Oleh: Raden Kemal *)
Pesan itu masuk pada dini hari. Seorang anak muda yang dulu saya selamatkan dari gelapnya TPPO di Kamboja mengirim kabar yang membuat dada sesak. Ibunya telah sembilan hari tak terdengar kabar akibat banjir besar di Aceh. Sementara ia di perantauan hanya bisa menatap ponsel, berharap ada kabar baik yang tak kunjung datang.
Di tengah derita keluarganya, ia menulis kalimat yang menghunjam:
“Apa aku gagal jadi anak?”
Pertanyaan itu seharusnya tidak pernah ada. Tidak satu pun anak Indonesia yang pantas memikul beban seperti itu. Namun bencana yang datang silih berganti memaksa rakyat kecil merasakan putus asa yang bahkan tak lahir dari kesalahan mereka.
Banjir di Sumatera baik Aceh, Sumut, Sumbar hingga Riau bukan hanya persoalan cuaca ekstrem atau “takdir alam”. Kita terlalu sering berlindung di balik kata musibah, padahal banyak di antaranya adalah akumulasi kesalahan manusia, terutama kesalahan mereka yang diberi amanah mengatur negeri.
Selama bertahun-tahun, kita semua melihat fakta yang sama:
izin pembukaan lahan diberikan dengan mudah, hutan digunduli atas nama investasi, dan sungai dikeruk tanpa memikirkan daya tampung lingkungan. Alam diperlakukan seperti lembar kosong yang bisa dihapus sesuka hati.
Pada akhirnya, ketika hujan turun lebih deras dari biasanya, balasan alam datang:
desa tenggelam, mayat ditemukan di lumpur, dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Lalu apa yang terjadi di ibu kota?
Barulah terdengar suara politisi saling berdebat, saling menyalahkan, saling berteori
semua terlambat, seperti pemadam kebakaran yang datang setelah rumah berubah abu.
Sampai kapan kita akan begini?
Sampai kapan rakyat harus menunggu kabar keluarga yang hilang?
Sampai kapan pemerintah hanya “bereaksi”, bukan “mencegah”?
Apakah kita menunggu giliran korban di provinsi lain sebelum sadar bahwa ini masalah nasional, bukan lokal ? Ataukah kita menunggu gunung-gunung ditebang habis baru mengerti bahwa alam yang rusak tak pernah memberi diskon untuk bencana ?
Dalam setiap tragedi banjir, selalu ada wajah-wajah yang hancur:
anak kehilangan orang tua, orang tua kehilangan anak, sementara negara bergerak lambat seperti kaki yang tenggelam dalam lumpur.
Betul, hujan adalah kehendak Tuhan.
Namun kehancuran yang ditinggalkannya adalah hasil keputusan manusia.
Perusahaan yang menebang tanpa hati.
Pemerintah yang memberi izin tanpa nurani.
Pengawasan yang longgar, korupsi yang mengakar, dan suara rakyat yang tidak pernah masuk dalam prioritas.
Bencana ini bukan hanya konsekwensi cuaca. Ini adalah cermin dosa kolektif kebijakan yang salah arah.
Akhirnya… Suara itu Menggema Lagi
Ketika anak muda itu bertanya, “Apa aku gagal jadi anak?”, saya hanya bisa menjawab dalam hati:
Yang gagal adalah negara yang belum mampu memastikan warganya aman di tanahnya sendiri. Yang gagal adalah mereka yang lebih peduli pada laba perusahaan daripada hidup rakyatnya.
Dan selama suara-suara seperti suaranya masih tenggelam di antara banjir dan birokrasi, kita semua belum bisa mengatakan bahwa negeri ini benar-benar belajar dari luka yang sama.
*) Pemimpin Redaksi Nusantara-news.co











