Ketika Budaya Memengaruhi Kesehatan dan Umur Panjang

Foto ilustrasi hidayatulah.com

Oleh: Syahril Syam *)

Dr. Mario Martinez adalah seorang neuropsikolog klinis yang meneliti bagaimana keyakinan budaya, cara kita memberi makna pada hidup, dan emosi sehari-hari dapat memengaruhi kesehatan fisik. Dalam bukunya “The MindBody Code: How to Change the Beliefs that Limit Your Health, Longevity, and Success”, ia menjelaskan bahwa tubuh manusia tidak hanya bekerja berdasarkan biologi murni; tubuh juga merespons keyakinan dan makna budaya yang kita serap sejak kecil.

Menurut Martinez, pikiran (mind), tubuh (body), dan budaya (culture) bukan tiga wilayah yang terpisah – mereka membentuk satu kesatuan yang ia sebut sebagai biocognitive model. Istilah “biocognitive” berarti bahwa proses berpikir kita, sekaligus makna budaya yang kita terima, dapat mengubah cara tubuh bekerja. Jadi kesehatan, penyakit, cara kita menua, dan bahkan potensi kesuksesan dipengaruhi oleh cara kita memaknai pengalaman, bukan hanya oleh genetika atau lingkungan fisik.

Di sinilah muncul konsep MindBody Code. Martinez menyebutnya sebagai “kode” atau pola tersembunyi yang menghubungkan pikiran dan tubuh. Tubuh kita sebenarnya tidak bereaksi langsung terhadap peristiwa, tetapi terhadap makna yang kita berikan pada peristiwa itu. Budaya menyediakan apa yang ia sebut sebagai portals of meaning, yaitu pintu-pintu makna yang kita pelajari sejak kecil – bagaimana kita diajari tentang rasa malu, kehormatan, harga diri, kelemahan, cinta, kerja keras, atau ketakutan. Semua ini diserap tubuh lalu disimpan sebagai makna internal, persepsi tentang dunia, pengalaman budaya, dan interpretasi emosional.

Makna ini kemudian “mengendap” dalam tubuh dalam bentuk reaksi otomatis. Ketika emosi muncul, tubuh kita secara bersamaan mengaktifkan hormon tertentu, perubahan pada sistem imun, pola napas tertentu, postur tubuh, dan sensasi fisik lainnya. Itulah sebabnya Martinez menyebut emosi sebagai fenomena yang embodied – bukan hanya pikiran yang mengambang, tetapi benar-benar diwujudkan dalam tubuh. Emosi, menurutnya, adalah “kode biologis” yang memberi instruksi pada tubuh tentang cara merespons dunia.

Akhirnya, rangkaian keyakinan dan makna ini berkembang menjadi pola hidup – cara kita bekerja, mencintai, berhubungan dengan orang lain, dan menua. Semua ini saling mengunci satu sama lain seperti kode rahasia: keyakinan → emosi → respons tubuh → pola hidup.

Contoh nyata: jika seseorang tumbuh dalam budaya yang mengatakan “jangan terlihat lemah”, tubuhnya membentuk MindBody Code seperti: menahan tangis, napas menjadi lebih pendek, otot lebih tegang, dan dalam jangka panjang sistem imun lebih mudah meradang. Bukan karena perintah itu salah secara moral, tetapi karena makna “lemah = berbahaya” disimpan tubuh sebagai ancaman.

Sebaliknya, jika seseorang dibesarkan dalam budaya yang menekankan martabat atau harga diri yang sehat, tubuh dapat membentuk pola berbeda: postur tegak, aktivitas saraf vagus yang stabil (yang menenangkan sistem tubuh), sistem imun lebih seimbang, dan potensi umur panjang yang lebih besar.

Jika mengikuti pemikiran Dr. Mario Martinez, kita bisa melihat bahwa stres, sakit, dan proses penyembuhan tidak hanya ditentukan oleh biologi tubuh, tetapi juga oleh cara kita menafsirkan pengalaman. Tubuh kita, tanpa disadari, mematuhi makna yang kita pelajari dari keluarga, agama, lingkungan, dan budaya. Artinya, tubuh tidak hanya bereaksi pada peristiwa, tetapi pada makna budaya yang kita serap sejak kecil.

Misalnya, dalam budaya yang mengajarkan “menangis itu lemah”, anak belajar menahan tangis sebagai bentuk bertahan hidup. Tubuh kemudian menyesuaikan diri: otot leher dan dada menjadi lebih tegang, napas lebih pendek, dan ekspresi emosi ditekan. Bagi sebagian anak, menangis dianggap memalukan, sehingga rasa malu menjadi reaksi otomatis. Ketika dewasa, pola ini bisa berubah menjadi kecenderungan “selalu merasa salah” atau takut terlihat rapuh di depan orang lain.

Di keluarga tertentu, stres diekspresikan melalui gejala fisik, seperti sakit lambung. Tanpa disadari, anak menangkap pola itu dan tubuhnya meniru cara yang sama – bukan karena genetika semata, tetapi karena tubuh belajar bahwa “inilah cara menghadapi tekanan”. Di budaya lain, perempuan diajarkan untuk menahan marah demi kesopanan. Emosi yang terpendam lama-lama memengaruhi tubuh: migrain, kelelahan, atau bahkan gejala autoimun bisa muncul akibat tekanan emosional yang tidak boleh diekspresikan.

Contoh lain yang sangat jelas adalah keyakinan budaya seputar kehamilan dan melahirkan. Di budaya yang memandang melahirkan sebagai peristiwa penuh risiko, tubuh calon ibu bisa membentuk respons ketakutan bahkan sebelum proses melahirkan dimulai. Hormon stres meningkat, otot-otot menegang, dan tubuh masuk ke mode bertahan, yang dapat memengaruhi proses persalinan itu sendiri.

Dalam banyak budaya modern, terdapat keyakinan budaya bahwa usia tua identik dengan kelemahan dan penurunan. “Portal budaya” ini menanamkan makna bahwa ketika seseorang memasuki usia 60, ia seharusnya mulai melemah, tidak produktif, dan bersiap memasuki masa pensiun. Ketika makna seperti ini diterima sejak kecil, tubuh dan pikiran dapat terprogram untuk mengikuti pola tersebut: usia dianggap sinyal untuk melemah, sehingga tubuh pun mulai merespons dengan energi yang berkurang, motivasi menurun, dan munculnya berbagai keluhan fisik.

Namun, penelitian pada kelompok usia panjang (centenarian), yaitu orang-orang yang hidup hingga di atas 100 tahun, menunjukkan gambaran yang berbeda. Mereka berasal dari berbagai budaya – Italia, Jepang, Amerika Latin, Timur Tengah – dan pola yang sama muncul: mereka tidak memaknai usia tua sebagai titik penurunan, tetapi sebagai fase yang memiliki makna baru.

Mereka menjalani hidup dengan rasa tujuan, memiliki komunitas yang mendukung, menjalankan ritual harian yang memberi struktur (kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari, sehingga kehidupan terasa terarah, teratur, dan menenangkan bagi tubuh), dan memelihara identitas diri yang sehat. Mereka juga memiliki fleksibilitas mental, rasa syukur, dan pandangan bahwa bertambah usia sama artinya dengan bertambahnya pengalaman, kebijaksanaan, dan kapasitas untuk berkontribusi.

Dengan kata lain, mereka membawa makna budaya yang berbeda: usia adalah aset, bukan beban. Temuan ini mendukung pandangan Martinez bahwa cara kita memaknai usia – bukan usia itu sendiri – sangat memengaruhi kesehatan, vitalitas, dan umur panjang. Ketika makna yang kita anut berubah, tubuh pun merespons dengan cara yang berbeda.

Menurut Martinez, tubuh adalah arsip hidup dari makna yang kita terima sepanjang hidup. Ketika kita memahami dan mengubah “kode” makna itu, kita dapat memengaruhi kesehatan, energi, pola emosi, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

Semua contoh ini menunjukkan bahwa budaya tidak hanya membentuk cara kita berpikir, tetapi juga cara tubuh bekerja. Keyakinan yang kita serap membentuk hormon, pola saraf, respons imun, dan cara tubuh bereaksi terhadap tekanan. Maka benar bahwa tubuh mengikuti makna budaya, bukan hanya biologi. Tidak hanya masa lalu yang membentuk kita; konteks hidup saat ini juga terus memprogram tubuh melalui pengalaman, interpretasi, dan makna yang kita berikan pada dunia.

Dengan demikian, menurut The MindBody Code, budaya dan keyakinan kolektif yang kita warisi – dari keluarga, masyarakat, norma sosial, media, hingga institusi – memiliki pengaruh besar terhadap bagaimana tubuh kita tumbuh, bertahan, menua, dan bahkan sembuh.

Makna-makna yang kita serap sejak kecil menjadi “program tersembunyi” yang membentuk cara tubuh membaca dunia: apakah suatu pengalaman dianggap aman atau berbahaya, apakah perubahan usia dianggap sebagai potensi atau penurunan, dan apakah tekanan hidup diterjemahkan sebagai stres yang mampat atau sebagai tantangan yang bisa dikelola. Tubuh mengikuti makna yang kita yakini, bukan hanya reaksi biologis otomatis. Karena itu, proses kesehatan dan penuaan tidak berdiri terpisah dari budaya; mereka berjalan seiring dengan keyakinan kolektif yang melekat dalam diri kita sehari-hari.

Dengan memahami hal ini, kita bisa mulai melihat kesehatan bukan sekadar soal fisik, tetapi juga hasil dari makna yang hidup di dalam diri. Kita sebenarnya dapat membuka pintu menuju pola hidup yang lebih sehat, lebih tenang, dan lebih panjang umur. Karena, jika makna berubah, respons tubuh pun bisa berubah.

@pakarpemberdayaandiri

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *