Opini: Iswandi Dedi
Setiap tahun rakyat Indonesia merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia dengan gegap gempita. Bendera merah putih berkibar, lomba rakyat digelar, dan pidato-pidato penuh semangat terdengar. Namun di balik euforia itu, muncul pertanyaan besar: apakah bangsa ini benar-benar sudah merdeka?
Sejarah mencatat, bangsa Indonesia berabad-abad melawan penjajah Belanda dan Jepang hingga akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, penjajahan tidak selalu datang dengan senjata. Kini, wajah penjajah berubah. Mereka bisa hadir lewat kekuasaan yang korup, investasi yang menguras sumber daya alam, hingga kebijakan yang menjerat rakyat sendiri.
“Dulu kita berperang melawan senapan, sekarang kita berperang melawan kebohongan, korupsi, dan keserakahan,” ungkap seorang tokoh masyarakat Subulussalam, Sabtu (16/8).
Di era modern, penjajah bisa berupa utang luar negeri yang mencekik, perusahaan raksasa yang merampas tanah rakyat, atau bahkan pejabat yang melupakan amanah. Penjajahan itu nyata, meski tidak terlihat.
Kemerdekaan sejati bukan hanya soal lepas dari Belanda atau Jepang, tapi tentang terbebasnya rakyat dari segala bentuk penindasan, baik dari luar maupun dari dalam negeri. Pertanyaan menggantung: apakah 80 tahun lebih setelah proklamasi, rakyat sudah merasakan arti merdeka yang sesungguhnya?
Perayaan HUT RI ke-80 ini seharusnya menjadi momentum refleksi. Jika dulu Bung Karno berseru “beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”, maka hari ini bangsa ini menunggu: siapa yang berani melawan penjajah masa kini—korupsi, ketidakadilan, dan perampokan sumber daya?
Sebab merdeka sejati bukan hanya mengenang masa lalu, tapi memastikan anak cucu bangsa tidak lagi dijajah, kini dan di masa depan.
Dulu Belanda bawa senjata. Jepang bawa cambuk. Kini penjajah datang dengan dasar hukum, utang luar negeri, dan tanda tangan pejabat.
Tanah rakyat dikuasai korporasi. Hutan habis, tambang ludes. Petani diusir, nelayan ditenggelamkan aturan. Semua atas nama “pembangunan”.
Lebih kejam lagi, penjajah kini lahir dari tubuh bangsa sendiri: elit korup, pejabat rakus, oligarki yang menghisap darah rakyat.
Lalu apa arti merdeka kalau rakyat tetap antre beras, gaji pas-pasan, lapangan kerja dikuasai segelintir orang, dan generasi masa depan sudah dijual lewat utang?
Pertanyaan telak di Hari Kemerdekaan ini: Siapa penjajah kita hari ini? Dan siapa penjajah besok?








