Catatan Dr. Suriyanto Pd, SH,MH.,M.Kn *)
Di tengah era globalisasi, ketahanan Pancasila kembali diuji. Hal ini terlihat banyaknya idiologi asing merasuk dalam segenap sendi-sendi bangsa, melalui media sosial, yang begitu mudah dijangkau oleh seluruh anak bangsa. Salah satunya, adanya klaim oknum Habib dan kelompok tertentu yang mencoba untuk melakukan propaganda negatif dengan mengaburkan sejarah kepada seluruh masyarakat Indonesia.
Oknum Habib tersebut telah melakukan propaganda negatif dengan membangun gagasan-gagasan yang mereka kehendaki sesuai dengan tujuan mereka, untuk disebar di beberapa media online atau media sosial dan diharapkan propaganda mereka tersampaikan. Adapun tujuan tulisan dari mereka tersebut adalah agar masyarakat Indonesia mempercayai informasi-informasi tersebut. Propaganda mereka tersebut diharapkan dapat menghipnotis seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat Indonesia mendukung apa yang menjadi gagasan mereka.
Di tengah upaya bangsa ini menjaga persatuan dan kesatuan, muncul persoalan baru adanya oknum Habib yang menantang mengajak perang. Ucapan provokatif oknum Habib yang provokatif tersebut berpotensi terjadi perang saudara bila tidak segera disikapi.
Jika ada oknum, termasuk yang mengatasnamakan Habib, yang mengajak perang atau melakukan tindakan provokatif, hal itu memang bisa merusak nilai-nilai persatuan yang menjadi salah satu pilar penting bangsa Indonesia, seperti yang tercermin dalam semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” dan sila ketiga Pancasila, “Persatuan Indonesia.”
Tindakan provokasi oknum Habib tersebut sangat bertentangan dengan semangat kebersamaan dan toleransi yang telah lama dijaga oleh masyarakat Indonesia. Persatuan tetap bisa dipertahankan jika masyarakat fokus pada dialog, saling menghormati, dan menolak provokasi yang memecah belah.
Untuk mencegah eskalasi, pemerintah harus bertindak tegas terhadap segala bentuk provokasi yang mengganggu stabilitas, dan berpotensi memicu konflik lebih besar, melalui penegakan hukum yang adil.
Mari kita jaga negeri ini agar masyarakat jangan mau dipecah belah oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan mempolitisasi identitas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)
Indonesia itu milik kita, jangan sampai kita memberikan kesempatan oknum yang sengaja akan memecah belah umat.
Kita sebagai Bangsa yang cinta tanah air tidak boleh diam dengan apa yang di lakukan oleh para oknum – oknum pribumi turunan Yaman yang ingin merusak Kesatuan Indonesia yang diperjuangkan dengan darah dan keringat oleh para pejuang Bangsa kita, Bangkit bersatu lawan para penghianat dan pemecah persatuan umat di NKRI ini.
Saat ini para ulama dan kyai serta tokoh agama Islam Nusantara Bangkit melawan kebatilan para pengaku juriah nabi dan oknum habib yang menyebarkan dakwah dengan bahasa – bahasa kasar dan selalu menebar ujaran perpecahan umat Islam di bumi Nusantara.
Sebagai Bangsa yang besar yang memiliki landasan hidup yang jelas dari falsafah Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika hendaknya seluruh Bangsa di Indonesia ini dapat membuka mata hati dan pikiran yang jernih bahwa yang menjadi keluarga Nabi dan turunan turunannya serta para Wali Waliyulah sebagai penuntut umat Islam khususnya di Nusantara ini tidaklah memiliki perilaku seperti oknum orang – orang yang muncul di dunia Maya dan di dunia nyata dengan menjual Juriah Nabi tetapi selalu menjadi provokator persatuan umat dalam dakwah agamanya.
Islam, ajaran yang menghormati manusia dan menghargai kemanusiaan manusia. Anjuran merawat alam, memeliharanya dan alam adalah anugerah Allah yang terbesar. Karena itu Islam adalah rahmatan lil alamin. Kita muslim dengan muslim lainnya adalah sama di mata Allah, tidak ada yang lebih mulia kecuali kemuliaan seorang muslim itu didasarkan ilmu dan ketaqwaan
*) Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia












