OPINI  

Jangan Nodai Ajaran Leluhur Bangsa Nusantara

Dr. Suriyanto Pd, SH,MH,M.Kn

Catatan Dr. Suriyanto Pd, SH.,MH.,M.Kn *)

Akhir-akhir ini masyarakat mulai geram dengan perilaku oknum habib yang mengaku sebagai keturunan Rasulullah. Pengakuan sepihak tersebut, setelah ditelusuri oleh peneliti dan ulama,  bahwa tidak semua klaim nasab dapat diverifikasi dengan bukti yang kuat, sehingga memungkinkan adanya oknum yang mengaku habib tanpa dasar keturunan yang jelas. Apalagi sikap dan perilakunya tidak menceriminkan kebersihan dan kesucian hati seperti Rasulullah SAW.

Perilaku kasar dan provokatif tidak mencerminkan akhlak mulia Rasulullah SAW. Rasulullah SAW dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, penuh kasih sayang, dan sabar, bahkan dalam menghadapi tantangan atau provokasi. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT memuji sifat beliau: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur” (QS. Al-Qalam: 4).

Jika ada oknum yang mengatasnamakan gelar “habib” namun bertindak bertentangan dengan nilai-nilai ini, itu lebih mencerminkan kegagalan pribadi mereka, bukan ajaran atau teladan Rasulullah.

Ajakan perang yang dilakukan oleh oknum tertentu, termasuk yang mungkin disebut sebagai “oknum habib,” yang telah viral akhir-akhir ini, dapat dianggap sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Nilai-nilai tersebut, yang berpijak pada Pancasila, UUD 1945, dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, menekankan persatuan, kedamaian, keadilan, dan harmoni dalam keberagaman. Tindakan provokatif seperti ajakan perang berpotensi memecah belah masyarakat, menciptakan konflik, dan merusak tatanan sosial yang telah dibangun dengan susah payah.

Pancasila sebagai dasar negara mengajarkan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, yang mencerminkan sikap toleransi dan penghormatan antarumat beragama, serta sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang menjunjung tinggi perdamaian dan kesejahteraan bersama.

Ajakan perang jelas bertolak belakang dengan prinsip-prinsip ini, karena dapat memicu kekerasan dan ketidakadilan. Selain itu, semboyan Bhinneka Tunggal Ika menggarisbawahi pentingnya menjaga kesatuan di tengah perbedaan, sesuatu yang akan terganggu jika provokasi semacam itu dibiarkan menyebar.

Dalam konteks kehidupan bernegara, tindakan semacam ini juga dapat dianggap melanggar hukum. Masyarakat Indonesia, yang memiliki sejarah panjang dalam menjaga harmoni tentu tidak ingin kembali pada masa kelam akibat ulah segelintir individu. Oleh karena itu, menjaga nilai-nilai luhur berbangsa dan bernegara menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan Indonesia tetap damai dan bersatu.

Leluhur Nusantara telah mewariskan nilai-nilai luhur seperti hidup rukun, damai, dan saling menghormati. Ajaran ini tercermin dalam berbagai tradisi, adat istiadat, dan falsafah lokal yang mengedepankan harmoni antarmanusia serta dengan alam. Misalnya, konsep “gotong royong” menunjukkan betapa pentingnya kebersamaan dan saling membantu dalam kehidupan masyarakat. Nilai-nilai ini tetap relevan hingga kini sebagai fondasi untuk menjaga persatuan dan kedamaian di tengah keberagaman.

Saat ini negara kita telah diserang oleh oknum Habib dan kelompok tertentu yang mencoba untuk melakukan propaganda negatif dengan mengaburkan sejarah kepada seluruh masyarakat Indonesia. Oknum Habib tersebut telah melakukan propaganda negatif dengan membangun gagasan-gagasan yang mereka kehendaki sesuai dengan tujuan mereka, untuk disebar di beberapa media online atau media sosial dan diharapkan propaganda mereka tersampaikan. Adapun tujuan tulisan dari mereka tersebut adalah agar masyarakat Indonesia mempercayai informasi-informasi tersebut. Propaganda mereka tersebut diharapkan dapat menghipnotis seluruh masyarakat Indonesia dan masyarakat Indonesia mendukung apa yang menjadi gagasan mereka.

Sebagai bangsa yang dilahirkan dan dibesarkan di bumi nusantara, kita wajib melestarikan ajaran-ajaran leluhur nusantara, bukan ajaran bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa nusantara.

Melestarikan ajaran kearifan leluhur nusantara adalah upaya yang sangat berharga untuk menjaga warisan budaya dan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendahulu. Kearifan lokal Nusantara, yang mencakup berbagai tradisi, filosofi hidup, dan pengetahuan tradisional dari Sabang sampai Merauke, mengandung banyak pelajaran tentang harmoni dengan alam, kebersamaan, dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan.

Mari kita umat Islam bersatu untuk menegakan kebenaran Islam sesungguhnya yang di ajarkan oleh Rasulullah dan dibawa ke Nusantara oleh Bangsa Arab dan sebar luaskan oleh para Waliyullah dengan santun dan dengan ke arifan lokal Bangsa Nusantara, tinggalkan ajaran sesat dari para oknum habib yang berperilaku kasar yang tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah yang dibawa oleh Bangsa Arab dan para Waliyullah di Nusantara Indonesia.

Mari kita tingkatkan rasa kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia dengan sikap saling menghargai satu sama lain dan jangan terkecoh oleh propanda liar oknum Habib yang mencoba mengaburkan sejarah tentang bangsa ini.

*) Akademisi, Ketua Umum DPP Persatuan Wartawan Republik Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *