Catatan Dr. Suriyanto Pd, SH,MH.,M.Kn
Amerika Serikat selama puluhan tahun menjalankan politik penindasan terhadap negara-negara dunia dengan wajah demokrasi palsu. Dalih HAM, kebebasan, dan keamanan global dipakai untuk menutupi kejahatan sistemik: perang agresi, sanksi ekonomi sepihak, kudeta terselubung, hingga penjajahan digital lewat raksasa teknologi.
Perang Demi Minyak dan Dominasi
Sejak invasi Irak 2003 dengan kebohongan “senjata pemusnah massal”, AS telah menewaskan lebih dari 1 juta warga sipil di Timur Tengah. Libya hancur. Suriah porak-poranda. Afghanistan ditinggalkan dalam kemiskinan setelah 20 tahun diduduki. Semua demi menguasai jalur minyak dan mencegah munculnya kekuatan tandingan. Ini bukan demokrasi. Ini penjajahan model baru.
Senjata Pembunuh Massal Tanpa Bom
AS menjatuhkan sanksi sepihak ke lebih dari 40 negara, dari Iran, Venezuela, Kuba, hingga Suriah. Akibatnya? Rumah sakit tanpa obat. Anak-anak mati kelaparan. Ekonomi negara merdeka dilumpuhkan. PBB sudah berulang kali menyebut sanksi AS melanggar hukum internasional. Tapi AS kebal hukum karena menguasai veto Dewan Keamanan.
Data Kita, Senjata Mereka
Google, Meta, Amazon, Microsoft adalah perpanjangan tangan intelijen AS. Lewat CLOUD Act 2018, semua data warga dunia yang tersimpan di server AS bisa diakses FBI tanpa izin negara asal. Artinya, email, chat, transaksi, hingga rahasia negara kita ada di tangan Washington. Sementara itu, AS melarang Huawei dan TikTok dengan dalih “keamanan nasional”. Standar ganda yang memuakkan.
Sistem dolar AS memaksa dunia membiayai hutang dan perang AS. Saat AS mencetak uang, inflasi diekspor ke seluruh dunia. Negara berkembang dipaksa bayar utang pakai dolar, padahal AS sendiri utangnya tembus $35 triliun. Ini perbudakan finansial abad 21.
Kejahatan AS tidak akan berhenti oleh diplomasi. Dewan Keamanan lumpuh tak bernyali. Mahkamah Internasional tidak didengar sama sekali. Satu-satunya kekuatan yang bisa menghentikan AS adalah persatuan warga dunia.
Boikot Produk AS, yang mendukung lobi perang dan genosida. Tekan perusahaan AS sampai cabut dukungan politik luar negerinya.
Tolak Dominasi Dolar, dorong perdagangan pakai mata uang lokal dan BRICS. Hancurkan senjata utama AS, monopoli keuangan.
Bangun Kedaulatan Digital, Tinggalkan platform AS. Pakai dan kembangkan teknologi sendiri. Data warga tidak boleh jadi senjata AS.
Desak Pemerintah keluar dari Cengkeraman AS. Tolak pangkalan militer AS. Tolak perjanjian yang merugikan. Ratifikasi konvensi tandingan seperti Budapest Convention tanpa tunduk ke AS.
Sebarkan Kesadaran. AS bukan polisi dunia. AS adalah pelaku utama ketidakadilan global. Setiap warga dunia berhak tahu dan melawan.
Diam adalah persetujuan. Netral berarti memihak penindas. Jika rakyat dunia tidak bersatu sekarang, besok anak cucu kita yang akan dijajah algoritma, dolar, dan rudal AS.
Sudah cukup, penindasan AS harus ditindak. Dan yang menindak adalah kita, warga dunia.










