Oleh: Syahril Syam *)
Banyak kasus trauma tidak kunjung sembuh bukan karena peristiwanya terlalu berat, melainkan karena batin masih menolak kenyataan bahwa peristiwa itu memang pernah terjadi. Penolakan ini membuat masa lalu tidak benar-benar tinggal di masa lalu, tetapi terus terbawa ke masa kini. Akibatnya, tubuh dan jiwa seolah hidup dalam bayang-bayang kejadian lama, meskipun secara waktu peristiwa itu sudah lama berlalu.
Penolakan batin ini sering muncul dalam bentuk kalimat internal yang tampak wajar, seperti: “Seharusnya ini tidak terjadi”, atau “Ini tidak boleh menjadi bagian dari hidup saya”. Kalimat-kalimat ini terlihat seperti ekspresi ketidakadilan yang manusiawi. Namun secara tidak sadar, penolakan semacam ini membuat jiwa terus bernegosiasi dengan masa lalu. Tubuh pun gagal memindahkan peristiwa tersebut ke kategori “sudah selesai”. Dalam bahasa sederhana: tubuh belum mendapat sinyal bahwa ancaman itu sudah berakhir.
Di sinilah letak masalah utama trauma. Sistem saraf orang yang mengalami trauma berada dalam kondisi ancaman ekstrem. Otak dan tubuh tidak memproses peristiwa sebagai sesuatu yang telah berlalu, tetapi sebagai bahaya yang masih berlangsung hingga sekarang. Karena itu, reaksi yang muncul bukan sekadar “tidak suka” atau “sedih”, melainkan respons biologis seperti pembekuan (freeze), penghindaran (avoidance), penolakan batin yang refleks, atau bahkan kebencian yang sangat intens terhadap peristiwa tersebut. Semua ini merupakan mekanisme proteksi biologis-psikologis yang bertujuan menjaga kelangsungan hidup.
Masalahnya, banyak orang keliru memahami proses penyembuhan trauma. Ada anggapan bahwa menerima trauma berarti menyukai peristiwa itu atau membenarkan pelakunya. Dari sinilah muncul konflik batin seperti: “Kalau saya menerima kejadian itu, berarti saya membenarkan apa yang terjadi”, atau “Kalau saya berhenti membenci peristiwa itu, berarti saya mengkhianati diri saya sendiri”. Pandangan ini keliru secara psikologis dan juga keliru secara filosofis. Ia mencampuradukkan antara fakta, emosi, dan penilaian moral.
Padahal, inti dari paradoks trauma justru terletak pada kemampuan menerima fakta tanpa harus mencintai peristiwa. Yang dimaksud menerima di sini adalah mengakui bahwa peristiwa itu memang terjadi dan mengakui bahwa dampaknya nyata pada tubuh dan jiwa. Namun, menerima samasekali tidak mewajibkan seseorang untuk menyukai peristiwa tersebut, membenarkan tindakan pelaku, dan menganggapnya sebagai sesuatu yang baik.
Sebagai contoh sederhana: seseorang yang pernah mengalami kecelakaan serius tidak perlu “menyukai” kecelakaan itu agar bisa pulih. Ia cukup mengakui bahwa kecelakaan tersebut memang terjadi dan tubuhnya sempat terluka. Dengan pengakuan ini, tubuh bisa mulai memproses kejadian itu sebagai sesuatu yang sudah selesai, bukan ancaman yang masih aktif. Sebaliknya, jika ia terus berkata dalam batin, “Ini seharusnya tidak pernah terjadi”, tubuh akan tetap berada dalam mode siaga, seolah kecelakaan itu masih mungkin terulang setiap saat.
Karena itu, penting dipahami bahwa menerima ≠ membenarkan, menerima ≠ mencintai peristiwa. Menerima adalah langkah biologis dan psikologis agar sistem saraf bisa menutup siklus ancaman. Di sinilah penyembuhan trauma mulai bekerja: bukan dengan memaksa diri untuk berdamai secara emosional, tetapi dengan membiarkan tubuh akhirnya menyadari bahwa peristiwa itu memang nyata – dan bahwa ia sudah berlalu.
Oleh karenanya, pertanyaan tentang “membenci peristiwa” adalah titik yang sangat krusial dalam memahami trauma. Membenci peristiwa traumatis pada dasarnya adalah respons yang wajar dan sehat secara emosional, terutama pada trauma berat seperti kekerasan, pengkhianatan, atau kehilangan mendalam. Kebencian dalam konteks ini bukanlah sesuatu yang salah. Justru ia menandakan bahwa sistem moral masih berfungsi, bahwa diri masih memiliki batas, dan bahwa mekanisme perlindungan diri masih hidup. Tanpa reaksi ini, seseorang justru patut dicurigai mengalami mati rasa emosional.
Namun, masalah mulai muncul ketika kebencian tersebut berubah menjadi kebencian kronis yang terus dipelihara dalam jangka panjang. Dalam kondisi ini, kebencian tidak lagi berfungsi sebagai sinyal perlindungan, melainkan menjadi pengikat energi batin pada peristiwa masa lalu. Secara biologis, kebencian yang terus aktif membuat sistem saraf tetap menandai peristiwa tersebut sebagai ancaman yang belum selesai. Akibatnya, energi psikis terus mengalir ke masa lalu, dan tubuh tetap berada dalam mode siaga, seolah bahaya itu masih terjadi sekarang.
Dari sudut pandang SAT (Self Awareness Transformation), inilah perbedaan penting yang sering tidak disadari. Yang perlu dilepas dalam proses penyembuhan bukanlah kebencian moral terhadap peristiwa, melainkan keterikatan energi pada peristiwa tersebut. Artinya, seseorang boleh tetap menilai peristiwa itu salah, tidak adil, atau menyakitkan, tetapi tidak lagi mengikat seluruh sistem sarafnya pada memori itu. Fokusnya bukan pada mengubah penilaian moral, melainkan pada membebaskan tubuh dari kewajiban untuk terus berjaga.
Paradoks trauma versi SAT dapat dirangkum dalam satu sikap batin yang sederhana namun sangat dalam: “Saya tidak menyukai peristiwa itu. Saya tidak membenarkannya. Tetapi saya berhenti melawan fakta bahwa peristiwa itu pernah terjadi.” Di sinilah letak kuncinya. Ketika seseorang berhenti melawan kenyataan, sistem saraf mulai menerima sinyal aman. Tubuh perlahan memahami bahwa ancaman tersebut tidak lagi berlangsung. Namun pada saat yang sama, karena tidak dipaksa untuk mencintai atau membenarkan peristiwa, integritas diri dan nilai moral tetap terjaga.
Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami perlakuan tidak adil di tempat kerja boleh tetap menilai kejadian itu salah dan menyakitkan. Ia tidak harus menyukai perlakuan tersebut. Tetapi ketika ia berhenti menghabiskan energi batin untuk melawan kenyataan bahwa peristiwa itu pernah terjadi, tubuhnya tidak lagi terjebak dalam ketegangan setiap kali mengingatnya. Memori tetap ada, tetapi tidak lagi memicu reaksi ancaman yang berlebihan.
Dengan demikian, trauma tidak disembuhkan dengan cara melupakan peristiwa, apalagi meniadakan emosi yang muncul darinya. Trauma justru mulai pulih ketika kita berhenti melawan fakta bahwa peristiwa itu memang pernah terjadi. Pada saat perlawanan batin berhenti, sistem saraf mendapatkan ruang untuk kembali ke keadaan aman, dan energi hidup dapat kembali mengalir ke masa kini.
@pakarpemberdayaandiri










