OPINI  

Danantara dan Konsolidasi Komoditas Antara Peluang Price Maker Dan Risiko Birokrasi Baru

Ekonom Achmad Nur Hidayat

Oleh: Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Apakah konsolidasi ekspor batubara, sawit, dan ferroalloy melalui Danantara Sumberdaya Indonesia dapat membuat Indonesia menjadi price maker di pasar global?

Jawabannya bergantung pada satu hal: apakah Danantara mampu mengubah kekuatan produksi menjadi kekuatan pasar.

Indonesia memang memiliki posisi strategis. Pada 2025, nilai ekspor batubara, sawit, dan ferroalloy mencapai sekitar US$66,13 miliar atau 23,4 persen dari total ekspor nasional. Indonesia juga merupakan eksportir utama batubara termal, produsen sawit terbesar dunia dengan produksi sekitar 46,7 juta ton atau 57 persen produksi global, serta pemain dominan nikel dengan pangsa produksi tambang global di atas 60 persen.

Namun, besarnya produksi tidak otomatis menghasilkan kemampuan menentukan harga.

Dalam pasar komoditas, harga dibentuk oleh kontrak, kualitas produk, logistik, cadangan stok, instrumen lindung nilai, permintaan global, dan kredibilitas pemasok.

Oleh karena itu, Danantara hanya akan menjadi price maker bila mampu menguasai data pasar, memperbaiki kepatuhan ekspor, membangun jaringan pembeli global, serta menurunkan biaya transaksi.

Jika hanya menjadi pintu administrasi baru, dampaknya terhadap harga dan devisa akan terbatas.

Reaksi Pasar dan Risiko Ketidakpastian

Reaksi pasar global sejauh ini lebih menunjukkan kehati-hatian daripada optimisme penuh. Kebijakan baru menempatkan ekspor sawit, batubara, dan ferroalloy melalui badan ekspor terpusat, dengan masa transisi sejak 1 Juni 2026 dan implementasi penuh mulai 1 Januari 2027.

Secara tujuan, kebijakan ini diarahkan untuk meningkatkan penerimaan negara, mencegah under invoicing, memperkuat devisa hasil ekspor, dan menstabilkan rupiah.

Namun pelaku usaha meminta kejelasan teknis mengenai kontrak jangka panjang, harga acuan, mekanisme pembayaran, shipping terms, insurance terms, dan status perjanjian dagang yang sudah berjalan.

Ini penting karena pasar komoditas sangat sensitif terhadap ketidakpastian regulasi. Bila pembeli global melihat risiko keterlambatan pengiriman atau renegosiasi harga sepihak, mereka akan meminta diskon risiko atau mencari alternatif pasokan.

Pengaruh terhadap harga futures sejauh ini lebih tepat dibaca sebagai risk premium, bukan bukti bahwa Indonesia telah menjadi price maker.

Pada nikel dan ferroalloy, sentralisasi dapat mendorong ekspektasi pengetatan pasokan. Pada sawit, dampaknya bisa positif jika memperkuat transparansi dan traceability, tetapi bisa negatif jika menambah biaya perdagangan.

Pada batubara, pasar lebih menunggu kepastian karena sebagian transaksi terikat kontrak jangka panjang.

Efek terhadap Devisa dan Neraca Perdagangan

Dalam satu sampai dua tahun ke depan, potensi terbesar Danantara bukan menaikkan harga global secara drastis, melainkan mengurangi kebocoran nilai.

Jika sistem ini mampu menekan under invoicing, transfer pricing, manipulasi kualitas, dan lemahnya repatriasi devisa, tambahan penerimaan dapat signifikan.

Dengan basis ekspor tiga kelompok komoditas sebesar US$66,13 miliar, perbaikan kepatuhan beberapa persen saja dapat berdampak besar pada devisa dan penerimaan negara.

Namun, jika Danantara membatasi ekspor untuk mendorong hilirisasi, dampak jangka pendek terhadap neraca perdagangan bisa negatif.

Ekspor bahan mentah atau produk antara dapat turun lebih cepat daripada kenaikan ekspor produk hilir.

Risiko ini terutama terlihat pada batubara dan sawit karena keduanya masih menjadi sumber devisa ekspor besar.

Pada nikel, pengalaman hilirisasi menunjukkan nilai ekspor dapat meningkat, tetapi membutuhkan kapasitas smelter, pembiayaan, pasokan energi, dan kepastian pembeli.

Oleh karena itu, hilirisasi tidak boleh dilakukan hanya melalui pembatasan ekspor. Kebijakan harus berbasis sequencing. Industri hilir, logistik, pembiayaan, dan pasar produk akhir harus siap terlebih dahulu.

Jika tidak, kebijakan akan menekan ekspor jangka pendek tanpa menjamin kenaikan nilai tambah.

Komoditas yang Diuntungkan dan Dirugikan

Nikel atau ferroalloy berpotensi paling diuntungkan karena Indonesia memiliki posisi dominan dalam rantai pasok mineral transisi energi.

Namun sektor ini juga menghadapi risiko oversupply dan ketidakpastian investor. Investor China yang selama ini mendominasi pembangunan smelter mulai membaca risiko kebijakan Indonesia dan menjajaki alternatif di negara lain.

Ini menunjukkan bahwa dominasi sumber daya tetap harus disertai kepastian regulasi.

Sawit dapat diuntungkan jika Danantara memperkuat standardisasi kualitas, traceability, sertifikasi keberlanjutan, dan akses pasar premium.

Namun sawit juga rentan karena pembeli memiliki substitusi minyak nabati lain dan pesaing seperti Malaysia.

Batubara menjadi komoditas paling berisiko dalam jangka panjang karena menghadapi tekanan transisi energi. Batubara masih penting untuk kas ekspor, tetapi kurang tepat dijadikan basis strategi investasi jangka panjang.

Ujian Kelembagaan Danantara

Dari perspektif ekonomi kelembagaan, penggabungan tata kelola komoditas lintas sektor dapat dibenarkan bila mampu mengurangi fragmentasi kebijakan.

Selama ini tata kelola komoditas tersebar di banyak kementerian, BUMN, asosiasi, dan rezim perizinan.

Danantara dapat menjadi instrumen koordinasi jika mampu menyatukan data, memperbaiki harga acuan, dan memperkuat kontrol devisa.

Namun sentralisasi juga menciptakan risiko konsentrasi kewenangan.

Tambang dan kebun memiliki struktur risiko berbeda. Batubara terkait energi dan transisi iklim. Sawit terkait pangan, petani, biodiesel, dan keberlanjutan.

Nikel terkait mineral strategis, smelter, baterai, dan industri manufaktur. Karena itu, Danantara tidak boleh memakai satu model kebijakan untuk semua komoditas.

Risiko contagion juga harus diantisipasi. Jika harga batubara jatuh, kerugian portofolio batubara tidak boleh ditutup secara otomatis oleh surplus sawit atau nikel tanpa dasar investasi yang transparan.

Setiap komoditas perlu memiliki laporan keuangan, target return, dan peta risiko terpisah. Cross subsidy hanya dapat dilakukan jika disetujui secara terbuka dan memiliki justifikasi ekonomi.

Agar Tidak Menjadi Tukang Catat

Danantara harus dirancang sebagai investment authority, bukan sekadar administrator ekspor.

Model bisnisnya perlu mencakup commodity trading, investment management, risk management, market intelligence, dan trade finance. Untuk bersaing dengan trader global seperti Glencore, Trafigura, Vitol, Cargill, dan Wilmar, Danantara membutuhkan profesional pasar komoditas, ahli kontrak internasional, analis risiko, spesialis shipping, dan kemampuan hedging.

Pengalihan mandat dan aset juga harus melalui valuasi independen.

Nilai aset tidak cukup dihitung dari nilai buku, tetapi harus mencakup arus kas masa depan, cadangan sumber daya, kontrak, kewajiban lingkungan, utang tersembunyi, sengketa hukum, dan risiko harga.

Tanpa valuasi transparan, Danantara berisiko menjadi tempat pemindahan aset tanpa akuntabilitas.

Risiko korupsi harus ditempatkan sebagai risiko utama.

Semakin besar kewenangan menentukan harga, margin, kontrak, dan akses ekspor, semakin besar pula potensi rente.

Oleh karena itu diperlukan publikasi harga acuan, audit transaksi real time, beneficial ownership registry, larangan konflik kepentingan, e procurement, dan pengawasan independen.

Dividen dari unit usaha Danantara sebaiknya dibagi dalam formula yang jelas: sebagian untuk APBN, sebagian untuk reinvestasi strategis, sebagian untuk dana stabilisasi, dan sebagian untuk cadangan risiko.

Ukuran keberhasilannya bukan hanya dividen tahunan, tetapi peningkatan devisa, penurunan under invoicing, kenaikan nilai tambah ekspor, return on invested capital, dan perbaikan tata kelola.

Kesimpulannya, Danantara memiliki peluang memperkuat posisi Indonesia di pasar komoditas global, tetapi peluang itu tidak otomatis. Indonesia punya volume, tetapi belum tentu punya kendali harga.

Danantara akan berhasil jika menjadi lembaga investasi yang profesional, transparan, dan berbasis data. Jika tidak, ia hanya akan menjadi birokrasi ekspor baru yang menambah biaya tanpa meningkatkan nilai tambah.

END

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *