OPINI  

Sindiran Tajam untuk Elit Partai di Daerah, Golkar Jangan Jadi ‘Perusahaan Keluarga’

Catatan: Deon Yohanes Wonggo

Pernyataan tajam datang dari Politisi Golkar Maman Abdurrahman mengingatkan bahwa partai politik tidak boleh dijadikan alat untuk memperpanjang kekuasaan keluarga. Bagi Dia, partai hanya akan tumbuh kuat jika dipimpin oleh kader yang lahir dari proses organisasi, bukan dari warisan dinasti.

Pernyataan ini bukan sekedar kritik biasa. Di tengah dinamika politik nasional, peringatan tersebut terasa seperti sindiran keras terhadap praktik politik dinasti yang masih mengakar di berbagai daerah, termasuk di tubuh Partai Golkar sendiri.

Dalam praktik politik daerah, fenomena politik dinasti bukan lagi rahasia. Pada beberapa provinsi, kepemimpinan partai kerap berputar di lingkaran keluarga yang sama. Jabatan strategis diwariskan, bukan melalui kompetisi kaderisasi yang sehat, melainkan melalui kedekatan darah dan kekuasaan.

Situasi seperti ini menimbulkan pertanyaan serius, apakah partai masih menjadi rumah kader, atau justru berubah menjadi semacam “perusahaan keluarga” yang diwariskan turun-temurun?

Jika pola ini terus dipertahankan, partai berisiko kehilangan energi kader muda yang sebenarnya memiliki kapasitas, namun tidak memiliki akses terhadap lingkaran kekuasaan.

Sejak lama, Partai Golkar dikenal sebagai partai dengan sistem kaderisasi kuat. Banyak tokoh nasional lahir dari proses panjang di organisasi sayap, struktur daerah, hingga tingkat pusat.

Namun ketika politik mulai mendominasi, proses kaderisasi bisa tergerus. Kader bertahun-tahun membangun partai dari bawah sering kali tersisih oleh figur yang datang dengan “modal nama keluarga”.

Akibatnya, meritokrasi dalam partai perlahan memudar. Pernyataan Maman Abdurrahman seharusnya menjadi refleksi serius bagi seluruh struktur Partai Golkar di berbagai provinsi di Indonesia.

Jika partai ingin tetap relevan dan dipercaya publik, maka kepemimpinan daerah harus dibangun melalui mekanisme demokratis yang transparan dan kompetitif.

Partai besar seperti Golkar memiliki sejarah panjang dalam politik Indonesia. Namun sejarah saja tidak cukup. Tanpa regenerasi yang sehat, partai bisa kehilangan daya tarik di mata pemilih, terutama generasi muda yang semakin kritis terhadap praktik oligarki politik.

Golkar saat ini menghadapi pilihan penting, mempertahankan tradisi kaderisasi yang kuat, atau membiarkan praktik politik dinasti terus tumbuh di tingkat daerah.

Loyalitas kepada keluarga atau kelompok tertentu mungkin memberikan keuntungan jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, integritas organisasi jauh lebih menentukan masa depan partai.

Sindiran Maman Abdurrahman bukan sekedar kritik personal. Ia adalah alarm politik bagi Golkar di seluruh provinsi, bahwa kekuatan partai tidak dibangun dari nama keluarga, tetapi dari kader tertempa oleh proses panjang dalam organisasi.

Jika pesan ini diabaikan, bukan tidak mungkin partai yang pernah menjadi salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia justru terjebak dalam lingkaran kekuasaan yang semakin sempit dan ketika partai kehilangan ruang kaderisasi, yang tersisa hanyalah dinasti, bukan demokrasi.

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *