Program Sembada, IMIP Pacu Warga Aktif Memilah Sampah Bernilai Ekonomi

NUSANTARANEWS.co Morowali — Program Sembako dari Sampah Anda (Sembada) yang digagas PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) mengubah kebiasaan memilah limbah rumah tangga menjadi peluang ekonomi, sekaligus aksi nyata menjaga lingkungan. Warga di sekitar kawasan industri diajak memilah sampah yang dapat didaur ulang, lalu menukarkannya dengan kebutuhan pokok. Program ini menjadi langkah menyatukan pengelolaan sampah berkelanjutan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Difasilitasi Tim CSR PT IMIP, program ini menjadi bagian rangkaian World Cleanup Day 2026 yang diperingati sepanjang tanggal 17 Agustus hingga 28 Oktober nanti di Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Mengusung semangat “Beraksi Hari Ini, Budaya Esok Hari”, kegiatan itu bertujuan meningkatkan partisipasi aktif warga membangun kebiasaan mengelola sampah di tempat tinggalnya secara berkelanjutan.

Program Sembada digelar selama tiga hari di Desa Bahomakmur, Le-Le dan Labota. Kegiatan ini telah melibatkan partisipasi warga yang datang menukarkan sampahnya. Selain ketiga desa tersebut, Sembada juga menarik animo masyarakat yang datang dari Desa Dampala, Makarti Jaya, dan Padabaho.

Section Head Pilar Lingkungan Departemen Community Development & CSR IMIP, Ferdi Eka Saputra, mengatakan, Sembada dirancang sebagai kegiatan pengelolaan sampah yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh warga. Pendekatan ini diharapkan membangun kesadaran memilah sampah dari sumbernya, khususnya limbah konsumsi rumah tangga anorganik yang masih memiliki nilai jual.

Sepanjang pelaksanaan Sembada, material limbah anorganik yang terkumpul meliputi 133,69 kg botol plastik, kardus (312,38 kg), kaleng aluminium (2,86 kg), kaleng biasa (4,47 kg), dan botol kaca sebanyak 1.615 buah. Hasil perhitungan harga pembelian material oleh pihak pembeli (offtaker), nilai ekonomis sampah yang terkumpul diperkirakan mencapai Rp1.443.500. CSR IMIP melibatkan mitra komunitas untuk mengelola sampah yang terkumpul lebih lanjut, melalui Bank Sampah Lestari Mandiri di Bahomakmur, Bank Sampah Sidaya dan KSM Ara Sinergi Berdaya di Labota, dan pengurus Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Desa Le-Le.

“Sampah daur ulang yang terkumpul lalu disalurkan ke kelompok pengelola di masing-masing desa. Sampah itu dapat dijual kepada offtaker untuk diolah lebih lanjut. Bisa sebagai bahan baku produksi, atau dijual kembali ke pihak lain di area Morowali, hingga Makassar dan Surabaya,” ujar Ferdi. Dalam pelaksanaan kegiatan Sembada yang menarik minat warga dan didominasi kalangan perempuan tersebut, setiap sampah dihitung jumlah satuannya dan dikalikan dengan nominal harga jual. Misalnya Rp500 untuk satu botol kaca. Setiap satu orang warga dapat menukar sampahnya dengan paling banyak tiga macam komoditas, seperti 1 kg beras, 1 liter minyak goreng, dan kopi bubuk.

Sampah daur ulang yang dibawa warga dihitung berdasarkan harga pembelian material di pasaran. Nilai akumulasinya kemudian ditukar bukan berbentuk uang, melainkan sejumlah kebutuhan pokok. “Komoditas Sembako yang tersedia telah disubsidi 40–50 persen, sehingga bisa lebih terjangkau daripada harga di pasaran,” katanya. Selama pelaksanaan Sembada, Sembako yang tersalurkan meliputi 64 kg beras, 36 liter minyak goreng kemasan, 48 bungkus gula pasir ukuran setengah kilogram, 34 kotak teh celup, 27 bungkus kopi bubuk, 11 kaleng sarden, juga beberapa bungkus mie instan dan garam.

Ferdi menjelaskan, skema penukaran memberi nilai tambah atas sampah berpotensi dibuang, sekaligus menawarkan manfaat langsung bagi warga yang berpartisipasi. Kegiatan Sembada pun bermanfaat untuk lebih mengenalkan peran bank sampah di sekitar hunian warga. Dengan begitu, masyarakat diharapkan lebih aktif dan antusias memilah dan mengumpulkannya ke bank sampah terdekat. Sejak tahun 2024, kegiatan bank sampah di lingkar industri IMIP telah menjangkau partisipasi ratusan ibu rumah tangga pada beberapa desa di Kecamatan Bahodopi, dan menghasilkan total nilai tabungan nasabah lebih dari Rp35 juta.

Selain kegiatan penukaran, Sembada juga sebagai sarana mengukur potensi pengembangan dan kendala pengelolaan sampah berbasis komunitas, serta memahami respons masyarakat atas nilai ekonomi sampah. Kegiatan serupa akan digelar di kantor PT IMIP dengan sasaran para karyawan dalam kawasan industri berbasis nikel. Ke depan, hasil pelaksanaan Sembada akan dievaluasi untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, memperkuat mekanisme penyaluran sampah, serta mengembangkan kesinambungan antara edukasi pemilahan dari rumah dan pengelolaan oleh komunitas di Bahodopi. Dengan begitu, penguatan koordinasi akan meningkatkan kualitas pengelolaan sampah serta nilai dan manfaat ekonominya.

“Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan bisa memperkuat rantai pengelolaan sampah dan menginisiasi penerapan prinsip ekonomi sirkular di lingkup masyarakat lingkar industri,” tandas Ferdi.

(Muchlis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *