banner 728x250
OPINI  

Demokrasi Amerika Rasa Biden

Presiden Amerika Serikat terpilih Joe Biden

 

Amerika, yang cikal-bakalnya dibangun dari 13 koloni Inggris, sudah mengenal demokrasi dan kehidupan ekonomi yang ‘sistemik’ ketika itu. Upaya mereka memberontak dari Inggris untuk membangun sebuah negara baru makin mengentalkan kelak sistem demokrasi setelah pecahnya Revolusi Amerika, 4 Juli 1776.

 

Oleh Putu Suasta *)

Yang kita kenal dari Amerika Serikat ialah demokrasi. Bahkan dalam beberapa hal, negara ini secara terang-terangan memperlihatkan dirinya sebagai ‘teladan’ demokrasi. Bentuk-bentuk aktivitas seperti perjuangan hak azasi manusia (HAM), kesetaraan gender, emansipasi Pendidikan dan aktivitas kemanusian lainnya adalah gambaran dalam tubuh negara ini. Tambah pula Amerika menjadikan dirinya sebagai negara ‘kuali adukan’ (melting pot) meski komposisi  terbesar adalah tetap warga kulit putih.

Oleh Putu Suasta

Demokrasi adalah ‘tulang punggung’ kehidupan bernegara dan bermasyarakat bagi Amerika. Kekentalan demokrasi di Amerika sebetulnya bukanlah hal baru. Dalam sejarah negara ini, demokrasi telah menjadi bagian dari kehidupan berkumpul mereka. Amerika, yang cikal-bakalnya dibangun dari 13 koloni Inggris, sudah mengenal demokrasi dan kehidupan ekonomi yang ‘sistemik’ ketika itu. Upaya mereka memberontak dari Inggris untuk membangun sebuah negara baru makin mengentalkan kelak sistem demokrasi setelah pecahnya Revolusi Amerika, 4 Juli 1776.

Di Amerika, demokrasi adalah sistem yang begitu tua. Itulah mengapa negara ini begitu kental dan dikenal sebagai negara demokratis yang paling representatif. Negara ini sering dijadikan sebagai model demokrasi yang diterapkan dalam sebuah negara di dunia.

“AS adalah negara demokrasi yang cukup tua. Itu adalah demokrasi yang kaya. Ini harus membuatnya stabil,” komentar Daniel Ziblatt, seorang ilmuwan politik, tentang negara Amerika Serikat (Tempo.co, “Saat Demokrasi Amerika Serikat Tercoreng, 12 Januari 2021).

Namun tak selamanya sesuatu berlangsung tetap. Sampai kemudian hadirnya Donald Trump menjadi presiden AS dalam rentang waktu 20 Januari 2017 – 20 Januari 2021 sebagai presiden AS yang ke-45. Di bawah kendali Trump, Amerika menjadi negara yang penuh sorotan, penuh kontroversial dan kebijakan luar negerinya yang membingungkan banyak pihak. Yang paling fenomenal ialah perseteruannya dengan negara China dalam ‘perang ekonomi’.  Kemudian yang tak kalah fenomenalnya ialah keputusannya yang melarang warga muslim dari negara-negara muslim masuk ke Amerika.

Sepanjang pemerintahan Trump, terutama yang menyangkut kebijakan luar negerinya, menarik perhatian orang-orang seluruh dunia. Di dalam negerinya sendiri pun Trump bertindak yang menuai kontroversi. Ia hadir sebagai presiden yang berangasan, serba tak terduga. Bahkan dalam kasus Covid-19, ia sempat tak percaya dan tak menggunakan masker, sampai akhirnya ia sendiri terinfeksi Covid-19. Barulah kemudian ia menggunakan masker. Dalam konteks Coved-19, Trump sempat menuduh bahwa biang kerok dari corona virus ini adalah China.

Ternodanya Demokrasi AS

Donald Trum adalah presiden Amerika Serikat yang kontroversial. Di bawah Trump, demokrasi di negara Amerika Serikat menemukan noda hitamnya yang memalukan pada saat warga pendukung Trump  menduduki Gedung terhorrmat US Capitol atas ‘pidatonya yang penuh provokatif’. Penyerbuan massa pendukung Trump ke US Capitol tentu saja menarik perhatian dunia. Dari sini mereka melihat betapa ‘rapuhnya’ demokrasi di dalam negeri Trump sendiri. Namun begitu, Trump malah memuji para massa penyerbu US Capitol itu sebagai patriot bangsa.

Hingga menjelang pelantikan Joe Biden sebagai pemenang dalam pemilu AS, Trump tetap saja tak mau mengakui kekalahannya. Ia bersikeras beranggapan bahwa kekalahannya adalah karena ‘dimanuplasi’, bahwa hasil pemilu AS itu adalah kecurangan terbesar yang pernah terjadi di Amerika Serikat.  Berbagai manuver yang tak masuk akal dilancarkan Trump, namun semua itu terlihat sia-sia. Ia frustrasi dan tak hadir dalam pelantikan Presiden Joe Biden, Rabu pagi, 20 Januari 2021 waktu setempat.

Ternodanya demokrasi di bawah pemerintahan Trump menarik perhatian tokoh-tokoh dunia. Mereka akhirnya menduga bahwa demokrasi tak selamanya mencerminkan ‘hakikat demokrasi’ itu sendiri. Berbagai media dalam dan luar negeri memuat tanggapan tokoh-tokoh dunia tentang kekecauan demokrasi yang terjadi di Amerika pascakekalahan Trump dalam pemilu yang diikutinya. Tak kalah pula liputan media dalam negeri yang mencoba memberi analisis yang memadai terhadap kehidupan demokrasi di bawah Trump.

Ilmuwan politik Daniel Ziblatt yang menghabiskan waktunya bertahun-tahun mempelajari kehancuran demokrasi di Eropa, Amerika Latin dan Amerika Serikat, percaya bahwa demokrasi sedang terancam di seluruh dunia. “… fakta bahwa kami melihat erosi demokrasi di AS harus menjadi tanda peringatan bagi negara lain,” kata Ziblatt yang Bersama Steven Levitsky menulis buku How Democracies Die (Tempo.co, “Saat Demokrasi Amerika Serikat Tercoreng”, 12 Januari 2021).

Selain itu, lawan-lawan politik Amerika Serikat seperti China, Iran dan Rusia pun akhirnya tahu bahwa demokrasi di negeri yang sering menggembar-gemborkan sistem demokrasi itu ternyata bisa rapuh, dan sebagaimana anggapan China bahwa Amerika Serikat munafik dalam upayanya mempromosikan demokrasi dan mengadvokasi hak azasi manusia di luar negeri. Sementara itu, Konstantin Kosachyov, Ketua Komiter Urusan Luar Negeri Majelis Tinggi Rusia, mengatakan kerusuhan di US Capitol menunjukkan bahwa Washington tidak punya hak menguliahi negara lainb tentang demokrasi (Tempo.co, “Saat Demokrasi Amerika Serikat Tercoreng”, 12 Januari 2021).

Joe Biden: Pemulihan Demokrasi Amerika Serikat?

Kini hadir Joe Biden sebagai presiden terpilih dalam Pemilu Amerika Serikat dan dilantik pada Rabu pagi, 20 Januari 2021 waktu setempat di Gedung Capitol. Apakah Biden akan memulihkan demokrasi yang sempat diporakporandakan oleh Trump selama masa kekuasaannya? Dalam sejumlah pengamatan melalui laporan media, banyak yang menaruh harapan kembalinya demokrasi di Amerika. Begitu pun dengan kebijakan luar negeri Amerika yang lebih reasonable.

Namun yang pertama diminta Biden saat ia resmi menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat ialah meminta rakyat Amerika bersatu kembali. Hal ini ia ungkapkan dalam pidato pertamanya saat ia dilantik sebagai Presiden AS. Persatuan ini penting mengingat ke depan begitu banyak tantangan yang harus dihadapi oleh bangsa Amerika.

Bagi Biden, persatuan diperlukan untuk kebesaran Amerika. Inilah yang akan memunculkan kekuatan untuk mengatasi persoalan-persoalan besar yang tengah dan akan dihadapi bangsa Amerika. “Persatuan adalah jalan ke depan. Dan kita harus bertemu momen ini sebagai Amerika Serikat,” imbuh Biden (Kompas.com, “Joe Biden Resmi Jadi Presiden AS, Serukan Persatuan Rakyat Amerika”, 21 Januari 2021)

Selain menyerukan persatuan rakyat Amerika, Biden juga berkali-kali meminta suasana demokrasi sebagaimana yang menjadi sistem yang kuat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kehidupan di masyarakat Amerika harus dikembalikan dalam kehidupan yang wajar. Bersatu dan kehidupan yang demokratis, bagi Biden, adalah jiwa bangsa Amerika. Dan menurutnya hal itu tak boleh hilang. Inilah tantangan berat bagi Biden di awal-awal masa kepemimpinannya.

Merawat kembali demokrasi dan persatuan rakyat Amerika  yang di tahun-tahun kemarin telah dicoreng dan juga menimbulkan rusuh bukanlah hal mudah. Bahkan bisa jadi merupakan kendala besar bagi langkah pergerakannya di tahun-tahun pertama, kecuali ia juga bisa melakukan suatu terobosan besar dal;am menangai hal itu.

Dalam pidato pelantikannya yang belasan kali menyeru-nyerukan kata demokrasi bisa jadi mengindikasikan dua hal: pertama, ia memang memiliki good will untuk mengembalikan demokrasi gaya Amerika sebagaimana yang telah berlangsung selama ini; kedua, itu semacam retorika yang mengingatkan rakyat Amerika bahwa mereka telah lama memiliki kehidupan yang berjiwa demokratis mengingat sempat terjadinya kerusuhan dan runtuhnya cara-cara demokratis dalam kehidupan politik di masa-masa kemarin.

Menarik apa yang diungkapkan media Antara dalam kupasannya tentang tantangan yang dihadapi Biden. Media ini mengungkapkan bahwa empat tahun pemerintahan Donald Trump, ditambah masa pemilu November lalu, telah membuat bangsa Amerika terbelah justru ketiktantangan yang dihadapi AS, terutama pandemic, memerlukan gerak Bersama semua elemen bangsa.  Meskipun begitu, Biden juga memberikan pesan tegas untuk mengalahkan apa yang disebutnya sebagai ekstremisme politik, rasisme supremasi kulit putih dan terorisme domesti.

Biden mengungkapkan bahwa suara rakyat telah didengar dan suara rakyat telah diindahkan. “Kita kembali diingatkan bahwa demokrasi itu berharga dan rapuh. Sampai detik ini saudara-saudaraku, demokrasi menang. Ini harinya Amerika. Ini harinya demokrasi!” seru Biden (Antaranews.com, “Merawat Demokrasi dan Persatuan, Tantangan Terberat Joe Biden”, 21 Januari 2021).

Jika melihat sepak terjang Biden selama ini, orang-orang boleh berharap banyak bahwa demokrasi akan kembali kepada kehidupannya sebagai sistem yang telah lama dianut oleh bangsa Amerika. Di usianya yang ke-78, Bidan bukanlah ‘orang baru’ dalam kancah politik dan pemerintahan. Orang bisa menyelusuri riwayat politiknya dari jejak digital di internet. Inilah mengapa harapan bahwa demokrasi Amerika akan kembali berlangsung seperti sedia kala.

Sebetulnya demokrasi di Amerika Serikat akan sulit runtuh. Jauh sebelum negara Amerika Serikat ini dibangun, bibit-bibit demokrasi telah berakar dalam kehidupan koloni-koloni yang akhirnya sepakat membangun sebuah negeri bernama Amerika Serikat. Demokrasi sebagai sistem kehidupan masyarakat dan sistem pemeritahan telah begitu terjiwa dalam kehidupan rakyat Amerika.  Jika kemudian demokrasi  sempat ‘tergoyang’, itu hanya bersifat kasuistis.

Tetapi bagaimana pun, kemunculan Biden—dilihat dari dedikasi, pengalaman dan itikadnya—harus dibuktikan, setidaknya dalam 100 hari pertama dalam masa kerjanya. Inilah yang ditunggu-tunggu terutama oleh rakyat Amerika, sanggupkah Biden melakukan lompatan besar dalam mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa Amerika. Dan yang paling utama, sanggupkah dia mengembalikan demokrasi dan menyatukan rakyat Amerika dan memberi masa depan yang gemilang. Orang-orang menunggu bagaimana kehidupan demokrasi rasa Biden.

(PS/24012021)

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *