Kisah nyata ini terjadi tahun 1939 Hasan Ligat Menebas Dua Serdadu Belanda

Catatan Arif Andepa

edisi : ke 17

Suasana menjadi hening menanti apa yang akan disampaikan dan maksud dari ucapannya, kalau mengarah untuk memperkeruh keadaan maka perisai dibaris depan akan bertindak mengamankan tgk Hanafiah dan Habibah.

Bang Hasan memulai sambutan
Assalamualaikum wr wb.

Nyang phoen loen horeumat tgk keuchik, perangka gampong, keluarga ngon haidaitaulan nyang katroek teuka keuno.

Uroenyo narid loen hana panyang…..
Phoen, Inong loen ka hana lei
Keudua, tuloeng bantu loen mita laen, Loen bi watee sigoe alhad

Etno keuh mantong narid uloen ….

Assalamualaikum wr wb.

Setelah mendengar kata sambutan dari bang Hasan Tgk Keuchik langsung merespon dan meminta waktu sejenak untuk bermusyawarah, kepada tuha peut, keurani, tgk imum, ketua pemuda serta pihak keluarga, sekarang kita bermusyawarah sejenak dan setelah selesai semua kita kembali ke posisi semula.

Selanjudnya tgk keuchik menyampaikan hasil musyawarah.

Bahwa setelah musyawarah dan berkonsultasi, keuchik membisikkan ketelinga bang Hasan ( ada seorang janda suaminya baru setahun meninggal dan janda itu bersedia menemani bang Hasan, itupun kalau bang Hasan setuju ) …… Hasanpun tersungging senyuman pertanda beliau setuju mungkin dulu beliau berdua pernah akrab…..

Kemudian bang Hasan bangun dari tempat duduknya merespon kesepakatan tersebut.

Bang Hasan kembali bicara Wahei kaom ngon syedara loen nyang meutuah. ……. Bersambung .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *