NUSANTARANEWS.co, Subulussalam — Keluhan masyarakat terkait harga gas LPG 3 kilogram (gas melon) yang diduga dijual di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) di Kota Subulussalam terus bermunculan. Selain persoalan harga, distribusi LPG bersubsidi juga dinilai tidak transparan dan kerap menimbulkan kebingungan di tingkat konsumen.
Sejumlah warga mengaku sering mendapati gas dinyatakan habis di pangkalan, sementara pada waktu yang sama kendaraan distribusi justru terlihat menurunkan tabung LPG. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai mekanisme penyaluran serta pengawasan LPG bersubsidi di daerah tersebut.
Di sisi lain, muncul pula pertanyaan kritis dari masyarakat: apakah para pejabat, aparat pengawas, maupun keluarga mereka tidak pernah membeli gas LPG 3 kg atau akan diambil.
Persoalan LPG 3 kg bukan semata soal harga, melainkan menyangkut keadilan distribusi subsidi negara. Karena itu, publik berharap adanya evaluasi menyeluruh dan keterbukaan informasi agar polemik ini tidak terus berulang dan merugikan masyarakat.
[dedi]












