banner 728x250
OPINI  

Demokrasi Berbudaya

Foto ilustrasi Kompas.com

Catatan D. Supriyanto Jagad N *)

Hari ini, Rabu 14 Februari 2024, seluruh rakyat Indonesia menyampaikan aspirasinya melalui Pemilihan Umum [Pemilu]. Alhamdulillah, dari berbagai informasi dari teman-teman di berbagai daerah di seluruh Indonesia, Pemilu berjalan tertib, damai, dan aman.

Kondisi ini patut kita syukuri, karena nilai-nilai cinta kasih  tak tergerus oleh kepentingan-kepentingan politik. Penghargaan terhadap perbedaan pilihan, menunjukkan betapa budaya bangsa yang penuh tepo sliro tercermin dari perhelatan demokrasi lima tahunan ini.

Demokrasi, sebuah sistem pemerintahan yang menjunjung tinggi kedaulatan rakyat, tak ubahnya sebuah bangunan kokoh. Fondasi yang menopangnya adalah rasa saling menghormati dan menghargai, dibalut dengan kasih sayang antar sesama warga negara. Inilah wujud demokrasi yang tidak mencerabut akar budaya bangsa yang telah lekat sebelumnya.

Demokrasi bukan tentang tirani mayoritas. Suara mayoritas memang penting, tapi hak dan pendapat minoritas juga harus didengar dan dihormati.

Perbedaan adalah kekayaan. Demokrasi memungkinkan keragaman pendapat, suku, agama, dan budaya untuk hidup berdampingan secara harmonis.

Kasih sayang adalah perekat bangsa. Rasa cinta dan kasih sayang antar sesama warga negara menjadi kekuatan yang menyatukan bangsa.

Hati saya pun bungah sumringah menyambut pesta demokrasi ini, tidak ada wajah saling cemberut hanya karena perbedaan pilihan politik. Tidak terlihat adanya fanatisme dukungan yang membabi buta.

Berbeda adalah soal pilihan! Salah satu pilihan yang kerap menunjukkan kita berbeda adalah pilihan politik. Keberbedaan pilihan politik itu adalah sah dan tidak dilarang. Keabsahan berbeda dalam pilihan politik juga terkandung arti penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia untuk tidak selalu harus sama dalam memilih.

Kesalahan dalam mengartikan keberbedaan pilihan politik menjadi penyebab ketidaksukaan dan kebencian terhadap pemilih berbeda. Berbeda tidaklah lagi kebhinnekaan, tetapi berbeda adalah ketidaksamaan, sehingga menyikapinya adalah dengan penghadangan terhadap pihak-pihak yang tidak sama dengannya. Kita harus belajar untuk mendudukkan arti perbedaan dalam perspektif budaya yang selama ini kita junjung. Memang semua butuh proses.

Ketidak mampuan dalam memahami perbedaan, tak lepas dari proses pencarian bentuk dalam berpolitik dan berdemokrasi. Politik di negeri ini dipenuhi dengan bahaya yang bisa dan kadang di setiap saat. Bahaya terbesar akibat proses dalam pencarian bentuk dalam politik itu adalah perpecahan di masyarakat. Kita bisa melihat wajah media sosial kita, dihiasi dengan berbagai hujatan atas ketidak sepahaman cara pandang dalam melihat sesuatu, karena perbedaan pilihan politik.

Pelaku politik sering menggunakan kondisi masyarakat yang rapuh dan rawan pengaruh untuk keuntungan dan kepentingan politiknya. Kerapuhan rakyat yang tanpa disadari akan semakin menjadi bencana saat pengaruh para petualang politik masuk dalam kehidupan mereka.

Politik berbudaya apakah mungkin bisa ditegakkan di negeri ini? Menurut saya, sangat mungkin. Namun, kita harus mampu merekonstruksi pemikiran dan komitmen kita atas keberlangsungan bangsa ini.  Diperlukan kesadaran bersama, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang bermartabat.

Politik yang sebaik-baiknya adalah politik yang berbudaya, budhi daya dan bermartabat, dimana kekuasaan dan tahta yang dibawa membawa kemuliaan manusia dan Sang Pencipta.

Bila bangsa ini tidak ingin carut marut, sudah saatnya kita kembali kepada politik yang berbudaya, karena politik yang berbudaya, akan sanggup menggeser dominasi politik identitas yang saat ini marak di tanah air. Politik identitas selalu dikaitkan dengan etnisitas, agama, idiologi, dan kepentingan-kepentingan lokal yang umumnya diwakili para elit politik dengan artikulasinya masing-masing.

Untuk itu, maka kedewasaan sikap mendesak dilakukan. Kedewasaan dengan mengintospeksi diri pribadi masing-masing pemilih bahwa pilihan politik lebih dari satu menjadikan pilihannya kepada  dua atau lebih pilihan berbeda realitas harus diterima.

Dengan kesadaran ini juga, maka keberbedaan adalah bagian dinamika biasa dan tidak harus disikapi dengan tindakan kontraproduktif, tetapi lebih baik menggunakan cara rasionalitas kedewasaan menghadapi keberbedaan tersebut.

Rasionalitas dalam arti demikian bahwa jika ada ketidaksetujuan, ketidaksukaan dan bahkan mungkin dibarengi kebencian terhadap pilihan politik tertentu, maka jalan keluarnya adalah cukup sederhana dengan tidak harus memilihnya pada saat hari pemilihannya telah tiba nanti saat pemungutan suaranya. Artinya, akan terhormat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dengan jalan tidak usah memilihnya, dibandingkan dengan penghadangan terhadap yang tidak sama dengan pilihan politiknya.

Sudah saatnya kita kembali kepada jati diri kita sebagai bangsa yang berbudaya. Dan, yang bisa kita lakukan adalah membangun budaya politik yang sesuai dengan peradaban kita sebagai bangsa Indonesia yang berkarakter.

Ukuran baik buruk, benar salah, pantas tidak pantas dalam budaya demokrasi kita, tentu berbeda dengan negara lain, atau bangsa-bangsa lain.

Lenteng Agung, 14 Februari 2024

*)D. Supriyanto Jagad N, pekerja media, Sekretaris Jenderal DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *