Umum  

Pengamat : Manajemen Komunikasi Publik Pemerintah Harus Dibenahi

Pengamat komunikasi Politik, Emrus Sihombing

 

NUSANTARA-NEWS.co, Jakarta – Pengamat komunikasi Politik, Emrus Sihombing mengatakah bahwa mudik di tahun 2021 tersebut Hanya berselang kurang dari dua pekan dalam bulan ini, dua menteri mengeluarkan pendapat berseberangan tentang mudik lebaran yang bisa membuat bingung masyarakat. Menteri yang satu mengatakan, pemerintah tidak akan melarang mudik Lebaran. Menteri lain mengemukakan, larangan mudik.

Menteri Perhubungan menyatakan, pemerintah tidak akan melarang masyarakat untuk mudik pada Lebaran 2021 (Kompas.com, Selasa, 16 Maret 2021). Sementara Menko PMK mengemukakakan, larangan mudik akan mulai pada 6-17 Mei 2021 (Kompas.com, Jumat, 26 Maret 2021).

“Perbedaan ini, dari aspek ilmu komunikasi, menunjukkan bahwa pengelolaan komunikasi publik pemerintah sampai saat ini masih lemah dan harus dibenahi secepatnya agar tidak terjadi berulang-ulang.” Ujar Emrus Sihombing

“Untuk itu, saya menyarankan kepada Presiden dua hal. Pertama, sudah mendesak dilakukan re-manajemen komunikasi publik pemerintah agar yang selama ini terjadi tidak terulang dengan mengangkat pembantu presiden bidang komunikasi publik dari seorang komunikolog handal (menguasai konsep, metode, teori serta aksiologi komunikasi) dan dikenal di ruang publik untuk mengelola dan mengkoordinir keseluruhan komunikasi pemerintah. Ia sejatinya sekaligus berperan sebagai “penasehat” Presiden bidang komunikasi.” Lanjut Emrus.

Dengan demikian, wacana publik semua hal yang terkait dengan fungsi dan tugas pemerintah dapat lebih “terjaga” dengan baik.

“Kedua, menteri yang belum paham betapa substantifnya fungsi dan peran komunikasi publik dalam pengelolaan pemerintahan sebaiknya “cuti” dulu untuk belajar (kuliah) tentang konsep dasar, teori komunikasi dan aksiologi komunikasi setidaknya dua semester. “Papar Emrus.

“Jika pengetahuan dasar saja tentang ilmu komunikasinya belum memadai, maka pengelolaan komunikasi publik akan terus bermasalah sehingga masyarakat menjadi “korban” dari perilaku komunikasi publik para menteri tersebut.” Jelas Emrus.

( Tijani )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *