Oleh: Aisya Putri Qaimah *)
Novel Nayla karya Djenar Maesa Ayu adalah sebuah karya yang berusaha menyingkap sisi kelam kehidupan seorang anak perempuan yang tumbuh dengan penuh luka. Dari awal, penulis langsung dihadapkan pada sosok Ibu yang keras dan tega menyiksa Nayla. Ibu berkali-kali menyebut bahwa semua tindakannya dilakukan demi kebaikan anaknya, tetapi menurut penulis, alasan itu tidak pernah benar-benar dijelaskan. Justru yang muncul hanyalah kebingungan, karena bukannya terlihat sebagai bentuk kasih sayang yang keras, perlakuan Ibu malah terkesan sebagai pelampiasan dendam atau tekanan batin. Bagi penulis, hal ini membuat tokoh Ibu tampak lebih menyerupai “monster” daripada manusia yang memiliki latar psikologis yang jelas.
Menurut penulis, kontradiksi lain juga terlihat dalam cara novel ini menggambarkan sosok Ayah. Dari perspektif Ibu, ayah Nayla adalah orang yang jahat karena meninggalkan mereka tanpa tanggung jawab. Namun, ketika Nayla akhirnya bertemu dengan ayahnya, ia justru menemukan sosok yang hangat dan penuh kasih. Sayangnya, bagian ini tidak pernah diberi penjelasan lebih jauh. Apakah benar ayahnya jahat seperti yang dibilang Ibu, ataukah itu sekadar dendam dan sakit hati seorang perempuan yang ditinggalkan? Ketidakjelasan ini, menurut penulis, membuat konflik keluarga dalam novel terasa menggantung, sehingga sulit mendapatkan gambaran utuh tentang apa yang sebenarnya terjadi.
Selain itu, meskipun Nayla digambarkan sebagai korban, menurut penulis, ia juga tampak egois dalam perjalanan hidupnya. Ia kerap bertindak gegabah, melibatkan diri dalam hubungan yang berisiko, hingga terjerumus ke dunia kriminal. Hal ini menjadikan Nayla bukan hanya sekadar korban kekerasan, melainkan juga sosok remaja yang masih mencari jati diri dengan cara yang penuh emosi dan tanpa pertimbangan matang. Egoisme Nayla terlihat jelas ketika ia berkata, “Saya mabuk, dan saya menjadi bidadari, saya tidak peduli” (halaman 165). Kutipan ini memperlihatkan bagaimana ia memilih lari dari kenyataan melalui alkohol, tanpa peduli pada akibat atau pandangan orang lain.
Menurut penulis, novel ini juga banyak menyelipkan pesan tersirat tentang ketidakadilan terhadap perempuan yang masih sering terjadi di masyarakat. Misalnya pada halaman 122, Nayla menyinggung bagaimana tubuh perempuan kerap dijadikan objek eksploitasi, sementara laki-laki lebih dihargai karena intelektualitasnya. Kutipannya berbunyi: “Karena sering melihat tubuh-tubuh perempuan indah dieksploitasi daripada laki-laki. Perempuan lebih banyak dilihat dari tubuh, sehingga perempuan jadi sasaran empuk industri kecantikan dan sebagainya. Kalau laki-laki dilihat dari segi intelektualnya, sehingga posisi mereka lebih kelihatan intelek ketimbang perempuan. Menyebalkan. Karya tulispun bernasib sama. Perempuan dikaji dan dicurangi karena tubuh, sementara laki-laki luput dari risiko itu.” Menurut penulis, bagian ini merupakan kritik tajam terhadap budaya patriarki yang menilai perempuan hanya dari fisik, sementara pencapaian dan karya mereka diabaikan. Kutipan tersebut mempertegas bagaimana dunia di sekitar Nayla lebih sering menilai perempuan dari aspek fisik. Tubuh perempuan dipermak, dieksploitasi, bahkan
dijadikan alat untuk mengontrol atau menundukkan mereka. Dalam novel, persepsi semacam ini tercermin dari berbagai pengalaman Nayla yang terus-menerus berhadapan dengan penilaian dangkal, pelecehan, serta pengawasan terhadap tubuh dan perilakunya. Sementara itu, laki-laki dalam cerita cenderung tidak mengalami tekanan serupa; mereka dinilai melalui kecakapan atau keunggulan intelektual, bukan dari bagaimana tubuh mereka terlihat.
Pada akhirnya, menurut penulis, Nayla memang berhasil menggugah emosi dengan potret getir seorang perempuan yang bertahan hidup di tengah luka. Akan tetapi, ketidakjelasan motif tokoh Ibu, kontradiksi narasi tentang Ayah, dan penggambaran Nayla yang kadang egois membuat cerita ini terasa menyisakan misteri yang tidak terpecahkan. Meski demikian, novel ini tetap penting karena berani membuka tabir persoalan tabu dalam masyarakat. Bagi penulis, Nayla bukan hanya kisah tentang kekerasan, tetapi juga tentang perjalanan seorang anak manusia yang egois, rapuh, namun berusaha mencari arti dirinya sendiri, sekaligus mengingatkan pada pembaca bahwa ketidakadilan terhadap perempuan masih nyata hingga hari ini.
*) Mahasiswa Universitas Negeri Padang (UNP).












