Oleh: Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)
Ada begitu orang yang ketika berada dalam titik terendah, sangat membutuhkan tempat berlindung dan bersandar. Beban hidup terasa sangat berat dan mengguncangkan hati sehingga tubuh pun menjadi goyah dan membuat batin dan tubuh jatuh terpuruk. Inilah saat-saat genting dan disaat ini kita membutuhkan tali pegangan agar tidak terjatuh dan terperosok.
Sebagian orang menggunakan cara negatif agar bisa melupakannya. Namun, melupakan bukan berarti masalah terselesaikan. Ada juga yang berusaha menekan berbagai masalah itu ke dalam hati yang terdalam sambil berusaha berpegang pada nila-nilai kebenaran yang diyakininya. Namun, ketika hati masih mempertimbangkan untung-rugi, seringkali endapan tekanan itu akhirnya meledak juga dalam bentuk perilaku yang tak terkendali.
Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk menyadari niat kehidupan kita. Jika kita menyadari bahwa segala-Nya adalah pemberian dari Sang Mahakuasa, jika kita menyadari bahwa Sang Mahakuasa adalah satu-satunya Wujud Kesempurnaan dan karenanya hidup ini adalah perjalanan menuju kesempurnaan hakiki, maka sesungguhnya kehidupan inilah adalah tempat ujian agar dengan ujian itu kita berusaha dengan segenap ikhtiyar agar bisa menaikkan level kesempurnaan diri kita. Bergerak dari akhlak rendah ke akhlak mulia.
Alih-alih merasa terpuruk dengan beban kehidupan, kita justru merasa memiliki tali pegangan. Karena tali pegangan inilah tujuan dan sandaran utama kita. Tidak ada lagi untung-rugi kehidupan. Yang ada adalah ikhlas menjalani ujiannya. Maka pada sisi ini, tali pegangan pun berfungsi sebagai tempat bersandar dari segala keresahan hati. Siapa yang berserah diri kepada Allah dan dia seorang muhsin, maka sungguh dia telah berpegang teguh pada buhul (tali) yang kukuh. Hanya kepada Allah kesudahan segala urusan (QS 31:22).
@pakarpemberdayaandiri











