Catatan Arif Andepa Edisi : Kedelapan
Berkeluarga, tentara Jepang mulai masuk ke nusantara menyerang serdadu Belanda dan bila Belanda kalah maka suasana politik di Aceh ikut juga berubah, tak lama kemudian Belanda memang benar kalah.
Politik kekuasaan dipegang oleh Jepang,dan Hasan bersama rekan-rekannya dengan bergegas pulang ke Aceh menumpangi kereta api biasanya menempuh waktu perjalanan empat hari empat malam baru tiba di stasiun kereta api kota Sigli pukul 20.00 wib.
Setelah turun dari kereta api dengan linangan air mata Hasan bersama rekan sembah sujud ke tanah sebagai ungkapan terimakasih kepada Allah yang telah menghantar mereka pulang ke kampung.
Rasa haru dan rindu ingin bertemu ibunda serta sanak keluarga. Hasan pulang melintasi depan gedung bioskop ada beberapa teman sekampung memanggil dan menghampirinya, mereka merasa heran dan terkagum- kagum kok bang Hasan sudah kembali sedangkan semua masyarakat tau bahwa Bang Hasan divonis hukuman seumur hidup akibat membunuh dua serdadu Belanda dan dipindahkan ke pulau Nusakambangan kenapa sekarang sudah berada disini.
Sambil ngobrol tiba-tiba Bang Hasan terperangah melihat isterinya bersama lelaki lain mau nonton film. Seketika itu Hasan mendekati dan bertanya pada isterinya, apakah kamu sudah kawin dengan lelaki lain ya ?, Habibah menjawab iya bang, kemudian Hasan menanyakan kembali pada lelaki disamping Habibah, apakah kamu yang kawin dengan Habibah ?, Tgk Hanafiah mengiyakan, mendengar jawaban tersebut spontan Hasan Ligat naik darah kepalan tinjunya langsung mendarat dirahang, tiga kali tubuh Tgk Hanafiah berputar-putar diudara kemudian jatuh ketanah pas di ujung kaki Habibah, kemudian sekejab saja suasana didepan bioskop berunah menjadi gaduh dan serdadu Jepang tidak jauh dengan lokasi kejadian datang mengamankan, menangkap dan menjobloskan Hasan kedalam sel tahanan, tidak lama setelah kejadian tersebarlah khabar bahwa……. Bersambung












