Catatan Jagad N *)
Langkah kaki peradaban modern sering kali membuat kita lupa pada tanah tempat kita berpijak. Di tengah riuh rendah angka likuiditas keuangan, statistik inflasi global, dan kecemasan anomali iklim, ada satu panggilan mendasar yang kembali bergema dari sanubari ibu pertiwi: jalan pulang menuju Nusantara.
Pulang dalam konteks ini bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah kesadaran geopolitik dan kultural yang matang. Inisiatif ekonomi-kebudayaan seperti Tallukarsa Pangan Sulampua yang diperbincangkan belakangan ini, pada hakikatnya adalah manifesto kecil dari peta besar yang sedang kita lukis bersama. Sebuah peta kuno yang kini relevan kembali, yakni mewujudkan Nusantara yang gemah ripah loh jinawi—sebuah tatanan tanah air yang subur makmur, tenteram, serta berkecukupan pangan dan sandang bagi seluruh rakyatnya.
Membangun Kedaulatan dari Akar Sendiri
Nusantara bukanlah sekadar untaian pulau di atas peta laut. Ia adalah sebuah ekosistem kehidupan yang mandiri. Berabad-abad lalu, nenek moyang kita tidak pernah bergantung pada rantai pasok global yang rapuh. Mereka membaca bintang untuk menanam, memahami pola angin untuk berniaga, dan menjaga hutan serta laut sebagai lumbung abadi.
Ketika hari ini kita dihadapkan pada ancaman krisis pangan dan ketergantungan impor, filosofi tata kelola berbasis kearifan lokal seperti Karsa Daya (kemandirian produksi), Karsa Sambung (konektivitas antar-pulau), dan Karsa Tata (keadilan distribusi) hadir sebagai jawaban otentik. Kita tidak perlu mendiktekan formula asing yang berjarak dari realitas lapangan. Tanah kita cukup subur, laut kita cukup kaya, dan manusianya cukup tangguh untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Gemah ripah loh jinawi tidak akan pernah dicapai melalui ketergantungan. Ia hanya bisa dijemput jika kita berani memotong rantai mafia pangan, membongkar skandal penyelewengan hak-hak rakyat, serta mengembalikan tanah dan benih kepada para petani dan nelayan sebagai pilar utama kedaulatan bangsa.
Mengawal Kedamaian Melalui Harmoni Adat
Perjalanan menuju kemakmuran sejati tidak bisa dilepaskan dari stabilitas sosial yang berakar pada adat istiadat. Seperti yang sering disuarakan oleh para penjaga adat di berbagai pelosok daerah, kesetiaan pada adat adalah kunci utama dalam mengawal kedamaian dan keharmonisan di bumi Nusantara. Adat mengajarkan kita batas; ia mendidik manusia untuk tidak serakah mengambil hasil bumi, sekaligus mewajibkan kita untuk saling berbagi dalam semangat gotong royong (Pesse/Pacce).
Ketika pembangunan ekonomi berjalan seiring dengan penghormatan terhadap pranata sosial tradisi, maka pertumbuhan itu tidak akan menghasilkan ketimpangan. Kemakmuran regional di wilayah timur seperti Sulawesi, Maluku, dan Papua bukan lagi sekadar angka pelengkap pertumbuhan nasional, melainkan motor penggerak kesejahteraan yang inklusif dan merata dari pinggiran.
Menatap Masa Depan Nusantara
Kembali ke Nusantara adalah sebuah ketegasan sikap. Kita menghargai modernitas, kita memanfaatkan teknologi instrumen moneter, namun kita menolak kehilangan identitas. Martabat bangsa ini diletakkan di atas kemandirian nyata, bukan di atas kontrak-kontrak yang mendikte hajat hidup orang banyak.
Melalui sinergi kebijakan yang membumi, pembersihan birokrasi dari para spekulan pangan, serta penguatan kembali mentalitas luhur gotong royong, optimisme itu harus tetap kita rawat. Jalan menuju gemah ripah loh jinawi masih terbentang luas di hadapan kita. Tugas kita sekarang adalah memastikan seluruh elemen bangsa—dari hulu hingga hilir—bergerak bersama dalam satu kompas yang sama: mengawal keharmonisan, menegakkan keadilan, dan menjemput kedaulatan di tanah air sendiri.
Nusantara hari ini sedang memanggil kita semua untuk pulang dan menata rumah bersama.
*) Penggiat Budaya








