Kisah nyata ini terjadi tahun 1939 , Hasan ligat Melibas Dua Serdadu Belanda

Catatan Arif Andepa edisi : ke dua belas

……. saya sampaikan karena besok pagi sebagian dari sekeluaga menjemput bang Hasan di penjara dan sebagian lagi menunggu dirumah bersama perangkat gampong, pemuda, tokoh, keurani dan masyarakat sambil menyiapkan konsumsi kepulangan bang Hasan.

Masyarakat sangat antusias menanti sosok pembela marwah gampong, kepulangan bang Hasan disambut bagaikan pahlawan pulang dari medan perang.

Masyarakat berinisiatif memotong beberapa ekor kambing dan menyiapkan apa saja yang merasa perlu, tepatnya pukul 12 siang bang Hasan sampai didepan rumah, air mata membasahi pipinya kemudian imam gampong menepung tawari seperti penganten baru, kini sosok idola telah kembali setelah menghilang selama enam tahun dan dua penjara dirasakannya.

Sejumlah prosesi adat selesai, lalu bang Hasan menanyakan.  Johan …… ibu dimana ? Salah satu dari keluarga menjawab, ibu pergi sebentar ketempat pemakaman kakek.

Sewaktu bang Hasan ingin menyusul ….. ibundapun tiba didepan rumah sambil menangis memanggil

Nyak Hasaaan eeeee …… Aneuk boh hatei maaaa …… Hasanpun bergegas sujud pada kaki ibunda yang sudah tua renta dan Hasan menangis sekonyong- konyongnya….

Suasana saat itu menyelimuti keharuan dan tak seorangpun yang tidak menangis melihat pertemuan ibu dengan anak kandungnya yang sudah lama hilang ditelan peristiwa demi peristiwa hingga terpisah dengan pasangan hidupnya.

Kemudian ibunda mengambil segelas air putih lalu disuguhkan ke mulut Hasan, fenomena itu terasa seperti Hasan masa kecil, kebaikan ibunda membuat Hasan kembali menangis tersedu-sedu….

Suasana kembali lagi larut dalam keharuan. setelah keadaan mulai tenang. Hasan menatap Johan lalu menanyakan, Johan dimana Habibah ?

Sambil memegang kepala Johan menjawab…Waduh ………Bersambung .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *