Wahyu Cahyo Saputro, Mahasiswa FBS UNP *)
Novel Pengakuan Pariyem karya Linus Suryandi adalah salah satu karya sastra Indonesia yang unik sekaligus menggugah. Novel ini tidak bercerita dengan alur yang rumit, melainkan lewat monolog panjang dari seorang perempuan jawa bernama pariyem. Ia berkerja sebagai abdi dalem dikeluarga priyayi Yogyakarta.
Dari tutur kata pariyem yang sederhana, kita sebagai pembaca diajak masuk ke dunia wong cilik, dunia yang biasanya jarang ditulis dalam karya sastra, apalagi dengan suara mereka sendiri.

Periyem bercerita tentang kehidupannya sehari-hari, bagaimana ia mengabdi, melayani, mencintai, dan kadang juga terluka. Kehidupannya tampak sederhana, tetapi justru disitulah menariknya. Dalam kisah ini kita bisa melihat bagaimana seorang perempuan Jawa, yang hidup di bawah bayang-bayang tradisi dan kekuasaaan priyayi, tetap setia menjalani hidup dengan cara “nrimo” atau menerima apa adanya.
Dari situ, kita bisa membaca budaya Jawa yang sangat menekankan harmoni, keselarasan, dan kepasrahan. Namun, ketika membaca lebih jauh, skiap “nrimo” itu juga bisa dipertanyakan. Apakah benar sikap menerima nasib selalu baik, atau justru membuat seseorang tidak berani melawan ketidakadilan?
Dalam novel ini, Pariyem sering digambarkan pasif. Ia seolah tidak punya pilihan selain mengikuti arus. Bahkan ketika dirinya mengalami hal-hal yang menekan, ia hanya bisa diam dan tetap mengabdi. Dari sini, munculpertanyaan: apakah keheningan Pariyem adalah bentuk kebijaksanaan, atau sebenarnya sebuah keterpaksaaan?
Di satu sisi, novel ini memang kaya akan nilai budaya. Linus Suryadi berhasil mengangkat filsafat hidup Jawa yang sering kali tidak banyak diketahui pembaca muda saaat ini. Ada ajaran tentang kesabaran, kerendahan hati, menjaga keseimbangan, dan menerima hidup dengan ikhlas. Semua itu terasa kuat lewat suara Pariyem. Namun di sisi lain, kita juga tidak bisa menutup mata bahwa nilai-nilai tersebut membuat tokoh utama ini tampak terkungkung. Perempuan dalam posisi seperti Pariyem tidak diberi ruang untuk menentukan pilihan sendiri. Bagi saya, Pengakuan Pariyem Karya yang perlu dibaca dengan dua kacamata.
Pertama, kacamata budaya: bagaimana nilai-nilai Jawa ditampilkan dengan penuh kelembutan dan kesederhanaan. Kedua, kacamata kritik: bagaimana nilai-nilai itu bisa membungkam suara perempuan, membuat mereka menerima apapun yang terjadi tanpa melawan. Dari perpaduan keduanya, kita bisa merasakan kekuatan novel ini. Ia tidak sekedar menyajikan cerita, tetapi juga memberi ruang bagi kita untuk merenungkan posisi perempuan dalam masyaraka. Novel ini menjadi penting karena meskipun ditulis puluhan tahun lalu, persoalan yang diangkat masih relevan sampai sekarang. Masih banyak perempuan yang suaranya tidak terdengar, baik di rumah, di tempat kerja, maupun di ruang publik. Budaya diam, budaya nrimo, kadang masih melekat hingga hari ini.
Dengan membaca kisah Pariyem, kita seperti bercermin: apakah kita juga masih membiarkan hal itu terus terjadi?
Selain itu, novel inijuga bisa dibaca sebagai kritik tehadap sistem sosial yang timpang. Keluarga priyayi dalam cerita digambarkan punya kuasa penuh, sementara abdi dalem seperti Pariyem hanya bisa mengkuti. Struktur ini menggambarkan betapa kuatnya perbedaan kelas pada masa itu, yang sayangnya masih terasa dalam kehidupan modern sekarang. Walau zaman sudah berubah, kesenjangan sosial tetap ada. Suara- suara seperti Pariyem teap sering diabaikan.
Membaca Pengakuan Pariyem juga membuat kita sadar bahwa sastra bukan hanya hiburan, tapi juga alat untuk melihat realitas. Linus Suryadi dengan berani memberi panggung kepada suara kecil yang biasanya tenggela. Dalam hal ini, ia seperti mengingatkan kita sebagai pembaca bahwa setiap orang, betapa pun sederhannya hidup mereka, punya cerita yang berharga untuk didengar.
Saya pribadi merasa bahawa novel ini bukan sekedar kisah seorang abdi dalem, ,elainkan juga ajakan untuk berpikir ulang: maukah kiata terus menganggap wajar perempuan yang diam dan pasrah? Atau sudah saatnya kita memberi ruang bagi mereka untuk bersuara lebih lantang? Pertanyaan ini membuat novel ini tetap hidup sampai sekarang, sekalipun ditulis dalam konteks budaya Jawa beberapa dekade lalu. Pariyem dengan segala keheningannya justru mengahdirkan suara yang kuat.
Suara itu tidak muncul dari teriakan atau perlawanan, melaikan dari ketabhan, kesabaran, dan cara pandang yang apa adanya. Tapi bagi pembca masa kini, suara itu bisa dibaca ulang: mungkin bukan sebagai teladan untuk pasrah, melainkan sebagai pengingat bahwa suara-suara yang diam pun sebenarnya punya makna yang dalam. Karena itu, Pengakuan Pariyem pantas dianggap sebagai salah satu karya penting dalam sastra indonesia.
Ia sederhana, tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Ia lembut, tetapi mengandung kritik sosial yang tajam. Dan yang paling penting, ia membuat kita bertanya pada diri sendiri: apakah lita cukup peka mendengar suara- suara kecil yang sering diabaikan dalam kehidupan kita sehari-hari?
Pada akhirnya, Pengakuan Pariyem bukan hanya cerita lama, tapi juga cermin bagi kita untuk melihat ualang bagaimana perempuan ditempatkan dalam kehidupan sosial. Novel ini layak untuk di dengar, dan bahawa diam bukan berarti setuju. Justru dari keheningan itulah kita bisa belajar banyak tentang keberanian,kesabaran, dan makna yang sebenarnya.


