Dunia Materi dan Keniscayaan Penderitaan: Mengapa Hidup Selalu Mengandung Ujian

Syahril Syam

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam kerangka ilmiah dan filsafat, dunia materi memiliki sifat-sifat dasar yang tidak bisa dilepaskan dari hakikatnya. Pertama, dunia materi bersifat terbatas. Segala sesuatu yang material selalu memiliki ukuran, kapasitas, dan batas tertentu. Tubuh manusia hanya mampu menampung energi dalam jumlah tertentu, waktu dalam sehari hanya 24 jam, dan sumber daya seperti makanan atau air tidak tak terbatas. Ini bukan sekadar asumsi, tetapi fakta empiris yang dapat diamati sekaligus prinsip metafisis: sesuatu yang memiliki bentuk pasti memiliki batas. Karena itu, gagasan tentang materi yang sepenuhnya tak terbatas dalam dunia fisik adalah kontradiktif secara konsep.

Kedua, dunia materi bersifat berubah. Dalam ilmu alam maupun filsafat, materi selalu berada dalam proses: tumbuh, menua, meluruh, dan bertransformasi. Sel-sel tubuh beregenerasi dan mati, benda logam berkarat, dan organisme hidup mengalami siklus hidup. Dalam Filsafat Hikmah, ini dikenal sebagai gerak substansial, yakni perubahan bukan sekadar peristiwa kebetulan yang menimpa materi dari luar, tetapi bagian dari struktur internalnya. Dengan kata lain, jika sesuatu material berhenti berubah samasekali, ia pada hakikatnya tidak lagi berfungsi sebagai materi dalam dunia yang kita kenal.

Ketiga, dunia materi bersifat saling berbenturan atau berinteraksi. Karena benda material menempati ruang, memiliki batas, dan bergerak, maka interaksi – termasuk gesekan dan benturan – tidak bisa dihindari. Dua mobil bisa bertabrakan, dua organisme bisa berebut makanan, dan dua kepentingan ekonomi bisa saling konflik. Ini merupakan konsekuensi geometris dari keberadaan entitas fisik dalam ruang-waktu. Selama ada banyak entitas terbatas yang bergerak dalam ruang yang sama, potensi benturan selalu ada.

Dari tiga sifat ini muncul implikasi logis. Jika materi ada, maka keterbatasan pasti ada, karena materi memiliki bentuk, bentuk memiliki batas, dan batas berarti keterbatasan. Selanjutnya, jika keterbatasan ada, maka kemungkinan penderitaan juga inheren dalam dunia materi. Penderitaan minimal dapat muncul dari kehilangan, kekurangan, kerusakan, atau benturan. Tubuh bisa sakit, kebutuhan bisa tidak terpenuhi, dan kepentingan bisa saling bertabrakan.

Ketika seseorang menuntut adanya “dunia materi tanpa penderitaan sama sekali”, secara logika tuntutan ini menghadapi masalah serius. Untuk menghapus seluruh penderitaan, kita harus menghapus setidaknya salah satu dari: keterbatasan, perubahan, interaksi, atau kerusakan biologis. Namun jika semua ini dihilangkan, konsekuensinya radikal: tidak ada pertumbuhan, tidak ada metabolisme, tidak ada kebebasan interaksi, dan tidak ada kehidupan biologis. Dengan kata lain, dunia tersebut tidak lagi menyerupai dunia materi yang kita kenal.

Analogi sederhananya seperti permainan fisik. Jika kita ingin permainan dimana tidak ada yang jatuh, tidak ada gesekan, tidak ada kelelahan, dan tidak ada kemungkinan kalah, maka satu-satunya cara adalah menghapus hukum fisika permainan itu sendiri. Pada titik itu, permainan fisiknya juga lenyap. Inilah yang dimaksud dengan kontradiksi ontologis: menuntut dunia materi yang sepenuhnya tanpa penderitaan berarti menuntut sesuatu yang bertentangan dengan struktur dasar keberadaan materi.

Namun penting ditegaskan bahwa kesimpulan ini tidak berarti semua penderitaan diperlukan atau semua kejahatan dapat dibenarkan. Filsafat Islam secara tegas membedakan dua jenis penderitaan. Ada penderitaan yang merupakan konsekuensi ontologis dari hidup dalam dunia materi – misalnya kelelahan, penuaan, atau keterbatasan fisik. Tetapi ada pula penderitaan yang muncul karena kezaliman, ketidakadilan, dan pilihan buruk manusia. Pembedaan ini krusial: yang pertama melekat pada struktur dunia material, sedangkan yang kedua justru menjadi medan tanggung jawab moral manusia untuk dikurangi dan diperbaiki. Memahami pembedaan ini penting agar sikap kita terhadap penderitaan menjadi tepat – tidak pasrah pada yang bisa diperbaiki, dan tidak memberontak pada yang memang inheren.

Pertama, ada penderitaan biologis seperti lapar, haus, sakit, lelah, dan menua. Ini terjadi karena tubuh manusia adalah sistem material yang membutuhkan energi, mengalami degradasi seluler, dan memiliki batas daya tahan. Tubuh harus terus memperbarui diri melalui metabolisme; ketika energi kurang, muncullah lapar dan lemah. Seiring waktu, sel mengalami kerusakan kumulatif sehingga proses penuaan tak terelakkan. Dari sudut pandang biologi dan metafisika materi, bentuk penderitaan ini hampir tidak mungkin dihapus sepenuhnya. Ia merupakan konsekuensi dari fakta bahwa kita hidup dalam tubuh fisik yang terbatas.

Kedua, terdapat penderitaan akibat benturan kepentingan, misalnya antre panjang, perebutan peluang kerja, konflik bisnis, atau kompetisi sumber daya. Fenomena ini muncul karena sumber daya selalu terbatas sementara jumlah manusia banyak, dan semuanya beroperasi dalam ruang serta waktu yang terbatas. Dalam ekonomi dan ekologi, kondisi ini dikenal sebagai scarcity constraint. Selama dunia bersifat terbatas dan populasi lebih dari satu agen yang memiliki kepentingan, potensi gesekan akan selalu ada. Karena itu, jenis penderitaan ini merupakan konsekuensi struktural dari kehidupan sosial dalam dunia yang terbatas – meskipun intensitasnya masih bisa dikelola dengan sistem yang adil.

Ketiga, ada penderitaan emosional natural, seperti sedih karena kehilangan, kecewa karena gagal, atau cemas menghadapi ketidakpastian. Selama manusia memiliki kemampuan mencintai, berharap, dan hidup dalam aliran waktu (masa lalu–kini–masa depan), maka kerentanan emosional tidak mungkin nol. Neurosains afektif menunjukkan bahwa sistem emosi manusia memang dirancang untuk merespons kehilangan dan ancaman ketidakpastian. Artinya, keberadaan emosi negatif tertentu adalah bagian dari arsitektur psikologis manusia, bukan sekadar gangguan yang bisa dihapus total.

Keempat, terdapat penderitaan yang berasal dari hukum fisik, seperti luka karena jatuh, kerusakan akibat gempa, atau penyakit yang muncul dari proses biologis. Semua ini mengikuti rantai kausal dunia materi. Gravitasi membuat benda jatuh, aktivitas tektonik memicu gempa, dan proses biologis tertentu membuka peluang penyakit. Selama hukum-hukum alam bekerja konsisten – yang justru menjadi syarat stabilitas dunia – maka risiko jenis penderitaan ini tetap ada.

Namun secara rasional, kita harus membedakan secara tegas dua kategori besar penderitaan. Yang pertama adalah penderitaan ontologis, yaitu penderitaan yang melekat pada struktur keberadaan makhluk material. Ciri utamanya: universal lintas budaya, terkait langsung dengan tubuh biologis, waktu, dan perubahan, serta tidak mungkin dihapus total oleh kebijakan manusia. Contohnya lapar, lelah setelah aktivitas, penuaan, kematian biologis, dan keterbatasan fisik. Sikap yang tepat terhadap wilayah ini bukanlah penolakan total, melainkan sabar aktif: menerima realitasnya sambil beradaptasi secara bijak, mengelola dengan ilmu, dan – dalam perspektif spiritual – memberinya makna yang lebih dalam. Ini adalah wilayah penerimaan eksistensial.

Sebaliknya, ada penderitaan akibat kezaliman manusia, yaitu penderitaan yang lahir dari pilihan moral, sistem sosial yang rusak, atau kelalaian yang sebenarnya bisa dicegah. Contohnya kemiskinan akibat korupsi, penindasan, kekerasan domestik, eksploitasi ekonomi, kelalaian medis, kebiasaan destruktif yang dipelihara, hingga perang yang zalim. Berbeda dengan penderitaan ontologis, jenis ini tidak melekat secara niscaya pada dunia materi; ia muncul karena keputusan dan struktur buatan manusia. Karena itu, sikap yang tepat bukan penerimaan pasif, melainkan tanggung jawab moral: perbaikan diri, reformasi sosial, amar ma‘ruf nahi munkar, dan intervensi sistemik yang nyata.

Dengan peta ini, kita bisa bersikap lebih jernih. Tidak semua penderitaan harus dilawan, dan tidak semua penderitaan boleh diterima. Kebijaksanaan justru terletak pada kemampuan membedakan mana yang merupakan konsekuensi ontologis dari hidup sebagai makhluk material, dan mana yang merupakan panggilan etis untuk diperbaiki oleh manusia.

Oleh sebab itu, menuntut “dunia materi tanpa penderitaan” pada dasarnya berarti menginginkan dunia fisik tetapi sekaligus menolak konsekuensi dasar dari kematerialan itu sendiri. Dalam analisis ilmiah dan filosofis, ini problematis karena sifat-sifat yang membuka kemungkinan penderitaan justru melekat pada struktur dunia materi. Dengan kata lain, sebagian bentuk penderitaan bukan sekadar kebetulan, melainkan konsekuensi dari cara dunia fisik bekerja.

Perhatikan contoh tuntutan yang sering muncul secara implisit: manusia tidak pernah sakit, tidak pernah menua, tidak pernah kehilangan, tidak pernah mengalami benturan kepentingan, dan tidak pernah mati. Sekilas ini terdengar sebagai harapan kemanusiaan yang wajar. Namun jika dianalisis, semua hal tersebut terkait langsung dengan fakta bahwa manusia memiliki tubuh biologis, energi yang terbatas, hidup dalam aliran waktu, dan berinteraksi dengan makhluk lain yang juga terbatas.

Analoginya, saat seseorang berkata, “Saya ingin dunia fisik, tetapi tanpa gravitasi, tanpa gesekan, dan tanpa kelelahan.” Secara logika fisika, permintaan ini bermasalah. Gravitasi menjaga struktur kosmos dan memungkinkan benda memiliki berat dan orbit; gesekan memungkinkan kita berjalan dan memegang benda; kelelahan adalah konsekuensi sistem biologis yang menggunakan energi terbatas. Jika hukum-hukum ini dihapus total, sistem fisik yang kita kenal tidak lagi berfungsi sebagaimana dunia materi. Dunia itu akan berubah secara fundamental, bahkan mungkin tidak lagi menjadi dunia fisik dalam pengertian biasa.

Dengan demikian, sebagian keberatan manusia terhadap penderitaan sebenarnya adalah keberatan terhadap struktur ontologis dunia materi itu sendiri. Artinya, yang ditolak bukan sekadar peristiwa menyakitkan tertentu, tetapi kondisi dasar yang membuat dunia material dapat eksis dan beroperasi.

Dalam versi yang sangat sederhana, menjadi makhluk material berarti memiliki tubuh, memiliki batas, hidup dalam waktu, dan bergantung pada sebab-akibat. Selama empat kondisi ini ada, maka kemungkinan mengalami lelah, sakit, gagal, dan kehilangan tidak mungkin menjadi nol. Yang masih terbuka bagi manusia bukanlah menghapus seluruh kemungkinan penderitaan, tetapi mengelola, meminimalkan yang bisa dicegah, serta memberi makna yang lebih tinggi pada yang memang inheren dalam kondisi material kita.

@pakarpemberdayaandiri

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *