Oleh, DR. Suriyanto.,SH.,MH.,M.Kn
*) Praktisi Hukum/Ketum PWRI
Sejarah Islam Nusantara/ Indonesia selama ratusan tahun diajarkan berasal dari Gujarat, India, pada abad ke-13. Namun temuan makam kuno di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, meruntuhkan teori tersebut. Di sana berdiri 44 makam kuno yang batu nisannya bertuliskan tahun 48 Hijriah atau 670 Masehi, hanya 38 tahun setelah Rasulullah SAW wafat pada 632 Masehi.
Fakta ini menjadi bukti fisik bahwa Islam telah menginjakkan kaki di Nusantara sejak abad ke-7, bukan abad ke-13. Makam Syekh Ruknuddin, Syekh Mahmud, dan Syekh Syamsuddin Al-Hadrami di Kompleks Mahligai Barus menunjukkan adanya ulama yang datang langsung dari Jazirah Arab, bukan dari India.
Barus pada masa itu bukan kampung kecil. Ia adalah pelabuhan internasional penghasil kapur barus terbaik dunia, yang harumnya sampai ke istana Kaisar Romawi dan Raja Persia. Catatan pedagang Yunani, Ptolemeus, dan catatan Arab menyebut Barus sebagai pelabuhan emas. Wajar jika para sahabat dan tabi’in yang berdagang sekaligus berdakwah memilih Barus sebagai titik pertama penyebaran Islam.
Lalu siapakah kaum kaya Gujarrad yang selama ini disebut-sebut? Sejarahwan Islam meluruskan bahwa mereka bukan orang India asli. Mereka adalah pedagang Arab Quraisy dari Hadramaut yang menjadikan Gujarat, India, sebagai pangkalan transit perdagangan rempah. Kapal mereka berlayar dari Aden – Gujarat – Barus. Missi dakwah tetap dibawa langsung oleh orang Arab Makkah dan Madinah, hanya perahunya singgah di Gujarat.
Kesalahan fatal ini sengaja dipelihara oleh penjajah Belanda. Melalui orientalisnya, C. Snouck Hurgronje, yang pada 1885 menyamar menjadi Haji Abdul Ghaffar dan tinggal di Makkah, Belanda menjalankan operasi intelijen agama. Snouck menyimpulkan bahwa Islam Indonesia harus digambarkan sebagai Islam campuran, Islam sinkretis yang tercampur Hindu-Buddha dari India, bukan Islam murni dari Makkah.
Teori tersebut kemudian dilegalkan melalui ilmuwan kolonial J.P Moquette dan Pijnappel yang menulis buku pelajaran untuk sekolah Hindia Belanda. Mereka menulis bahwa Islam Nusantara dari Gujarat. Tujuannya jelas, politik Devide et Impera atau pecah belah. Belanda paham, kekuatan perlawanan rakyat Nusantara seperti Perang Paderi, Perang Diponegoro, dan Perang Aceh selalu mendapat fatwa jihad dan bantuan logistik dari ulama Haramain di Makkah dan Madinah.
Jika sanad ruhani antara ulama Nusantara dan ulama Makkah-Madinah bisa diputus, maka perlawanan bisa dipadamkan. Caranya adalah dengan menanamkan rasa rendah diri bahwa Islam kita adalah Islam kelas dua, Islam dari India, bukan Islam langsung dari pusatnya. Inilah kejahatan Dajjal Belanda yang tidak hanya menjajah fisik, tapi menjajah mata rantai ruhani.
Dampaknya terasa hingga hari ini. Sistem pendidikan kolonial menghapus kisah Barus, Pasai, dan Samudra Pasai yang bersanad ke Makkah. Ulama besar Nusantara yang mengajar di Masjidil Haram seperti Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Imam Masjidil Haram dari Minangkabau, dan Syekh Nawawi Al-Bantani, digambarkan Belanda di buku sejarah sebagai pemberontak dan pembangkang pemerintah.
Padahal fakta sanad menunjukkan sebaliknya. Sejak abad ke-10 Masehi sudah ada perkampungan khusus orang Jawah atau orang Nusantara di Makkah. Mereka belajar dan mengajar di Masjidil Haram. Mata uang emas Kerajaan Samudra Pasai menggunakan khat Arab gaya Makkah, bukan khat India. Adat Minangkabau yang berbunyi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah adalah adopsi langsung sistem peradilan Qadhi Makkah.
Sejarawan dari Universitas Islam Madinah, Dr. Abdullah Al-Harbi, dalam penelitiannya menegaskan bahwa jalur penyebaran Islam ke Nusantara adalah jalur laut langsung yang disebut Jalur Sutra Maritim Islam. Para pendakwahnya adalah pelaut ulama dari Hadramaut yang memiliki silsilah sampai kepada Rasulullah SAW.
Ini sejalan dengan naskah kuno Hikayat Raja Pasai dan Kitab Bahrul Lahut yang menyebut kedatangan rombongan dakwah Syekh Ismail Al-Kabir dari Makkah langsung ke Pasai dengan kapal yang diutus oleh Syarif Makkah. Mereka tidak datang sebagai pedagang saja, tapi sebagai utusan resmi penyebaran Islam.
Kebohongan Belanda ini harus diluruskan. Islam Indonesia adalah Islam Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang sanadnya lurus dan mulia. Sanadnya bersambung dari Rasulullah SAW kepada sahabat yang dimakamkan di Barus, lalu kepada ulama Pasai, lalu kepada Walisongo, dan terus bersambung kepada ulama-ulama Haramain hingga hari ini.
Barus adalah bukti bahwa kita bukan anak tiri dalam sejarah Islam. Kita adalah anak kandung yang menerima Islam langsung dari tangan pertama, hanya 30 tahun setelah Rasulullah wafat. Kita tidak perlu minder dan tidak perlu mencari legitimasi dari India. Legitimasi kita langsung dari Makkah dan Madinah.
Sudah saatnya pemerintah melalui BRIN dan Kementerian Pendidikan melakukan ekskavasi besar-besaran di Barus bersama ahli epigrafi dari Arab Saudi. Menetapkan Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara dan mengganti teori Gujarat di kurikulum sekolah dengan fakta Barus 670 Masehi. Karena meluruskan sejarah adalah bagian dari melawan penjajahan yang masih bercokol di dalam pikiran bangsa.






