Garebeg Sawal Keraton Yogyakarta, Mengalirkan Berkah untuk Rakyat

Prosesi Garebeg Syawal Keraton Yogyakarta [ Foto VIVA.co.id]

NUSANTARANEWS.co, Yogyakarta  – Derap langkah prajurit dan iring-iringan gunungan mengalir dari Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe, menghidupkan kembali tradisi Garebeg Sawal yang sarat makna. Di tengah hangatnya pagi, masyarakat antusias menyambut prosesi pada Jumat (20/3) ini sebagai wujud syukur Idulfitri sekaligus harapan akan berkah bagi rakyat.

Sejak pukul 06.30 WIB, suasana di Kompleks Kamandungan Kidul mulai berdenyut. Bregada prajurit bersiap dengan formasi terbaik sebelum bergerak menuju Pagelaran Keraton. Sekitar pukul 09.00 WIB, iring-iringan turun dari Siti Hinggil, menarik perhatian warga yang telah memadati kawasan sejak pagi.

banner 400x130

Di barisan depan, Prajurit Jager membuka jalan, diikuti Prajurit Suranata yang mengawal Abdi Dalem Pengulon dan Kanca Kaji. Barisan berikutnya diisi prajurit Wirabraja, Dhaeng, Patangpuluh, Langenkusuma, hingga Sumahatmaja, membentuk formasi rapi yang mencerminkan kesinambungan tradisi Keraton.

Gunungan sebagai inti prosesi dibawa keluar dari Bangsal Pancaniti melalui Regol Brajanala, melintasi Sitihinggil Lor dan Pagelaran, lalu menuju Masjid Gedhe. Setibanya di halaman masjid, suasana menjadi khidmat saat doa dipanjatkan, memohon keberkahan atas limpahan rezeki yang dilambangkan dalam gunungan.

“Gunungan ini merupakan simbol kemakmuran dan wujud rasa syukur Keraton kepada masyarakat. Usai didoakan, gunungan dibagikan kepada masyarakat di halaman masjid serta didistribusikan ke Pura Pakualaman, Kepatihan, dan Ndalem Mangkubumen,” ujar Koordinator Pelaksana Garebeg Sawal 2026, KRT Kusumanegara.

Usai doa, momen yang paling dinanti tiba, yakni pembagian ubarampe gunungan. Warga yang sejak pagi menunggu dengan sabar mulai mendekat untuk mendapatkan bagian yang diyakini membawa berkah.

Retnowati, warga Gondomanan, mengaku selalu hadir setiap Garebeg. “Saya tidak pernah absen. Ini untuk ngalap berkah, nanti dibawa pulang dan dibagikan ke anak-anak di luar kota. Semoga jadi tolak bala,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Rangga, warga Gowongan, yang baru pertama kali menyaksikan Garebeg Sawal. “Seru dan menarik. Tradisinya tetap lestari dan melibatkan masyarakat. Meski pembagiannya lebih tertib, keseruannya tetap terasa,” katanya.

Sementara itu, Aysa, warga Wirobrajan, mengaku terkesan saat mendapatkan pareden. “Baru pertama kali melihat, sangat berkesan. Katanya membawa berkah, jadi saya simpan untuk dibawa pulang,” tuturnya.

Di balik kemeriahan tersebut, Keraton Yogyakarta juga terus melakukan pembaruan tanpa meninggalkan akar tradisi. Penanggung jawab revitalisasi busana prajurit dan Abdi Dalem, Nyi RP Lukitaningrumsumekto, menjelaskan adanya pengembangan pada busana Kanca Kaji dalam upacara besar.

“Jika busana sehari-hari menggunakan atela putih, busana kebesarannya berbeda. Pangkat Wedana mengenakan sikepan hitam, sedangkan Bekel menggunakan jubah kehijauan,” jelasnya.

Penghageng II Kawedanan Kaprajuritan sekaligus Manggala Prajurit Keraton Yogyakarta, KPH Notonegoro, menambahkan 1setiap Garebeg selalu menghadirkan inovasi sebagai bagian dari pelestarian budaya. “Komitmen kami, setiap prosesi Garebeg menghadirkan hal baru tanpa meninggalkan nilai tradisi,” tandasmya.

Garebeg Sawal merupakan Hajad Dalem Keraton untuk memperingati hari besar Islam, sekaligus simbol kedekatan raja dan rakyat. Berasal dari kata “gumrebeg” yang berarti riuh, tradisi ini bukan sekadar keramaian, melainkan kebersamaan yang sarat makna.

Di bawah terik matahari, masyarakat tetap bertahan hingga prosesi usai. Dari Keraton hingga Masjid Gedhe, dari doa hingga Pembagian gunungan, Garebeg Sawal kembali menjadi jembatan antara syukur, harapan, dan berkah yang dibagikan kepada masyarakat, seperti dikutip dari jogjaprov.go.id, Rabu [25/3/2026] malam.

[dul/rel]

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *