OPINI  

Demo Turunkan Presiden? Turunkan JUga Ego dan Kebodohanmu Dulu, di Jalanan Tertib Jangan Merusak

Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn

Oleh; Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn

Esensi demokrasi bukan berteriak paling keras. Esensi demokrasi Adalah menyuarakan kebenaran dengan kepala dingin, bukan melampiaskan amarah dengan batu dan molotov. Demo lahir agar suara rakyat yang bisu di ruang rapat bisa didengar di ruang publik. Bukan agar kota dibakar dan nama baik bangsa dicoreng.

Kalian turun ke jalan dengan spanduk “TURUNKAN PRESIDEN”. Bagus. Itu hak konstitusi. Tapi coba jujur, kalian paham tidak masalah bangsa yang sedang kalian gugat? APBN 2026, utang luar negeri, geopolitik Indo-Pasifik, perang dagang, harga pupuk, dan efek domino krisis global. Atau kalian hanya hafal 3 kata itu karena disodorkan orang?

Gaya kepemimpinan tiap presiden memang beda. Ada yang tenang, ada yang blak-blakan, ada yang teknokrat. Tidak semua harus kamu sukai. Tapi demokrasi tidak pernah mengajarkan: “tidak suka, maka harus tumbang”. Kalau tiap 5 tahun kita ganti presiden lewat teriakan jalanan, maka kita tidak sedang berdemokrasi. Kita sedang bermain monopoli kekuasaan.

Hentikan dusta bahwa semua pendemo suci. Kita sama-sama tahu di lapangan ada yang datang karena idealisme, ada juga yang datang karena amplop. Ada yang orasi karena baca data, ada yang orasi karena disuruh koordinator lapangan. Jangan pura-pura buta. Kalau benar demi rakyat, kenapa harus ada “uang lelah”?

Demo yang benar itu tepat sasaran. Rusak pagar DPR, boleh. Rusak warung warga, haram. Bakar ban di jalan, boleh jadi simbol. Bakar fasilitas umum yang dibangun dari pajak rakyat, itu bunuh diri. Kalian teriak “rakyat menderita”, tapi yang kalian rusak adalah sekolah, halte, dan motor ojek online milik rakyat juga.

Aktivis itu cermin. Orang meniru cara kalian berargumen. Maka memalukan sekali ketika ada sarjana, ada yang mengaku “intelektual”, berteriak dengan kata “bangsat” ke kepala negara di depan kamera. Itu bukan kritik. Itu bukan perimbangan. Itu orang sakit jiwa yang kebetulan pegang megafon. Dan kalian tepuk tangan. Sejak kapan cacian jadi ilmu politik?

Netral. Itu kata yang hilang dari kamus kalian. Demo hari ini bawa bendera partai A. Demo besok tunggangi isu partai B. Katanya untuk rakyat, tapi narasinya selalu muter di poros yang sama. Rakyat butuh orang yang berdiri di tengah, menyuarakan data, bukan berdiri di pinggir sambil menunggu siapa yang bayar paling besar.

Kalian lupa bahwa penderitaan hari ini juga efek domino masa lalu. Kebijakan 10 tahun lalu, 20 tahun lalu. Ditambah perang Rusia-Ukraina, konflik Timur Tengah, dan perang dagang yang bikin harga pangan naik. Apakah semua itu salah 1 orang di Istana? Kalau iya, berarti kalian terlalu naif untuk bicara soal negara.

Lalu ada tipe paling bahaya: malas sekolah, malas kerja, tapi mau hidup enak. Gagal jadi apa-apa, lalu salahkan pemerintah. Negara ini tidak punya mesin ATM. Tidak ada Presiden yang bisa sulap 280 juta orang jadi kaya dalam semalam. Yang ada adalah kerja, kerja, kerja. Dari desa, dari sawah, dari pabrik, dari UMKM.

Jangan jadikan kemiskinan sebagai dalih untuk merusak. Rakyat miskin yang sesungguhnya sedang jualan di pinggir jalan saat kalian lempar batu. Mereka tidak ikut demo karena mereka sedang cari makan. Jangan bawa-bawa nama mereka kalau kelakuan kalian hanya bikin mereka rugi.

Kritik boleh dan Harus. Tanpa kritik negara ini akan busuk. Tapi kritik punya etika. Datang dengan data. Datang dengan solusi. “Pak, kebijakan A salah karena datanya begini. Solusinya B”. Bukan “Turunkan! Lengserkan! Ganti!”. Itu bukan politik. Itu anak SD rebutan mainan.

Ingat, setiap rezim punya waktu. Ada mekanisme: pemilu, DPR, MK, impeachment. Kalau kalian tidak sabar menunggu 2029, maka kalian sedang menghina 80 juta orang yang mencoblos. Demokrasi bukan hanya hak kalian berteriak. Demokrasi juga hak orang lain untuk memilih.

Jangan jadikan kampus sebagai pabrik pembenci. Dosen mengajar logika, bukan dendam. Buku diajarkan agar berpikir, bukan agar menghina. Kalau lulusan terbaik bangsa hanya bisa memaki di jalanan, maka kita sedang mencetak generasi yang pintar tapi tidak punya adab.

Lihat negara lain. Saat krisis global, rakyatnya rapat barisan. Di kita, sedikit-sedikit turun jalan. Sedikit-sedikit salahkan Istana. Padahal BBM naik karena harga minyak dunia. Padahal pangan naik karena gagal panen global. Berhentilah jadi bangsa yang maunya instan.

Kalau kalian benar cinta Indonesia, buktikan di luar jalanan. Mengajar anak putus sekolah. Buka lapangan kerja. Awasi anggaran desa. Laporkan korupsi dengan bukti, bukan dengan hoaks. Itu lebih melelahkan dari pada teriak 3 jam. Tapi itu yang mengubah negara.

Demo bukan panggung sinetron. Tidak perlu drama, tidak perlu kerusuhan agar “masuk TV”. Suara yang paling didengar pemerintah justru surat, audiensi, kajian, dan aksi damai yang tertib. Karena negara akan mendengar orang yang waras, bukan orang yang rusuh.

Sadarlah. Kalian tidak lebih suci dari yang kalian demo. Kalian juga manusia biasa yang bisa salah, bisa dibayar, bisa ditunggangi, bisa emosi. Turunlah ke jalan kalau memang niatnya meluruskan, bukan meruntuhkan. Bersuaralah untuk kebenaran, bukan untuk ego. Karena sejarah mencatat: perusak akan dilupakan, tapi pembangun akan disebut namanya. Pilih mau jadi yang mana.

*) Akademisi/Pengamat Kebijakan Publik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *