Kisah Nyata 1939 : Hasan Ligat Menebas Dua Serdadu Belanda 

Catatan Arif Andepa edisi : Ketiga

Sudah delapan bulan Hasan menjalani hukuman di pulau Nusakambangan namun Habibah masih tetap dirundung bimbang, apakah Habibah pulang ke gampong halamannya di meunasah cut peudada atau bertahan hidup tinggal bersama ibu mertuanya di gampong blang paseh sigli sedangkan Hasan tidak mungkin kembali lagi kepangkuannya karena vonis hukuman seumur hidup yang harus dijalaninya sampai ajal menjemput. Untuk biaya kelansungan hidup sehari-hari Habibah ditawarkan berjualan dan dibantu oleh Johan adik iparnya yang berprofesi sebagai petugas pengutip retrebusi pasar ( Haria Peukan ) di kota sigli.

Keseharian Habibah terus berjualan sayur2an, dan sejak itu kehidupan Habibah mulai terasa tenang serta rasa ketergantungan hidup pada suaminya mulai berkurang bila ada kendala ditempat Habibah berjualan selalu dibantu oleh tgk Hanafiah tetangga jualan dan sangat peduli serta menaruh hati kepada Habibah yang berparas jelita.

Waktu terus bergulir kepedulian tgk Hanafiah pada Habibah semakin bertambah akrab tetapi terkendala dengan status Habibah sebagai isteri Hasan yang sah.

Waktu terus berlalu, bulan berganti tahun hubungan tgk Hanafiah dengan Habibah senyum simpulnya terus mengalir, dua sijoli ini sudah terpaut asmara, gelora cinta hampir tak terbendung namun keduanya masih merahasiakan karena Habibah terhadang ikatan nikah dengan suaminya sedangkan Hasan harus menjalani vonis hukuman seumur hidup dipengasingan dan takkan mungkin kembali lagi, tetapi yang menjadi persoalan adalah, apakah Hasan akan menceraikan isterinya atau Habibah yang akan memasahkan suaminya ? …….. Bersambung .

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *