Oleh: Syahril Syam *)
Kebanyakan orang sebenarnya tidak “gagal hidup”. Mereka tetap bangun pagi, bekerja, berbicara, bahkan menjalani hubungan. Namun masalah yang lebih halus – dan justru lebih mendasar – adalah mereka hidup tanpa benar-benar mengalami hidup itu sendiri. Secara ilmiah dan filosofis, ini bisa dipahami sebagai dua mode eksistensi yang sangat berbeda: mode “melalui hidup” dan mode “bertemu hidup”. Perbedaan ini bukan sekadar soal sikap, tetapi menyentuh cara otak bekerja, cara emosi diproses, hingga bagaimana jiwa berkembang dalam kerangka filsafat.
Pada mode pertama, yaitu “melalui hidup” (passing mode), seseorang menjalani realitas seperti orang yang sedang lewat di jalan tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ada di sekitarnya. Secara psikologis, persepsi menjadi tereduksi: orang lain tidak lagi dilihat sebagai individu yang hidup dan kompleks, melainkan hanya sebagai peran atau fungsi – misalnya atasan, pasangan, atau sekadar “orang yang berguna atau tidak”. Ini membuat hubungan menjadi dangkal, karena tidak ada pertemuan yang sungguh-sungguh.
Di saat yang sama, ada mekanisme yang disebut sebagai micro-avoidance loop, yaitu bentuk penghindaran emosi yang sangat halus. Emosi tidak ditekan secara kasar, tetapi “dipotong” sebelum sempat berkembang. Ketika mulai merasa tidak nyaman, seseorang langsung bercanda. Ketika mulai tersentuh, langsung dialihkan ke logika. Ketika suasana mulai tegang, topik segera diganti. Sekilas terlihat normal, tetapi sebenarnya ini membuat seseorang tidak pernah benar-benar merasakan apa yang terjadi di dalam dirinya.
Secara neurologis, kondisi ini banyak dikaitkan dengan dominasi Default Mode Network, yaitu jaringan otak yang aktif saat kita berada dalam mode autopilot – penuh dengan pikiran berulang, narasi internal, dan minim keterlibatan dengan realitas nyata. Otak hanya menjalankan pola lama: memprediksi, merespons, lalu menguatkan kebiasaan tersebut tanpa pembaruan. Akibatnya, tidak ada kejutan, tidak ada pembelajaran baru, dan tidak ada pertumbuhan mental yang signifikan.
Jika dilihat dari perspektif filsafat Mulla Sadra, kondisi ini menunjukkan bahwa jiwa tidak mengalami harakah jawhariyyah (gerak substansi). Artinya, secara ontologis – pada level keberadaan – tidak ada peningkatan kualitas wujud. Hidup hanya berulang dalam pola yang sama, tanpa benar-benar berkembang.
Contohnya sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan, seseorang menjawab “nggak apa-apa” padahal sebenarnya ada emosi yang ingin diungkap, tetapi memilih aman. Dalam pekerjaan, seseorang hanya berbicara seperlunya dan tidak menyampaikan ide yang sebenarnya ada di pikirannya. Dalam pertemanan, obrolan hanya berhenti di permukaan – tentang cuaca atau berita – tanpa pernah menyentuh hal yang lebih jujur dan mendalam. Bahkan dalam diri sendiri, ketika merasa kosong atau tidak nyaman, seseorang langsung mencari distraksi seperti scrolling HP, tanpa pernah duduk dan benar-benar merasakan apa yang sedang terjadi. Hidup terus berjalan, tetapi tidak pernah benar-benar “menyentuh” jiwa.
Sebaliknya, mode kedua adalah “bertemu hidup” (encounter mode). Ini bukan sekadar menjadi lebih aktif, tetapi cara eksistensi yang sepenuhnya berbeda. Pada mode ini, seseorang mulai memiliki persepsi eksistensial, yaitu melihat realitas sebagai sesuatu yang hidup, dinamis, dan bisa memengaruhi dirinya. Orang lain tidak lagi dipandang sebagai objek, tetapi sebagai subjek yang benar-benar “ditemui”.
Dalam aspek emosional, yang terjadi adalah emotional allowance – memberi izin pada emosi untuk hadir. Emosi tidak langsung dihindari atau diperbaiki, tetapi dirasakan, diamati, dan dibiarkan berkembang secara alami. Ini memang tidak selalu nyaman, tetapi justru di situlah kedalaman pengalaman terbentuk.
Selain itu, ada yang disebut reciprocal engagement, yaitu keterlibatan dua arah: kita memengaruhi situasi, dan kita juga membiarkan diri dipengaruhi oleh situasi tersebut. Ini penting, karena membuka kemungkinan untuk berubah. Tidak lagi sekadar menjalankan peran, tetapi benar-benar hadir dalam pengalaman.
Secara neurologis, mode ini melibatkan jaringan seperti salience network (yang mendeteksi hal penting) dan executive network (yang mengatur respons sadar dan adaptif). Otak tidak lagi hanya mengulang pola lama, tetapi mulai memperbarui cara memahami realitas. Ada pembelajaran nyata yang terjadi.
Dalam kerangka Mulla Sadra, ini adalah kondisi dimana jiwa mengalami harakah jawhariyyah, yaitu gerak substansi yang meningkatkan intensitas wujud. Setiap pertemuan yang nyata dengan hidup – setiap kejujuran, setiap keberanian merasakan, setiap keterbukaan – menjadi momen yang bisa “menaikkan derajat keberadaan” kita.
Contohnya juga sangat konkret. Dalam hubungan, seseorang bisa mengatakan, “Saya sebenarnya agak tersinggung tadi, tapi saya juga masih mencoba memahami kenapa.” Ini jujur, terbuka, dan berisiko – tetapi justru membuat relasi menjadi nyata. Dalam pekerjaan, seseorang berani menyampaikan ide meskipun belum sempurna, membuka kemungkinan untuk berkembang. Dalam pertemanan, obrolan mulai masuk ke wilayah yang lebih dalam – tentang kegelisahan, pemikiran, atau pengalaman pribadi – yang membuka ruang koneksi yang autentik.
Yang paling penting, dalam diri sendiri, ketika merasa kosong atau tidak nyaman, kita tidak langsung lari. Kita duduk, merasakan, dan mengamati. Mungkin terasa tidak enak, bahkan menyakitkan. Namun justru di situlah pintu transformasi terbuka.
Pada tingkat paling dalam – tingkat ontologis – perbedaan antara “melalui hidup” (passing mode) dan “bertemu hidup” (encounter mode) sebenarnya menyentuh cara seseorang menjadi ada. Bukan sekadar soal perilaku luar, tetapi bagaimana eksistensi itu sendiri bergerak atau justru stagnan. Dalam passing mode, orientasi dasarnya adalah mempertahankan diri: menjaga stabilitas, menghindari risiko, dan meminimalkan perubahan. Sistem diri bekerja seperti mekanisme proteksi – yang penting aman, tidak terguncang. Secara jangka pendek ini terasa nyaman, tetapi konsekuensinya jelas: tidak ada sesuatu yang benar-benar baru lahir dari dalam diri. Hidup berjalan, tetapi kualitas keberadaan tetap di titik yang sama.
Sebaliknya, dalam encounter mode, orientasi dasarnya adalah membuka diri terhadap realitas, termasuk risiko yang menyertainya. Ada kesediaan untuk merasakan, untuk jujur, untuk terlibat secara nyata – bahkan ketika itu tidak nyaman. Di sinilah perubahan menjadi mungkin. Karena ketika seseorang benar-benar “bertemu” hidup, ia tidak hanya menjalani pengalaman, tetapi juga diubah oleh pengalaman itu. Hasil akhirnya bukan sekadar bertambahnya pengalaman, tetapi munculnya versi diri yang baru – lebih matang, lebih sadar, dan secara ontologis lebih “intens”.
Namun dalam praktik nyata, manusia hampir tidak pernah berada sepenuhnya di satu mode saja. Yang lebih akurat adalah memahami ini sebagai spektrum dinamis: seseorang bisa berada di antara passing dan encounter, dan posisinya bisa berubah-ubah tergantung konteks. Dalam satu area kehidupan, seseorang bisa sangat berani dan terbuka – misalnya di pekerjaan, ia mampu menyampaikan ide, mengambil posisi, bahkan menghadapi konflik. Tetapi di area lain, seperti relasi pribadi, ia justru menghindar, menahan diri, dan tidak benar-benar jujur. Ini menunjukkan bahwa keberanian bukan sifat yang sepenuhnya stabil; ia sangat kontekstual.
Hal yang sama sering terlihat dalam perbedaan antara interaksi dengan teman dan dengan pasangan. Seseorang bisa sangat santai dan terbuka dengan teman, tetapi menjadi defensif dan tertutup dengan pasangan. Biasanya ini berkaitan dengan pola keterikatan emosional (attachment) dan luka lama yang belum selesai. Semakin dekat dan penting suatu relasi, semakin besar kemungkinan sistem proteksi aktif.
Bahkan ada juga yang secara intelektual sangat reflektif – mampu berpikir dalam, menganalisis diri, dan memahami konsep-konsep kompleks – tetapi ketika berhadapan dengan emosinya sendiri, ia justru menghindar. Ini adalah contoh “encounter kognitif” tetapi “passing emosional”, yang cukup umum pada orang yang banyak belajar secara teori tetapi minim pengalaman langsung dalam memproses emosi.
Mengapa dua mode ini bisa bercampur dalam satu diri? Salah satu penjelasan utamanya adalah cara kerja otak yang bersifat kontekstual, bukan global. Sistem saraf secara otomatis terus melakukan penilaian: “Apakah situasi ini aman atau berisiko?” Ketika situasi dianggap aman, seseorang lebih mudah masuk ke mode encounter – hadir, terbuka, dan terlibat. Namun ketika dianggap berisiko, sistem akan beralih ke mode proteksi, yaitu passing mode. Ini berkaitan dengan dinamika jaringan otak, termasuk peran Default Mode Network yang cenderung mempertahankan pola lama dan menjaga stabilitas internal.
Selain itu, setiap orang memiliki apa yang bisa disebut sebagai “ambang emosional” atau emotional threshold. Selama intensitas pengalaman masih di bawah ambang ini, seseorang masih mampu hadir dan memprosesnya secara sadar. Tetapi ketika intensitasnya melewati batas, sistem proteksi otomatis aktif – dan orang kembali ke pola menghindar. Di sinilah muncul apa yang disebut sebagai “zona luka” atau emotional hotspots: area tertentu yang sangat sensitif, seperti penolakan, kritik, atau kehilangan kontrol. Ketika area ini tersentuh, bahkan orang yang biasanya terbuka pun bisa langsung beralih ke passing mode tanpa disadari.
Dalam perspektif Mulla Sadra, fenomena ini justru sangat masuk akal. Jiwa manusia tidak bersifat statis, melainkan bergradasi (tasykik al-wujud), artinya memiliki tingkat-tingkat intensitas keberadaan yang berbeda dalam satu waktu. Implikasinya sangat penting: dalam satu momen, seseorang bisa berada pada tingkat eksistensi yang lebih tinggi – lebih sadar, lebih hidup (encounter). Tetapi di momen lain, ia bisa turun ke tingkat yang lebih rendah – lebih reaktif, lebih tertutup (passing). Jadi manusia bukan satu “level tetap”, melainkan spektrum hidup yang terus bergerak naik-turun.
Karena itu, masalah utama sebenarnya bukan pada adanya campuran antara passing dan encounter – karena itu normal dan hampir pasti terjadi pada semua orang. Yang menjadi krusial adalah: mode mana yang lebih dominan, terutama dalam momen-momen penting. Momen seperti konflik, kejujuran, keputusan besar, dan relasi inti biasanya menjadi “cermin” paling jujur. Di situlah terlihat apakah seseorang cenderung mempertahankan diri atau berani membuka diri.
Dari sini, titik transformasi menjadi lebih jelas. Perubahan tidak berarti menghilangkan passing mode sepenuhnya – karena dalam kondisi tertentu, proteksi tetap diperlukan. Tetapi yang menjadi tujuan adalah memperluas kapasitas untuk tetap berada dalam encounter mode, bahkan ketika situasi mulai tidak nyaman. Artinya, seseorang belajar untuk tetap hadir sedikit lebih lama, sedikit lebih dalam, dan dalam lebih banyak situasi daripada sebelumnya.
Dengan kata lain, transformasi bukan tentang menjadi “selalu berani”, tetapi tentang meningkatkan toleransi terhadap ketidaknyamanan – sehingga semakin banyak bagian hidup yang benar-benar dialami, bukan sekadar dilewati. Di situlah pertumbuhan eksistensial terjadi: bukan karena hidup berubah, tetapi karena cara kita menghadapi hidup berubah secara fundamental.
@pakarpemberdayaandiri






