BUDAYA  

Therapy Spiritual Untuk Akhlak, Etika dan Moral Yang Bobrok

Jacob Ereste

Oleh Yacob Ereste *) 

Kalkulasi keuntungan atau kemajuan dalam bidang ekonomi bisa ditakar dengan omset perusahaan atau warung kelontong yang kita punya. Demikian juga dengan kalkulasi keuntungan atau kemajuan dalam bidang politik masih bisa diukur dengan perolehan suara dalam Pemilu atau Pilkada.

Tetapi, ketika inngin mengukur atau mengkalkulasi keuntungan atau kemajuan dalam bidang budaya, nafas kita sudah mulai tersengal-sengal untuk menghitungnya, dari sisi mana harus bisa dilakukan. Sebab, kalau hanya ukurannya pementasan teater atau ramainya acara pembacaan puisi, kayaknya masih bisa menjadi perdebatan.

Artinya, tak ada angka pasti yang bisa dijadikan standar ukuran. Sebab budaya makan ikan itu, pun sangat sulit untuk dijadikan indikator dari penakar kemajuan atau kemerosotan budaya kita. Setidaknya, bisa saja ikan yang bisa ditangkap atau dibudidayakan oleh para nelayan atau petambak itu sedang mengalami masalah, tapi juga sangat mungkin karena warga masyarakat sendiri sedang kesulitan finansial (keuanga) karena tata kelola ekonomi kita tidak mampu dimanage oleh negara, karena para aparatnya sibuk memperkaya diri, termasuk mungkin juga ikut melakukan pennunan minyak goreng untuk dijadikan komoitas politik menghadapin Pilkada atau bahkan Pilpres yang sedemikian birahinya untuk dipersiapkan sejak setahun lalu hingga tiga tahun ke depan.

Lantas bagaimana melakukan kalkulasi kemajuan atau keuntungan untuk laku spiritual, ibadhah, pendalaman religi dan sehenisnya yang lebih bersifat batiniah ?

Dan bagaimana pula menakar kemajuan atau keuntungan untuk hal-hal yang berkaitan dengan upaya mendekatkan diri dengan Illahi Rabbi yang kita percaya dengan sebutan Tuhan Yang Maha Esa ?

Kesulitan yang lebih rumit inilah sesungguhnya sebagai bagian dari yang meyakinkan kita sangat percaya pada Maha Besarnya Allah itu yang tidak mungkin terjamah oleh manusia, hingga ada semacam klasifikasi tingkat kemampuan dari mamusia selevel Nabi atau Rabbi, Rasul, Wali dan para Ulama serta ustad dan manusia awam.

Tentu saja, saya sebagai manusia awam wahar bila merasa jadi lebih tertarik menyoal eksistensi manusia awam yang merasa tertarik membandingkan logika berpikir ekonomi, politik, budaya dan spiritual yang dominan berada pada wilayah agama, sehingga selalu merasa semua masalah tidak bisa terlepas dari urusan dengan Tuhan.

Jadi dengan cara dan kemampuan berpikir awam seperti itulah, kita sesungguhnya bisa memahami masalah carut marut di negeri ini — betapa bobroknya ekonomi, alangkah paranya kerusakan politik yang sontoloyo dan betapa mengerikan bangkrutnya budaya kita hingga tidak mungkin lagi bisa disembuhkan dengan therapi spiritual.

Sehingga dengan begitu tiap orang dapat kembali meyakini dan percaya bahwa menimbun minyak goreng dan pupuk itu haram, karena sikap dan sifat dari perlakuan srperti itu adalah kecurangan dan tamak serta egoistik, anti kebersamaan dan tidak memiliki sifat manusiawi yang tenggang rasa, solider (gotong royong), individualistik (tiada ada rasa persaudaraan seperti yang selalu ditekankan dalam agama agar mau terus menjalin silaturtachmi), sehingga kedamaian dan kenyamanan di bumi bisa kita nikmati bersama, tidak lagi kalian monopoli secara sepihak, sehingga kami pun ikut merasakannya.

Jadi jelas, carut marut bangsa dan negara Indonesia tidak cukup mampu diatasi oleh mereka yang pintar dan cerdas semata, justru negeri ini rusak lantaran kecerdasan dan kepintaran mereka yang culas, tak punya etika, tak punya moral dan akhlak.

*) pemerhati budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *