BUDAYA  

Keris Kyai Kilat Sengkala dari Gunung Ciremai

NUSANTARA-NEWS.co, Kuningan – Keris merupakan salah satu warisan bendawi hasil karya cipta rasa dan karsa nenek moyang kita sebagai ciri khas senjata nusantara. Meskipun kini hanya sebagai perwujudan benda yang dipusakakan bagi sebagian orang, namun banyak pula dikalangan masyarakat umum, yang memiliki keris ini sebagai bentuk kecintaan dan kebanggaan akan peninggalan nenek moyang kita itu, ataupun hanya sebatas pajangan diruang tamu.

Keris sejatinya hanya sebuah benda, namun bagi kalangan tertentu, keris dapat pula digunakan sebagai wadah untuk menyimpan kekuatan supranatural. Seperti yang disampaikan oleh Kang Karsi, salah seorang ahli supranatural di Kabupaten Kuningan, bahwa “Keris adalah warisan leluhur untuk dijaga dan dilestarikan. Karena ada keris-keris khusus yang menjadi tempat bersemayamnya kekuatan gaib, hodam, maupun dangiang”.

Menurut Abah Atun, Kuncen Gunung Ciremai, Keris Kiyai Kilat Sengkala itu, dulu pernah dipegang oleh Ki Mangun Tapa, seorang kiyai sakti yang konon pernah mengalahkan Nyi Pelet dan Mak Lampir.

Untuk mencegah penyalahgunaan keris itu atas pemegang yang lain, Ki Mangun Tapa sengaja menguburkan Pusaka Keris itu didalam peti besi yang bertuah. Keris Kiyai Kilat Sengkala itu lama terpendam sekitar 800 tahun yang lalu di Goa Walet Gunung Ciremai Kabupaten Kuningan.

Dengan ketekunan Kang Karsi yang sering melakukan tirakat di Gunung Ciremai, sekitar awal bulan Dzulhijjah 1442 atau pertengahan Juli 2021, Keris Kiyai Kilat Sengkala dapat menjadi wujud.

“Keris ini dulunya panjang sekitar 170 Cm, dikubur oleh Ki Mangun Tapa yang dimasukan ke dalam peti besi yang berrajah. Karena adanya perubahan zaman dan perubahan alam, kini keris itu mengecil, termasuk peti saktinya yang menjadi wadah sewaktu dikubur dulu”. Pungkas Kang Karsi.

Kang Karsi akan menjaga keris pusaka ini sebagai warisan leluhur atau nenek moyang dan sebagai cagar budaya untuk diketahui anak cucu dimasa depan, dan insya Allah keris ini bermanfaat untuk mencegah bencana alam.

(Kang Bolang).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *