Umum  

Kunjungan Jokowi ke Sikka Berujung Kerumunan Warga. Pengamat Komunikasi : Mengapa Bisa Terjadi?

Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing

Pewarta : Tijani

NUSANTARA-NEWS.co, Jakarta – Pengamat Komunikasi Politik Emrus Sihombing Kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Sikka yang berujung kerumunan warga seharusnya bisa diprediksi sebelum kejadian, jika Tim Komunikasi Presiden dari para komunikolog dan mereka berfungsi sekaligus penasehat Presiden bidang komunikasi.

Dengan demikian Emrus menilai Tim Komunikasi Presiden mampu memperkirakan kemungkinan terjadinya kerumunan warga. Atas dasar perkiraan tersebut, Tim Komunikasi Presiden harus, bahkan mutlak memberi pandangan dan nasehat kepada Presiden agar tidak lewat dari jalur tersebut atau memberi alternatif lain dengan menumpang Helikopter.

“Jadi, Tim Komunikasi Presiden tidak boleh berperilaku seperti, “ada perintah”, “ada petunjuk”, “ada arahan” dan sejenisnya dalam konteks “membeo”, dalam rangka mengelola opini publik dan keberadaan Presiden dalam wacana publik. ” Papar Emrus.

“Jika ada di Tim Komunikasi Presiden berperilaku “membeo” harus segera dievaluasi untuk direposisi karena sangat berpotensi mengganggu pengelolaan komunikasi kepresidenan. ” Tegas Emrus.

Oleh karena itu, Emrus membeberkan bahwa Tim Komunikasi Presiden itu harus melakukan fungsi komunikasi dengan cepat, tepat, prediktif, dan punya nyali memberi nasehat kepada Presiden, tetapi dengan komunikasi asertif (menyampaikan pesan dengan menjaga perasaan orang lain).

“Karena itu, posisi Tim Komunikasi Presiden selalu melekat dan bersama Presiden.” Ujar Emrus.

Emrus mengatakan Fungsi tersebut akan berjalan dengan baik. “Saya berkeyakinan penuh berdasarkan otoritas keilmuan komunikasi yang saya miliki, jika Tim Komunikasi Presiden dari para Komunikolog, yang paham betul konsep, teori dan dampak sebuah tindakan sebagai simbol komunikasi. Mengapa?” Terang Emrus.

“Sebagai seorang ilmuan komunikasi, dengan kapabilitas dan profesionalitasnya, para Komunikolog dengan otoritas keilmuan yang dimilikinya dapat memprediksi kejadian dan efek komunikasi dari kemungkinan sebuah tindakan sebagai lambang verbal dan non verbal dari pesan komunikasi.” Tutur Emrus.

“Untuk itu, saya menyarankan kepada Presiden, Tim Komunikasi Presiden sejatinya dari para Komunikolog.” Papar Emrus.

(red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *