Catatan Jagad N *)
Keberagaman suku, tradisi, dan adat istiadat merupakan kekayaan terbesar sekaligus fondasi utama yang menjaga keharmonisan Nusantara. Di tengah gempuran peradaban modern yang serba digital, komitmen untuk merawat identitas bangsa menjadi tantangan tersendiri. Salah satu wujud nyata dari keteguhan menjaga warisan leluhur tersebut terpancar dari eksistensi Zikir Nazam di bumi Kalimantan Barat.
Sebagai seni budaya religi yang sarat akan makna, Zikir Nazam bukan sekadar lantunan syair pujian. Ia adalah detak jantung kebudayaan Melayu yang merekatkan nilai spiritualitas dengan keharmonisan sosial. Pengukuhan Pengurus Perkumpulan Ikatan Seni Budaya dan Zikir Nazam (PISBZN) Kota Singkawang baru-baru ini menjadi penanda penting bahwa masyarakat adat menolak untuk kehilangan jati dirinya.
Ketua DPD Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Singkawang menegaskan bahwa Zikir Nazam adalah akar Melayu yang masih hidup dan harus terus disiram agar tidak lekang oleh waktu. Di dalam setiap bait nazam yang dilantunkan, terdapat transmisi nilai-nilai moral, sejarah, dan petuah bijak yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tantangan kebudayaan hari ini bukan lagi tentang mempertahankan tradisi di ruang isolasi, melainkan bagaimana mengenalkannya secara adaptif kepada generasi muda. Menjaga tradisi seperti Zikir Nazam agar tetap hidup di ruang publik merupakan langkah taktis untuk membentengi moral bangsa dari disorientasi budaya akibat arus globalisasi.
Sikap setia pada adat dan konsisten merawat tradisi lokal inilah yang pada akhirnya menjadi pengawal kedamaian di tengah keberagaman Nusantara. Indonesia akan tetap kokoh berdiri bukan karena keseragaman, melainkan karena setiap suku dan daerah—dari ujung Sumatra hingga Papua—mampu menjaga nyala api budayanya masing-masing agar tetap hidup di hati masyarakatnya
*) Penggiat Budaya, Pemimpin Redaksi Nusantaranews.co












