Oleh: Syahril Syam *)
Banyak orang setiap hari berangkat kerja dengan harapan jalanan harus lancar. Pada hari pertama macet, ia kesal. Hari berikutnya macet lagi, ia makin marah. Minggu berikutnya, meski macetnya sama, penderitaannya terasa berlipat. Padahal kenyataannya tidak berubah secara drastis: kendaraan tetap ramai, lampu merah tetap ada. Yang berulang bukanlah macetnya, melainkan cara kesadarannya membaca apa yang muncul.
Di titik inilah penderitaan berulang bekerja. Penderitaan tidak lahir semata-mata karena kenyataan hidup – perubahan, kehilangan, ketidakpastian, kegagalan, atau jarak antara harapan dan realitas. Semua itu adalah bagian normal dari hidup. Penderitaan mulai terbentuk ketika setiap pengalaman yang muncul ditolak secara halus melalui klaim batin: “seharusnya tidak begini,” “harusnya aku tidak mengalami ini,” “hidup mestinya lebih adil.” Klaim inilah yang menjadi kacamata permanen dalam membaca realitas. Apapun yang datang – orangnya berbeda, situasinya berganti – rasanya tetap sama: kecewa, marah, lelah, atau putus asa.
Seseorang merasa selalu “sial” dalam hubungan. Pasangannya berganti-ganti, tetapi polanya mirip: merasa tidak dihargai. Dari luar terlihat seperti takdir buruk. Namun jika dilihat lebih dekat, setiap relasi dibaca dengan orientasi yang sama: “Pasangan harus memenuhi kebutuhanku agar aku merasa berharga.” Ketika kenyataan tidak sesuai, muncullah emosi yang sama. Yang berulang bukan orangnya, melainkan orientasi kesadarannya terhadap pengalaman.
Contoh lainnya dapat dilihat pada seseorang yang merasa hidupnya selalu “tidak stabil secara finansial”. Setiap kali menerima uang – gaji, bonus, atau pemasukan tambahan – muncul rasa cemas: “Ini tidak cukup,” “Nanti pasti habis,” “Seharusnya aku sudah lebih mapan.”
Secara kasat mata, masalahnya tampak sebagai kondisi ekonomi. Namun jika diperhatikan lebih dalam, penderitaannya tidak muncul saat uang berkurang, melainkan saat pengalaman keuangan dibaca melalui klaim bahwa kenyataan harus sudah aman dan pasti. Ketika pengeluaran datang atau rencana tidak berjalan mulus, emosi yang sama muncul lagi: gelisah, takut, dan tertekan. Polanya terasa berulang, seolah hidup terus “menghukum”, padahal yang konsisten adalah orientasi kesadarannya terhadap uang dan ketidakpastian.
Otak menilai situasi bukan berdasarkan fakta objektif semata, tetapi berdasarkan standar internal tentang “seharusnya”. Saat standar itu kaku – misalnya hidup harus selalu aman dan terkontrol – setiap variasi normal dalam realitas (pengeluaran tak terduga, fluktuasi pendapatan, dinamika hidup) dipersepsikan sebagai ancaman. Sistem saraf pun merespons dengan stres. Dari waktu ke waktu, respons ini menjadi otomatis karena jalur saraf yang sama terus diaktifkan. Akibatnya, meski kondisi keuangan membaik, rasa tidak aman tetap muncul. Yang berulang bukanlah kenyataan finansialnya, melainkan cara kesadaran menafsirkan apa yang muncul.
Ada juga kasus ketika seseorang sering berkata, “Kenapa ya, aku selalu bertemu orang yang mengecewakan?” Rekan kerja berganti, pasangan berubah, lingkar pertemanan pun tidak sama, tetapi rasa yang muncul tetap serupa: dikecewakan, tidak didukung, atau tidak dihargai. Dari luar, ini tampak seperti nasib buruk atau kesalahan orang lain. Namun jika ditelusuri dengan lebih jernih, yang berulang bukanlah orang-orangnya, melainkan cara kesadaran membaca hubungan.
Biasanya ada klaim batin yang diam-diam bekerja, misalnya: “Orang lain seharusnya memahami aku,” “Mereka harus bersikap sesuai harapanku,” atau “Jika mereka peduli, mereka tidak akan berbuat seperti ini.”
Ketika kenyataan tidak memenuhi klaim tersebut – orang lupa janji, bersikap biasa saja, atau memiliki prioritas berbeda – muncullah kekecewaan. Lalu, klaim yang sama dibawa ke pertemuan berikutnya dengan orang yang berbeda. Akibatnya, pengalaman emosionalnya terasa sama, seolah hidup mengulang cerita yang identik.
Secara ilmiah, pola ini dapat dijelaskan melalui skema relasional dalam psikologi. Skema adalah kerangka mental yang terbentuk dari pengalaman masa lalu dan digunakan otak untuk memprediksi perilaku orang lain. Ketika seseorang memiliki skema “aku sering tidak diprioritaskan”, otak akan secara selektif memperhatikan tanda-tanda yang menguatkan keyakinan itu dan mengabaikan informasi lain. Fenomena ini dikenal sebagai bias konfirmasi. Hasilnya, setiap interaksi yang sedikit meleset dari harapan langsung dibaca sebagai bukti bahwa orang lain mengecewakan.
Selain itu, emosi kecewa yang berulang akan memperkuat jalur respons yang sama dalam sistem saraf. Lama-kelamaan, kekecewaan muncul lebih cepat, bahkan sebelum orang lain benar-benar berbuat sesuatu. Pada titik ini, penderitaan terasa seperti berasal dari luar, padahal yang aktif adalah orientasi kesadaran yang menuntut kenyataan harus sesuai dengan standar tertentu.
Dalam psikologi kognitif, pengalaman mentah (apa yang terjadi) hampir selalu diproses melalui penilaian atau appraisal. Ketika penilaian dasarnya adalah “ini tidak boleh terjadi”, sistem saraf masuk ke mode ancaman. Emosi negatif muncul bukan karena peristiwa, tetapi karena makna yang dilekatkan padanya.
Otak manusia bekerja secara prediktif: ia terus menebak apa yang akan terjadi berdasarkan pola lama. Jika orientasi kesadaran menolak kenyataan, otak akan mencari dan menyoroti bukti-bukti yang menguatkan penolakan itu. Inilah sebabnya mengapa orang merasa “kejadian ini terulang lagi”, padahal detailnya berbeda. Yang aktif adalah pola prediksi lama, bukan realitas baru.
Walhasil, setiap kali pengalaman dibaca dengan klaim yang sama dan menghasilkan emosi yang sama, jalur saraf tersebut diperkuat (reinforcement). Akibatnya, respons penderitaan menjadi otomatis. Inilah yang membuat penderitaan terasa seperti nasib, padahal ia adalah kebiasaan kesadaran.
Penderitaan berulang bukanlah bukti bahwa hidup “jahat” atau “tidak adil”. Ia adalah tanda bahwa kesadaran terus berdiri di arah yang sama, membaca setiap pengalaman melalui klaim lama: kenyataan harus sesuai dengan harapanku. Selama orientasi ini tidak disadari, hidup akan terus tampak seperti mengulang cerita yang sama – meski tokoh dan latarnya berganti. Yang perlu dipahami bukan bagaimana mengubah kenyataan secepat mungkin, melainkan bagaimana kesadaran sedang menghadap kenyataan itu sendiri. Di situlah akar penderitaan berulang berada.
Dalam kerangka ini, tidak menerima tidak berarti harus pasrah atau menyerah pada keadaan, tidak menilai penolakan bukan berarti menganggapnya sebagai sesuatu yang salah atau keliru, dan tidak meminta emosi untuk dihilangkan bukan berarti membiarkan emosi merusak diri. Yang dimaksud adalah perubahan cara hadir terhadap pengalaman: apapun yang terjadi – baik kejadian, pikiran, maupun emosi – dilihat apa adanya tanpa langsung dilawan, ditekan, atau dibenarkan.
Secara ilmiah, sikap ini selaras dengan temuan psikologi modern bahwa usaha berlebihan untuk menghindari atau menghapus emosi justru memperkuat tekanan batin dan respons stres. Dengan tidak memaksa diri untuk “menerima dengan cepat”, tidak menghakimi penolakan yang muncul, dan tidak berusaha menghapus emosi secara instan, sistem saraf diberi ruang untuk menstabilkan diri. Dari ruang inilah muncul kejernihan: emosi dapat dikenali, dipahami fungsinya, lalu mereda secara alami, bukan karena dipaksa, tetapi karena tidak lagi ditahan atau diperangi.
@pakarpemberdayaandiri






