Oleh Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
Mengapa rupiah terus melemah hingga menembus Rp17.670 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh rekor sekitar Rp17.668 pada 18 Mei 2026? Mengapa rupiah tidak juga bangkit meski Bank Indonesia sudah masuk ke pasar, Kementerian Keuangan mengaktifkan Bond Stabilization Fund, dan pemerintah berkali-kali menegaskan bahwa fundamental ekonomi kita kuat?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan sekadar soal teknikal nilai tukar. Ini adalah pertanyaan tentang kepercayaan.
Kurs bukan sekadar angka di layar Bloomberg atau papan penukaran uang di bandara. Kurs adalah termometer. Ketika suhu tubuh naik tinggi, dokter tidak cukup hanya menurunkan angka di termometer; ia harus menemukan dan mengobati sumber infeksinya.
Itulah analogi yang paling tepat untuk menggambarkan krisis rupiah hari ini: kita terlalu sibuk mendinginkan termometer, sementara sumber demamnya belum benar-benar disentuh.
Geopolitik Hanyalah Hujan Deras, Bukan Satu-satunya Masalah
Banyak pihak menuding ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai biang keladi. Tuduhan itu tidak sepenuhnya salah.
Konflik di Timur Tengah mendorong harga minyak menembus lebih dari US$110 per barel, memaksa investor global berlindung ke aset aman, dan membuat dolar menguat terhadap hampir semua mata uang negara berkembang. Dalam konteks itu, rupiah memang ikut terseret.
Namun menyalahkan geopolitik saja adalah penyederhanaan yang berbahaya.
Geopolitik adalah hujan deras. Tetapi rumah yang bocor tidak roboh hanya karena hujan; ia roboh karena gentengnya sudah rapuh jauh sebelum hujan turun. Dalam kasus rupiah, genteng rapuh itu bernama kombinasi kerentanan fiskal, persepsi investor terhadap transparansi pasar, dan kekhawatiran atas arah kebijakan dalam negeri.
Lihat datanya. APBN 2026 disusun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS dan harga minyak US$70 per barel. Kedua angka itu sudah jauh tertinggal dari realitas pasar. Pemerintah mengalokasikan subsidi dan kompensasi energi sekitar Rp381,3 triliun, tetapi tekanan minyak akibat konflik Timur Tengah diperkirakan menambah kebutuhan subsidi hingga sekitar US$5,9 miliar.
Ini Artinya, investor melihat lingkaran setan yang tidak mudah diputus: rupiah melemah membuat subsidi energi makin mahal dalam rupiah, subsidi makin mahal membuat defisit fiskal terancam melebar, dan defisit yang dipersepsikan berat membuat rupiah kembali tertekan.
Intervensi Adalah Rem Tangan, Bukan Mesin Pemulihan
Bank Indonesia sesungguhnya tidak diam. Tujuh strategi sudah disiapkan dan mendapat persetujuan Presiden, mencakup penguatan intervensi di pasar valas domestik dan global, penjagaan arus modal, hingga penguatan koordinasi fiskal-moneter.
Kementerian Keuangan mengaktifkan Bond Stabilization Fund untuk menahan tekanan di pasar Surat Berharga Negara agar yield tidak melonjak dan aksi jual asing tidak menular lebih jauh ke kurs.
Cadangan devisa masih berada di angka US$146,2 miliar per akhir April 2026, turun dari US$148,2 miliar pada bulan sebelumnya, tetapi masih setara sekitar 5,8 bulan impor dan masih di atas standar kecukupan internasional.
Semua itu langkah yang benar. Tetapi pasar tidak hanya bertanya apakah BI punya dolar untuk dijual hari ini. Pasar bertanya apakah Indonesia punya disiplin kebijakan untuk menjaga stabilitas dalam enam bulan hingga satu tahun ke depan.
Di situlah letak persoalan yang sesungguhnya. Intervensi adalah rem tangan yang bisa memperlambat mobil meluncur ke jurang, tetapi tidak bisa menggantikan mesin yang bertenaga. Mesin itu adalah kepercayaan.
BI mempertahankan BI Rate di 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur April 2026, dengan pertimbangan menjaga stabilitas di tengah memburuknya kondisi global. Keputusan itu bisa dipahami.
Tetapi jika tekanan rupiah terus berlanjut dan ekspektasi inflasi mulai bergerak naik, opsi kenaikan suku bunga 25 hingga 50 basis poin perlu dibuka sebagai sinyal bahwa BI serius menjaga stabilitas. Kenaikan suku bunga memang punya efek samping, kredit lebih mahal dan konsumsi tertahan, tetapi dalam kondisi darurat kepercayaan, sinyal tegas terkadang lebih berharga dari sekadar menjaga kenyamanan jangka pendek.
Ketika Pasar Modal Ikut Angkat Koper
Ada faktor lain yang memperburuk tekanan pada rupiah, dan ini sering luput dari diskusi publik. MSCI menghapus sejumlah emiten Indonesia dari indeksnya karena kekhawatiran soal transparansi dan konsentrasi kepemilikan.
Dampaknya bukan hanya ke harga saham, tetapi juga ke rupiah, karena investor asing membaca kebijakan itu sebagai sinyal bahwa tata kelola pasar modal Indonesia sedang dipertanyakan.
Bersamaan dengan itu, Moody’s memangkas outlook Indonesia menjadi negatif pada Februari 2026 karena kekhawatiran atas prediktabilitas kebijakan. Fitch menyusul pada Maret 2026, merevisi outlook menjadi negatif dengan sorotan serupa pada risiko kredibilitas institusi.
Ini mengubah narasi secara fundamental. Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar cerita tentang dolar yang sedang kuat di seluruh dunia. Ini adalah cerita tentang Indonesia yang sedang diminta membayar premi risiko yang lebih mahal, karena investor global melihat sesuatu yang membuat mereka tidak sepenuhnya nyaman menaruh uang di sini.
Tidak semua negara berkembang dihukum sama dalam episode risk-off global ini. Negara dengan fiskal yang kredibel, komunikasi kebijakan yang konsisten, dan tata kelola pasar yang transparan biasanya lebih tahan. Pertanyaannya bukan mengapa investor menghindari emerging market, melainkan mengapa Indonesia dianggap lebih rentan dibanding yang lain.
Tiga Hal yang Harus Dilakukan Sekarang
Rupiah membutuhkan lebih dari intervensi pasar. Rupiah membutuhkan pemulihan kepercayaan, dan kepercayaan tidak dibangun dengan pernyataan. Kepercayaan dibangun dengan angka yang bisa diuji dan kebijakan yang konsisten.
Pertama, pemerintah harus menyampaikan stress test APBN secara terbuka dan jujur. Apa yang terjadi jika minyak bertahan di atas US$100 per barel hingga akhir tahun? Apa yang terjadi jika rupiah tidak kembali ke bawah Rp17.000 dalam waktu dekat?
Belanja mana yang akan dikurangi? Dari mana pembiayaan tambahan berasal? Pasar tidak butuh kepastian bahwa semua akan baik-baik saja; pasar butuh kepastian bahwa pemerintah mengerti masalahnya dan punya rencana konkret yang bisa dipertanggungjawabkan.
Kedua, subsidi energi harus ditata lebih tepat sasaran, bukan dihapus. Melindungi daya beli masyarakat adalah kewajiban negara, tetapi subsidi yang bocor ke kelompok mampu adalah pemborosan yang membuat APBN menjadi korban pertama setiap kali harga minyak dunia naik.
Ketika APBN terbebani, rupiah ikut membayar harganya bersama seluruh rakyat.
Ketiga, pemerintah harus menjaga dan memperkuat independensi Bank Indonesia, serta memperbaiki komunikasi publik. Pernyataan bahwa rakyat desa tidak menggunakan dolar mungkin dimaksudkan untuk menenangkan, tetapi secara ekonomi berbahaya jika dibaca sebagai sikap meremehkan. R
akyat desa memang tidak bertransaksi dengan dolar, tetapi harga pupuk, BBM, LPG, obat-obatan, alat produksi, dan hampir seluruh kebutuhan pokok sangat dipengaruhi oleh kurs dan harga energi global. Dolar tidak terlihat di pasar desa, tetapi jejaknya ada dalam setiap ongkos angkut, harga input pertanian, dan biaya hidup harian.
Menyelamatkan Rupiah Berarti Menjual Kembali Kepercayaan
Jika ketegangan Timur Tengah mereda, harga minyak turun, dan pemerintah menunjukkan disiplin fiskal yang meyakinkan, rupiah berpeluang stabil kembali ke kisaran yang lebih wajar.
Tetapi jika minyak tetap tinggi, defisit subsidi terus membengkak, dan investor makin ragu pada arah kebijakan, rupiah bisa kembali menguji level psikologis baru di atas Rp18.000 per dolar AS. Itu bukan sekadar angka.
Itu sinyal bahwa pasar sedang memberi nilai lebih rendah pada kemampuan kita mengelola negara dengan kehati-hatian.
Menyelamatkan rupiah bukan sekadar soal menjual dolar dari cadangan devisa.
Menyelamatkan rupiah berarti menjual kembali keyakinan bahwa Indonesia dikelola dengan serius, transparan, dan bertanggung jawab. Tanpa keyakinan itu, berapapun amunisi yang ditembakkan ke pasar, rupiah akan tetap diperlakukan sebagai mata uang yang harus diberi diskon risiko lebih besar dari yang semestinya.
END






