MEDAN, NUSANTARANEWS.co — Pohon menteng mulai kembali menarik perhatian para pencinta tanaman buah di Indonesia. Tanaman yang dahulu cukup dikenal di berbagai daerah ini kini semakin jarang dijumpai sehingga banyak masyarakat mulai tertarik membudidayakannya sebagai bagian dari upaya pelestarian tanaman lokal.
Selain menghasilkan buah yang dapat dikonsumsi, pohon menteng juga menjadi pilihan bagi mereka yang ingin menghadirkan tanaman produktif di pekarangan rumah. Minat yang meningkat membuat informasi mengenai karakteristik, habitat, hingga cara perawatannya semakin banyak dicari.
Sebagai tanaman buah tropis asli Asia Tenggara, menteng telah lama menjadi bagian dari kekayaan hayati Indonesia. Namun, tidak semua orang mengetahui nama ilmiah, syarat tumbuh maupun langkah budidayanya.
1.Mengenal Pohon Menteng dan Persebarannya
Pohon menteng memiliki nama ilmiah Baccaurea racemosa. Tanaman ini termasuk kelompok tanaman buah tropis yang telah lama tumbuh di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Di sejumlah daerah, menteng dikenal dengan nama yang berbeda-beda. Sebagian masyarakat menyebutnya kepundung, rambai, atau rambe. Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan bahwa tanaman ini telah lama dikenal oleh masyarakat di berbagai wilayah.
Habitat alaminya berada di kawasan hutan tropis dengan curah hujan yang cukup sepanjang tahun. Pohon ini banyak ditemukan di daerah pedesaan, kebun campuran, hingga kawasan hutan yang masih terjaga.
Indonesia menjadi salah satu negara dengan persebaran menteng yang cukup luas. Selain tumbuh secara alami, tanaman ini juga dapat dibudidayakan di pekarangan maupun kebun keluarga.
2.Ciri-ciri Pohon dan Buah Menteng yang Mudah Dikenali
Menteng memiliki karakteristik yang cukup khas dibandingkan tanaman buah lainnya. Pohonnya dapat tumbuh hingga mencapai tinggi sekitar 15–25 meter dengan batang berkayu yang tumbuh tegak.
Bagian tajuk umumnya tampak padat dengan susunan cabang yang tidak beraturan. Daunnya berbentuk lonjong dan berwarna hijau sehingga memberikan kesan rindang ketika tanaman sudah dewasa.
Bunga menteng muncul dalam rangkaian yang tumbuh pada batang maupun cabang. Setelah berkembang, buah akan muncul bergerombol dalam satu tangkai.
Buah menteng berbentuk bulat berukuran kecil. Kulit buah akan mengalami perubahan warna saat memasuki masa panen. Daging buahnya memiliki cita rasa masam hingga masam-manis, tergantung tingkat kematangannya, dan di dalamnya terdapat beberapa biji.
3.Alasan Pohon Menteng Kembali Diminati
Meningkatnya minat terhadap tanaman buah lokal menjadi salah satu alasan pohon menteng kembali banyak dicari. Berbagai komunitas tanaman turut bantu memperkenalkan kembali jenis buah yang sebelumnya jarang dibudidayakan ini.
Selain menghasilkan buah yang dapat dimanfaatkan keluarga, menteng juga sering dijadikan koleksi tanaman di pekarangan rumah maupun kebun. Banyak penghobi tanaman tertarik menanamnya sebagai bagian dari koleksi tanaman buah nusantara.
Faktor lain yang mendorong popularitas menteng adalah keberadaannya yang mulai berkurang di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat terdorong untuk ikut melestarikannya melalui budidaya di lingkungan rumah.
Tanaman ini juga memiliki berbagai manfaat. Buahnya dapat dikonsumsi langsung setelah matang, diolah menjadi sirup, dijadikan asinan, hingga dimanfaatkan sebagai bahan fermentasi di beberapa daerah. Buah menteng juga dapat digunakan sebagai campuran berbagai olahan makanan.
Selain buahnya, beberapa bagian tanaman diketahui dimanfaatkan secara tradisional di sejumlah wilayah. Daun dan kulit batang termasuk bagian yang memiliki pemanfaatan tertentu dalam tradisi masyarakat setempat.
4.Syarat Tumbuh, Perawatan, dan Cara Menanam Menteng
Pohon menteng tumbuh baik di lingkungan tropis yang mendapatkan sinar matahari cukup. Suhu idealnya berada pada kisaran 21–28 derajat Celsius, meskipun tanaman ini masih dapat tumbuh pada suhu sekitar 14–34 derajat Celsius.
Tanaman ini menyukai wilayah dengan curah hujan yang memadai dan dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, termasuk tanah berpasir, tanah aluvial, maupun tanah berlempung. Kondisi drainase yang baik tetap diperlukan agar akar tidak tergenang air.
Untuk perawatan rutin, gunakan bibit yang berasal dari tanaman sehat dan lakukan penyiraman secara teratur sesuai kondisi tanah. Area di sekitar batang sebaiknya dijaga tetap bersih dari rumput liar dan genangan air.
Pemangkasan cabang yang kering, pemberian pupuk sesuai kebutuhan, dan pemeriksaan tanaman secara berkala juga bantu menjaga pertumbuhan pohon. Selain itu, tanaman perlu mendapatkan ruang tumbuh yang cukup agar dapat berkembang optimal.
Saat akan menanam menteng di pekarangan, pilih bibit yang tumbuh baik dan tentukan lokasi yang memperoleh cahaya matahari memadai. Buat lubang tanam yang lebih besar daripada ukuran akar bibit, lalu campurkan tanah dengan bahan organik sebelum penanaman.
Masukkan bibit secara tegak ke dalam lubang tanam, tutup kembali dengan tanah hingga akar tertutup, kemudian lakukan penyiraman setelah proses penanaman selesai. Jarak tanam juga perlu diperhatikan agar tanaman memiliki ruang yang cukup selama masa pertumbuhan.
Dengan kondisi lingkungan yang sesuai dan perawatan rutin, pohon menteng dapat tumbuh baik sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan tanaman buah lokal Indonesia, seperti dikutip dari kapanlagi.com, Jumat (3/7/2026) malam.
(KTS/rel)
Sumber: kapanlagi.com












