MANOKWARI, Papua Barat, NUSANTARANEWS.co — Di balik birunya laut Manokwari, terdapat perjuangan panjang para nelayan tuna yang setiap hari bertaruh dengan waktu, cuaca, dan ketidakpastian pasar. Bagi La Ode Arsan (37 tahun), nelayan asal RT 003/RW 003, Padarni, Distrik Manokwari Barat, laut bukan sekadar tempat bekerja, tetapi ruang kehidupan yang telah ia jalani sejak duduk di kelas 4 sekolah dasar.
Aktivitas Arsan bersama nelayan tuna lainnya menjadi perhatian mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Caritas Indonesia dalam kegiatan pengamatan langsung lapangan bagi mahasiswa yang mengambil mata kuliah Pengantar Bisnis dan Etika Bisnis. Melalui pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), mahasiswa tidak hanya memahami teori bisnis dari ruang kelas, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sebuah usaha tumbuh, menghadapi tantangan, dan menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat dari sumber daya laut.
Kegiatan tersebut memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana sebuah bisnis berjalan dari tingkat paling dasar, mulai dari proses produksi, penggunaan teknologi sederhana, sistem kerja, rantai pemasaran, hingga berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha kecil masyarakat pesisir.
Dosen pengampu mata kuliah Yohanes Ada Lebang, SP., SH., M.Si, yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Caritas Indonesia, mengatakan bahwa pembelajaran bisnis tidak cukup hanya melalui teori di ruang kelas.
“Mahasiswa harus melihat langsung bagaimana masyarakat menjalankan usaha. Dari nelayan tuna ini mahasiswa belajar bahwa bisnis bukan hanya tentang keuntungan, tetapi juga tentang proses, risiko, kerja keras, etika, dan bagaimana menciptakan nilai ekonomi dari potensi lokal,” ujar Lebang.
Dalam aktivitas penangkapan ikan tuna, nelayan Manokwari masih menggunakan teknologi tradisional yang efektif, yaitu rumpon atau alat bantu pengumpul ikan (fish aggregating device/FAD).
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, rumpon dibuat menggunakan drum aspal bekas yang dicor dan berfungsi sebagai jangkar agar alat tersebut dapat bertahan pada posisi tertentu di laut. Prinsip kerja rumpon memanfaatkan perilaku alami ikan, termasuk tuna, yang memiliki kecenderungan berkumpul di sekitar benda terapung maupun benda yang berada di bawah permukaan laut.
Sistem ini memiliki keunggulan karena penangkapan ikan tuna tidak terlalu bergantung pada musim tertentu. Selama masih terdapat ikan-ikan kecil seperti ikan momar sebagai sumber makanan di sekitar rumpon, ikan tuna akan tetap datang untuk mencari mangsa. Kondisi tersebut memungkinkan nelayan melakukan aktivitas penangkapan sepanjang tahun.
Namun, proses mendapatkan hasil tangkapan membutuhkan kesabaran dan perencanaan. Nelayan tidak langsung memperoleh ikan setelah memasang rumpon. Hasil tangkapan baru dapat dipanen dalam rentang waktu minimal 10 hari hingga maksimal 1 bulan sejak rumpon pertama kali diturunkan ke laut.
Dalam satu minggu, nelayan biasanya melaut maksimal tiga kali perjalanan. Setiap perjalanan dilakukan sejak dini hari menuju lokasi penangkapan dengan memasang minimal dua unit rumpon. Perjalanan menuju lokasi rumpon membutuhkan waktu sekitar tiga jam, dengan kebutuhan bahan bakar mencapai 50 liter BBM setiap perjalanan.
Sistem kerja nelayan tuna juga memiliki pola pembagian hasil tersendiri. Hasil tangkapan yang diperoleh dibagi menjadi lima bagian, yaitu untuk tiga orang nelayan, pemilik mesin, dan pemilik perahu. Sistem ini menjadi bentuk kerja sama tradisional yang memperhitungkan kontribusi tenaga kerja sekaligus kepemilikan alat produksi.
Dari sisi pemasaran, hasil tangkapan tuna memiliki dua jalur utama, yaitu melalui pasar tradisional dan perusahaan penampung PT Sahabat Karya Sentosa yang berlokasi di Pasir Putih.
Untuk pemasaran melalui perusahaan, ikan tuna harus dalam kondisi bersih atau telah berbentuk loin, yaitu potongan daging tanpa tulang dan kulit serta siap ditimbang. Perusahaan membeli dengan harga Rp50.000 per kilogram, dengan syarat setiap potongan memiliki berat lebih dari 2 kilogram. Produk tersebut kemudian dikirim untuk kebutuhan ekspor ke Jakarta.
Sementara itu, pemasaran melalui pasar tradisional memiliki variasi harga yang lebih tinggi namun tidak stabil. Harga tertinggi dapat mencapai Rp500.000 untuk ikan dengan berat maksimal 15 kilogram, sedangkan harga terendah berada pada kisaran Rp150.000. Perbedaan harga ini menunjukkan adanya tantangan dalam menjaga kestabilan pendapatan nelayan.
Menurut Lebang, kondisi tersebut menunjukkan bahwa nelayan tuna memiliki potensi ekonomi besar, tetapi membutuhkan dukungan sistem bisnis yang lebih kuat.
Lebang yang memiliki kompetensi profesional sebagai Certified Business Plan (C.BP) dan Certified Consultant Small and Medium Enterprise (C.CSME) atau Konsultan Pendamping UMKM, menilai usaha nelayan tuna dapat berkembang apabila mendapatkan pendampingan dalam manajemen usaha, akses pembiayaan, peningkatan kualitas produk, serta penguatan pemasaran.
Ia juga mendorong pemerintah daerah memberikan perhatian serius terhadap pengembangan sektor perikanan tuna Manokwari melalui pelatihan, bantuan sarana dan prasarana, serta pengembangan hilirisasi produk.
Menurutnya, ikan tuna tidak hanya dapat dijual dalam bentuk hasil tangkapan segar, tetapi memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan hingga pemanfaatan limbah ikan menjadi pupuk organik.
Sebagai pemilik Certified of Environmental Management Leadership (C.EML) dan Certified Performance Management Professional (C.PMP®), Lebang menegaskan bahwa pengembangan usaha masyarakat harus tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Meski memiliki peluang besar, nelayan tuna Manokwari masih menghadapi berbagai hambatan. Faktor cuaca yang tidak bersahabat dapat menghambat aktivitas melaut sekaligus meningkatkan risiko keselamatan. Selain itu, harga pasar yang tidak stabil membuat pendapatan nelayan sulit diprediksi. Risiko lain yang cukup serius adalah pencurian rompong oleh pihak lain yang dapat menyebabkan kerugian material dan menghambat proses penangkapan.
La Ode Arsan berharap perhatian terhadap nelayan semakin meningkat. “Kami berharap ada dukungan untuk nelayan, baik bantuan alat, pelatihan, maupun pengembangan usaha. Kami ingin hasil laut ini tidak hanya menjadi pekerjaan sehari-hari, tetapi bisa berkembang menjadi usaha yang lebih maju dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” ungkap Arsan.
Lebang menyampaikan kesiapan untuk membantu pengembangan usaha nelayan melalui pendampingan bisnis, penyusunan profil usaha, hingga pemasaran digital agar produk tuna Manokwari mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Dari laut Manokwari, mahasiswa belajar satu hal penting: bisnis tidak selalu dimulai dari gedung tinggi dan modal besar. Terkadang, bisnis tumbuh dari perahu kecil, rompong sederhana, dan tangan-tangan nelayan yang menjaga harapan keluarga serta masa depan ekonomi daerah
[Yo/rel]












