implementasi pompanisasi dapat memberikan dampak yang signifikan dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional, mengurangi kemiskinan, dan menciptakan pertanian yang lebih berkelanjutan dan inklusif bagi semua pihak yang terlibat.

*) Dosen UNTAG Banyuwangi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *