NUSANTARANEWS.co, Yogyakarta – Kekuasaan bukanlah hak istimewa, melainkan dorongan bagi pemimpin untuk semakin bergelora dalam mengabdi dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati. Kepemimpinan yang terjadi pada situasi saat ini adalah kepemimpinan yang melayani dengan kerendahan hati, melibatkan, serta mendengarkan seluruh pihak dengan seksama.
Hal tersebut disampaikan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Orasi Kebangsaan pada Perayaan Dies Natalis Ke 76 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) pada Senin, (09/02). Digelar di Wisma Immanuel, Depok, Sleman, turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Kepala Badan Intelijen dan Keamanan Polri, Brigjen Pol Nanang Rudi Supriatna, Wakil Kepala Kepolisian Daerah DIY, Eddy Junaidi serta segenap undangan tamu.
“Pemimpin hadir bukan untuk ditinggikan, tetapi untuk menegaskan hati demi kemaslahatan bersama. Kuasa bukan hak istimewa, semangat mengabdi inilah yang menjadi jiwa demokrasi. Ketika setiap orang dilibatkan, setiap suara dihargai, dan setiap keputusan diambil demi kebaikan bersama,” tambah Sri Sultan.
Sri Sultan menekankan, para pemimpin perlu belajar dari falsafah jawa Hamemayu Hayuning Bawana , yakni ikhtiar dalam memperindah, memperbaiki, dan menjaga keselamatan dunia. “Kepemimpinan difahami sebagai laku memelihara keharmonisan antara manusia, masyarakat, dan semesta. Nilai ini sejalan dengan etika pelayanan dalam iman kristiani.Bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang diaklikkan bagi sesama,” jelas Gubernur DIY.
Lebih lanjut, Sri Sultan menyoroti sejumlah permasalahan utama yang menjadi ancaman bagi kehidupan bermasyarakat. Polarisasi politik, risiko ekonomi, destruksi teknologi khususnya teknologi digital, serta arus informasi yang cepat namun terpecah belah, menurutnya membuat masyarakat semakin rentan terfragmentasi.
“Dalam kehidupan berbangsa saat ini, kita sangat memerlukan apa yang sering disebut persahabatan sipil yang menempatkan setiap orang setara dalam martabat, menghormati perbedaan, dan menjaga ruang publik tetap berkeadaan. Tanpa semangat itu, demokrasi mudah berubah menjadi konfrontasi yang melelahkan,” tegas Sri Sultan.
Menyambut peringatan HUT ke-76 GMKI, Sri Sultan menilai, 76 tahun perjalanan GMKI merupakan sebuah jejak pengabdian yang ikut berperan dalam terbentuknya identitas negara melalui kontribusi pikiran, keberanian moral, dan kerja nyata di masyarakat tengah. GMKI bukan sekedar organisasi kaderisasi, melainkan ruang pembentukan hati nurani masyarakat. “Dari sanalah lahir generasi yang terbidik bukan semata-mata oleh ilmu, melainkan oleh nilai kasih, keadilan, dan tanggung jawab terhadap sesama,” pungkas Sri Sultan.
Sri Sultan berharap, GMKI terus menjadi rumah pengembangan karakter generasi muda yang mampu melahirkan kader-kader berprestasi, berintegritas, dan mampu merangkul sesama. “Sekali lagi, bangsa ini membutuhkan generasi yang (dapat) menjahit perbedaan menjadi persatuan, yang menyalakan harapan di tengah tantangan yang menjamur,”. tutup Gubernur DIY.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI 2025-2027, Prima Surbakti, berbagi refleksi mengenai perjalanan panjang pengabdian yang telah dilalui GMKI selama 76 tahun. Menurutnya, GMKI berhasil menjadi rumah doa sekaligus rumah talenta, yang melahirkan pemimpin yang berintegritas, bermoral, berdaya saing bagi para kadernya.
“Kita telah mewujudkan tujuan organisasi selama 76 tahun, yaitu GMKI menjadi rumah doa dan rumah talenta. Dari ruang-ruang kontrol, ruang organisasi, kontribusi talenta untuk melahirkan pemimpin yang memiliki integritas, moral, daya saing, serta menjalankan nilai-nilai profetik dalam menjaga eksistensi gereja agar bisa mengisi cita-cita bangsa dan negara,” jelas Prima.
Menjelang tahun-tahun ke depan, Prima berharap GMKI dapat menjawab segala tantangan yang menghadang, serta berhasil mengoptimalkan potensinya dalam memberikan keamanan dan kenyamanan bagi seluruh anggota. “GMKI harus menjadi komunitas yang aman, berbagi pengalaman belajar dari satu sama lain, sekaligus membangun keintiman para anggotanya,” imbuhnya.
Humas Pemda DIY






