Oleh: Jagad N *)
Selamat pagi pembaca setia strateginews.id. Kopi hitam di meja sudah mulai hangat, sehangat konstelasi politik dan ekonomi tanah air dalam 24 jam terakhir. Kalau kita buka gawai pagi ini, riuh rendah ruang publik kita sedang terbelah oleh dua magnet besar: polemik hukum tata negara di Jakarta dan strategi bertahan hidup sektor riil di tengah ketidakpastian global.
Mari kita obrolkan yang pertama sambil menyeruput kopi. Keputusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 742 K/TUN/2026 yang membatalkan Surat Keterangan penyetaraan ijazah SMA Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sukses membuat tensi di Senayan naik.
Komentar menarik datang dari begawan hukum tata negara, Prof. Jimly Asshiddiqie. Dengan gaya bahasanya yang taktis, beliau mengingatkan kita semua bahwa jalur impeachment itu panjang, berliku, dan melibatkan kuorum super ketat di DPR hingga pembuktian akhir di Mahkamah Konstitusi.
Namun, ada kalimat penutup yang menggelitik etika publik: semua drama konstitusi itu sebenarnya bisa selesai lebih cepat jika yang bersangkutan memilih mundur secara legawa demi etika. Bola panas kini menggelinding di tangan para politisi Senayan. Kita lihat saja, apakah ini akan menjadi komoditas tawar-menawar koalisi atau riak murni penegakan hukum.
Bergeser ke meja sebelah, para pelaku usaha dan bank sentral kita juga sedang punya “hajatan” yang tak kalah mendebarkan. Ketika The Fed di AS sedang galak-galaknya bersikap hawkish hingga membuat harga emas global rontok, Bank Indonesia (BI) justru mengirimkan sinyal tenang. Likuiditas uang beredar (M2) kita tumbuh kokoh di angka 8,3 persen pada September lalu. Ini adalah kabar baik bagi napas sektor riil.
Ditambah lagi, Kadin Indonesia di bawah Anindya Bakrie baru saja merapikan barisan lewat Rapimnas 2026 dengan visi “Ekonomi Kerakyatan untuk Indonesia Mendunia.” Yang menarik adalah bagaimana momentum ini dikawinkan dengan lompatan 27,23 juta akun keuangan baru versi OJK. Ini bukan sekadar angka di atas kertas, bosku. Ini artinya, UMKM di pelosok desa sekarang punya digital footprint alias rekam jejak digital. Bermodal akun resmi ini, mereka lebih mudah dapat modal dari perbankan untuk masuk ke rantai pasok industri besar, lalu terbang ke pasar global.
Intisari catatan pagi ini sederhana: di saat panggung politik sibuk menguji tiang-tiang konstitusi, benteng ekonomi kita justru harus diperkuat dari bawah—lewat inklusi keuangan dan ketahanan pangan. Politik boleh hangat, tetapi dapur sektor riil harus tetap mengepul.
Selamat beraktivitas, selamat ngopi, dan mari kita kawal terus nalar sehat bangsa ini.
*) Pemimpin Redaksi Strateginews.id










