BUDAYA  

Situs Batu Sepasang dan Makam Mbah Kuwu Songko Cirebon Girang Jadi Daya Tarik Wisatawan

 

NUSANTARA-NEWS.co, Kuningan – Area  situs Sepasang Batu Jubleg dan Makam Mbah kuwu Songko Cirebon Girang, berada di area seluas 3000 m2, tepatnya di bawah kaki Gunung Ciremai, di wiliyah Desa Sangkanerang kec.Jalaksana Kabupaten kuningan.

Dengan jarak 200 meter kearah barat dari kantor pemerintah desa, kawasan  yang merupakan sebagian besar menyebutnya dengan nama  situs salam ini, ternyata banyak menyimpan  sejarah masa peradaban.

Kepala Desa Sangkanerang Sarman SE, usai melaksanakan rutinitasnya dengan perangkat desa, melakukan dialog dengan tiem media, dan memberi penjelasan tentang seputar keberadaan situs Buyut salam yang kini sudah banyak dikunjungi para pejiarah maupun wisatawan lokal  dari berbagai daerah diluar kab.kuningan.

Dan menurut kades, ini sudah masuk dalam  program pengembangan wisata   pemerintah desa Sangkanerang ,  terutama untuk kawasan situs buyut salam, ujar kades. mengingat lokasi tersebut mengandung nilai sejarah, cagar budaya maupun nilai perjuangan islam pada masa abad ke 16 silam. dan pemerintah bersama, karangtaruna dan masyarakat desa, tengah berupaya lebih memaksimalkan lagi baik, pasilitas maupun sarana dan prasarananya. pendukung  ujar kades Sangknerang ketika memberikan keterangan.

Dilihat dari  tataletak makam maupun situs batu yang muncul,  hampir semuanya mengenakan  batu alam yang sangat unik  dan tersusun, bahkan letaknya pun sudah terkelompok sesuai dengan nama pada  masa kehidupan itu.

Menurut, Abah Didi Kaur pemerintahan desa, menjelaskan, sebelum masuk area makam mbah kuwu Songko,  terdapat batu pipih yang menancap bernama, gerbang batu semar, sebelah barat , terdapat dua buah batu sepasang tergeletak di samping makam, yang dinamakan batu jubleg sepasang, konon batu tersebut mempunyai bobot berat  hampir diatas 50 kg, meski ukuranya kecil dan sebagian merupakan simbol laki laki dan perempuan.

Selain itu, mengarah ke sebelah kanan atas, ada area dengan gundukan beberapa makam dari  batu, sebagai tempat bermusyawarahnya para leluhur pada masa itu.

Selain itu, menurut Abah Didi,  munculnya situs makam yang ada di wilayah patilasan ini, menggambarkan adanya masa  kehidupan pada jaman kesanghiyangan, atau jaman pra sejarah,  salah satunya makam  patilasan yang bernama buyut Antaboga, Kemudian Makam Ibu Putri yang erat kaitanya dengan pantai selatan, maupun Makam Para tokoh Pandawa. semua berdekatan seakan membentuk sebuah cerita peradaba masa lalu.

Menurut kepala dusun III, Nama Sangkanerang, memang memiliki sejarah dan riwayat tersendiri, sebagian mengartikan, Sangkan artinya  (  agar/ supaya , dan herang itu jernih atau bersih ) sehingga pilosofinya, dimana kita memiliki Kebersihan hati, pemikiran mapun jiwa jiwa suci, niscya,  allahpun akan memudahkan segalanya.ujar kadus, Dan meurut kadus Desa Sangkanerang itu, berkaitan sekali dengan Desa Sembawa secara histori, ketika mendampingi tiem media di lokasi.

Terlepas dari sebuah situs batu patilasan, maupun adanya situs cagar alam dan cagar budaya, yang jelas, ini merupakan sebuah Anugrah dari sang pencipta, Kekayaan dan Kandungan Alam, merupakan pemberian dan  Anugrah bagi kehidupan manusia yang perlu dijaga  dirawat dan dilestarikan, untuk menjadikan sebuah nilai nilai budaya  sebagi kearifan  lokal bagi generasi yang akan datang.

( sep/Rie ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *