Target Ekonomi 8% Prabowo: Wamenkeu Sebut RI Cuma Punya Waktu 10-15 Tahun Lagi!

Foto ilustrasi

JAKARTA, NUSANTARANEWS.co – Pemerintah Indonesia sedang berpacu dengan waktu untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen. Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Juda Agung, memperingatkan bahwa Indonesia hanya memiliki jendela waktu emas selama 10 hingga 15 tahun ke depan untuk mencapai target tersebut sebelum struktur kependudukan mulai menua.

Dalam acara Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026), Juda Agung menjelaskan bahwa momentum bonus demografi saat ini harus dimanfaatkan secara maksimal agar Indonesia tidak terjebak dalam perangkap pendapatan menengah (middle-income trap).

Kejar Target Sebelum Populasi Menua

Pemerintah menyoroti tantangan besar berupa pergeseran struktur demografi dalam dua dekade mendatang. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, rasio ketergantungan (dependency ratio) Indonesia diproyeksikan terus meningkat sebagai berikut:

  • Tahun 2025: Berada di level 46,5.
  • Tahun 2030: Diperkirakan merangkak naik ke 46,8.
  • Tahun 2045: Melonjak tajam hingga menyentuh angka 59,7.

“Kita tidak boleh menjadi negara yang menua sebelum menjadi negara yang kaya,” kata Juda Agung. Kenaikan rasio ini menandakan beban kelompok usia produktif akan semakin berat saat Indonesia memasuki fase penuaan penduduk (ageing population) yang diperkirakan terjadi pada rentang tahun 2035–2040.

Strategi Lompatan Ekonomi

Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melaju ke angka 8 persen, Kementerian Keuangan menggarisbawahi beberapa strategi transformasi yang krusial:

  • Meningkatkan Kompleksitas Industri: Indonesia harus beralih dari aktivitas bernilai tambah rendah ke industri manufaktur yang lebih maju melalui penguatan riset dan penguasaan teknologi.
  • Memperkuat Kemampuan SDM: Melimpahnya jumlah penduduk usia produktif perlu diimbangi dengan kualitas pendidikan yang baik dan peningkatan keahlian, terutama di bidang STEM (Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika).
  • Mendorong Hilirisasi Tingkat Lanjut: Fokus diarahkan pada transisi dari sekadar mengekspor bahan mentah atau olahan awal menjadi pengembang produk akhir yang terintegrasi dalam rantai pasok global.
  • Membangun Kolaborasi Finansial: Target pertumbuhan yang tinggi tidak bisa hanya mengandalkan kapasitas APBN, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dari sektor swasta dan sektor keuangan untuk menstimulus investasi produktif.

Resiliensi Ekonomi Nasional

Di tengah ketidakpastian global, ketahanan ekonomi domestik pada paruh kedua tahun 2026 ini dinilai masih menunjukkan kinerja yang baik. Sektor manufaktur tetap berada di zona ekspansif, yang didukung oleh indikator konsumsi semen, penggunaan listrik, serta stabilitas inflasi yang terjaga.

Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, pemerintah terus memperkuat jangkar ekonomi baru melalui penyederhanaan regulasi dan kemudahan perizinan investasi guna memastikan pertumbuhan berjalan lebih inklusif.

“Jika sense of urgency untuk mengejar target 8 persen ini tidak kita eksekusi bersama sekarang, maka jendela kesempatan emas ini akan hilang selamanya,” pungkas Juda.

[KE/Red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *