Oleh: Syahril Syam *)
Dahulu, para ilmuwan menganggap sistem saraf otonom (autonomic nervous system/ANS) hanya memiliki dua mode utama. Mode pertama adalah sistem simpatik, yang membuat tubuh siaga untuk “melawan atau melarikan diri” (fight or flight) ketika menghadapi ancaman. Mode kedua adalah sistem parasimpatik, yang berfungsi menenangkan tubuh agar bisa “istirahat dan mencerna” (rest and digest) setelah ancaman berlalu. Namun, menurut Dr. Stephen W. Porges, seorang ahli saraf dan psikofisiolog, pandangan dua mode ini terlalu sederhana untuk menjelaskan pengalaman manusia yang kompleks.
Porges mengamati bahwa tidak semua orang bereaksi terhadap stres dengan cara melawan atau kabur. Ada yang justru membeku – tubuh terasa mati rasa, lemas, bahkan seperti “shutdown”. Selain itu, ada pula orang yang baru benar-benar tenang bukan karena ancaman hilang, tetapi karena mereka merasa aman dan terhubung dengan orang lain. Dari sinilah Porges mengembangkan teori yang dikenal sebagai Polyvagal Theory, yang mengubah cara kita memahami hubungan antara tubuh, emosi, dan rasa aman.
Menurut temuan Porges, saraf vagus – salah satu saraf terpanjang yang menghubungkan otak dengan organ-organ penting seperti jantung, paru-paru, dan usus – tidak hanya satu jalur, melainkan memiliki dua cabang utama. Pertama, Cabang dorsal vagal (bagian belakang) adalah sistem yang paling tua secara evolusi, mirip dengan yang dimiliki reptil.
Ketika bahaya terasa sangat ekstrem dan tak bisa dihindari, sistem ini mengambil alih dan membuat tubuh “mati pura-pura”, yakni memasuki keadaan shutdown untuk bertahan. Kedua, Cabang ventral vagal (bagian depan) adalah sistem yang lebih baru, berkembang pada hewan mamalia. Sistem ini memungkinkan kita merasa aman, tenang, dan terhubung secara sosial – misalnya lewat kontak mata, nada suara lembut, atau sentuhan yang menenangkan.
Dengan demikian, sistem saraf kita berevolusi secara bertahap: reptil bertahan dengan cara membeku/freeze (diam/pura-pura mati); sedangkan mamalia bertahan dengan cara terhubung dan berinteraksi (social engagement). Dari temuan ini, Porges memperkenalkan tiga sistem respons utama yang bekerja seperti tangga evolusioner dalam tubuh manusia: Lapisan teratas (Ventral Vagal System) – saat aktif, kita merasa aman, tenang, mampu berpikir jernih, dan bisa menjalin hubungan sosial. Lapisan tengah (Sistem Simpatik) – saat merasa terancam, tubuh bersiap untuk fight or flight, yaitu melawan atau melarikan diri. Dan, Lapisan terbawah (Dorsal Vagal System) – saat ancaman terasa terlalu besar dan tak terkendali, tubuh masuk ke mode shutdown atau mati rasa.
Yang menarik, tubuh manusia bisa berpindah naik-turun di antara tiga tingkat ini tergantung pada apakah kita merasa aman atau terancam – bahkan tanpa disadari oleh pikiran sadar. Menurut Dr. Stephen W. Porges, kecemasan dan depresi bukanlah gangguan pikiran semata, melainkan tanda bahwa tubuh kehilangan kemampuan untuk merasa aman.
Dalam pandangan ini, akar dari banyak gangguan emosional terletak pada disfungsi sistem saraf otonom (ANS) – sistem yang secara otomatis mengatur reaksi tubuh terhadap stres, bahaya, dan rasa aman. ANS tidak hanya bereaksi terhadap bahaya yang nyata, tetapi juga terhadap persepsi akan bahaya. Artinya, tubuh kita bisa menunjukkan reaksi seperti menghadapi ancaman, padahal ancaman itu hanya ada dalam pikiran atau emosi.
Kunci dari teori Porges adalah konsep “feeling safe” – atau rasa aman yang dirasakan secara biologis. Ia menegaskan bahwa “Safety is not the absence of threat; it is the presence of connection.”
Bagian pertama, “Safety is not the absence of threat”, berarti rasa aman bukan sekadar ketiadaan bahaya. Tubuh manusia bisa saja masih merasa tidak aman walaupun secara objektif lingkungan sudah aman. Misalnya, seseorang yang pernah mengalami trauma bisa tetap tegang walau situasi di sekitarnya damai. Begitu pula, seseorang bisa merasa gugup di tempat kerja yang tenang hanya karena merasa tidak diterima, atau seorang anak yang tumbuh di lingkungan penuh kritik bisa terus merasa cemas meskipun tidak sedang dimarahi. Dalam semua kasus ini, tubuh tidak menafsirkan situasi dengan logika, melainkan dengan memori biologis tentang ancaman. Itulah sebabnya rasa aman tidak bisa dipaksakan lewat pikiran positif semata; ia harus dialami oleh tubuh.
Bagian kedua, “It is the presence of connection”, menunjukkan bahwa rasa aman sejati muncul ketika kita merasa terhubung – secara sosial, emosional, dan bahkan spiritual. Menurut Porges, cabang ventral vagal dari saraf vagus (yang menenangkan tubuh) hanya aktif ketika kita merasa aman dalam hubungan.
Bentuk koneksi ini bisa sangat sederhana: tatapan lembut dari orang yang kita percaya, suara yang tenang dan hangat, sentuhan penuh kasih, atau bahkan rasa keterhubungan dengan Sang Maha Sempurna saat berdoa. Semua bentuk koneksi ini memberi sinyal biologis ke otak bahwa “Aku aman, aku diterima, aku tidak sendirian.” Saat sinyal ini diterima, tubuh berpindah dari mode siaga (fight/flight/freeze) ke mode tenang dan pulih (rest/digest/connect).
Dari sudut pandang biologis, teori ini menjelaskan bahwa sistem saraf manusia berevolusi untuk mencari koneksi sosial sebagai tanda keselamatan. Misalnya, bayi manusia merasa aman bukan hanya karena tidak ada bahaya, tetapi karena mendengar suara lembut ibunya atau merasakan pelukannya. Hal ini memicu reaksi fisiologis nyata: detak jantung melambat, napas menjadi stabil, dan hormon stres menurun. Jadi, koneksi bukan sekadar konsep emosional atau psikologis – ia adalah sinyal biologis nyata yang menenangkan tubuh dan menyehatkan pikiran.
Dengan kata lain, menurut Porges, kesembuhan dari kecemasan dan depresi dimulai dari pengalaman rasa aman, bukan dari sekadar mengubah pikiran. Dan rasa aman sejati selalu lahir dari koneksi yang hidup – baik dengan diri sendiri, orang lain, maupun dengan sesuatu yang lebih besar dari diri kita. Ketika kita merasa terhubung, sistem saraf kita menafsirkan dunia sebagai tempat yang aman, dan dari situlah pemulihan serta pembelajaran dapat terjadi.
Rasa aman bukan hanya penting bagi ketenangan emosional, tetapi juga merupakan pondasi biologis bagi perubahan dan pembelajaran otak, atau yang dikenal dengan istilah neuroplastisitas – kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru dan beradaptasi. Ketika tubuh terus berada dalam mode ancaman (misalnya karena stres kronis, kecemasan, atau rasa takut yang berlarut), sistem saraf simpatis atau dorsal vagal mengambil alih.
Dalam keadaan ini, tubuh hanya fokus untuk bertahan hidup, bukan untuk belajar atau berkembang. Secara neurologis, bagian otak yang berperan dalam pembelajaran, empati, refleksi diri, dan kreativitas – seperti korteks prefrontal – akan menurun aktivitasnya. Otak memprioritaskan reaksi cepat: “Lawan, lari, atau diam.” Akibatnya, kemampuan berpikir jernih, berinovasi, atau membuka diri terhadap hal baru menjadi terhambat.
Sebaliknya, ketika sistem ventral vagal aktif – artinya tubuh merasa aman dan terhubung – sistem saraf beralih dari mode bertahan ke mode pertumbuhan dan pembelajaran. Dalam keadaan ini, otak menerima sinyal: “Aku aman. Aku bisa belajar, berhubungan, dan tumbuh lagi.” Aliran darah meningkat ke area otak yang mendukung fokus, kreativitas, dan empati. Hormon stres menurun, sementara neurotransmiter yang mendukung rasa tenang dan motivasi, seperti serotonin dan dopamin, meningkat.
Inilah sebabnya rasa aman adalah syarat dasar bagi proses belajar, penyembuhan, dan transformasi diri. Tanpa rasa aman, otak menutup diri dari kemungkinan perubahan. Tapi ketika rasa aman hadir – melalui koneksi sosial, kasih sayang, atau ketenangan batin – otak menjadi plastis kembali, siap untuk tumbuh, memahami, dan menyembuhkan dirinya.
@pakarpemberdayaandiri


