Catatan; Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn *)
Pidato seorang Presiden bukan sekadar orasi di atas panggung belaka. Kata demi katanya adalah cerminan negara. Setiap kata yang keluar dari mimbar kepresidenan akan dikutip, dianalisa, dan diingat oleh jutaan rakyat Indonesia serta dunia.
Kita semua tahu gaya Pak Presiden Prabowo: semangat, berapi-api, dan membakar. Itu kekuatan beliau. Rakyat suka pemimpin yang tegas dan tidak bertele-tele. Tapi semangat tanpa kendali dapat melukai.
Belakangan publik mencatat beberapa pernyataan yang sengaja “diplesetkan”atau tidak sengaja. Contohnya soal “gaji pengupas bawang 700 ribu per kilo” harag sawit perkilo 70 ribu dan lainnya yang mebuat presepsi Masyarakat beragam rupa. Lalu membandingakn pula “gaji Ketua MA lebih tinggi dari Singapura”.
Kalimat-kalimat seperti itu memang mengundang tawa, mengundang viral, dan menaikkan rating di era digital. Tapi pertanyaannya: apakah itu pantas keluar dari mulut seorang Kepala Negara?
Presiden bukan content creator. Presiden bukan komedian panggung. Presiden adalah simbol hukum, simbol tata kelola, serta simbol wibawa bangsa dan negara.
Ketika data dipelintir, ketika angka ditambah-kurangi untuk efek dramatis, maka yang terjadi adalah preseden buruk. Rakyat jadi bingung: mana yang fakta, mana yang guyonan.
Lebih berbahaya lagi, pejabat di bawah akan meniru. Menteri akan ikut “plesetan”. Bupati akan ikut lelucon. Akhirnya tata bahasa negara jadi kacau. Serius jadi guyon. Guyon jadi kebijakan.
Di dunia internasional, pidato Presiden disiarkan langsung. Duta besar mencatat. Investor membaca. Lawan politik menganalisa. Satu kalimat yang salah bisa menurunkan kepercayaan pasar. Satu lelucon yang kelewat bisa jadi bahan ejekan global.
Pada Era digital membuat segalanya 10 kali lebih cepat. Potongan 5 detik pidato bisa viral tanpa konteks. Kalau isinya plesetan, maka yang tertanam di kepala publik adalah plesetan itu, bukan visi besarnya. Harusnya hal tersebut dapat menjadi evaluasi pihak istana.
Kita tidak anti kritik. Kita tidak anti gaya. Tapi ada tempatnya. Di rapat internal, di hadapan kader, silakan berapi-api. Di hadapan rakyat luas, di hadapan negara, jaga Marwah dimata dunia.
Menjadi pemimpin 280 juta orang dengan ragam latar, pendidikan, dan emosi itu tidak mudah. Butuh perhitungan. Butuh bijak. Butuh memilih kata seperti memilih peluru.
Pak Presiden juga harus ingat: pemimpin besar itu pendengar yang baik. Kritik di medsos, surat terbuka, suara demo, opini pakar — semua itu sinyal. Jangan dianggap angin lalu hanya karena dianggap “nyinyir”.
Rakyat mengkritik bukan karena benci. Rakyat mengkritik karena berharap. Berharap negara ini diurus dengan serius, dengan data, dengan etika.
Jika tujuannya menaikkan popularitas, caranya bukan dengan plesetan. Caranya adalah dengan kerja nyata yang pidatonya hanya perlu melaporkan fakta. Rakyat akan tepuk tangan sendiri.
Bayangkan jika setiap pidato Presiden isinya data valid, arah jelas, dan bahasa yang mengayomi. Maka tidak perlu buzzer. Tidak perlu klarifikasi. Cukup satu pidato, rakyat tenang.
Kami sebagai rakyat pada umumnya tetap mendukung pemerintahan Presiden Prabowo. Tapi dukungan itu harus diisi dengan saling mengingatkan. Ini bentuk cinta, bukan pembangkangan.
Pak Presiden, semangatnya kami hormati. Apinya kami butuhkan. Tapi tolong, jaga lidah. Jaga kata. Karena dari kata itu lahir kebijakan, dari kata itu lahir peradaban. Dunia sedang melihat. Sejarah sedang mencatat. Bijaklah, karena Anda memimpin bukan hanya hari ini, tapi juga anak cucu kami nanti.
*) Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI






