OPINI  

Pelaparan Gaza , Bukan Sekedar Bantuan Makanan Tapi Bantuan Militer

Foto ilustrasi istimewa

Oleh: Ifah Rasyidah (Pegiat Literasi Islam)

Saat ini sorotan dunia masih tertuju pada Palestina. Serangan Israel  terhadap penduduk Gaza tidak kunjung berhenti. Kini Gaza dihadapkan pada bencana lain, yakni kelaparan lebih tepatnya pelaparan secara sistematik, dehidrasi dan malnutrisi. Hal ini  akan membawa anak-anak Gaza pada kematian. Ditambah lagi blokade yang dilakukan Israel terhadap 2.3 juta jiwa warga Gaza diseluruh perbatasan yang menghalangi masuknya bantuan pangan dan obat-obatan.

Indonesian dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Gaza melalui mekanisme airdrop tahap kedua dalam misi Operasi Bantuan Kemanusiaan Gaza Palestina Satgas Garuda Merah Putih II. Bantuan tersebut berhasil diterjunkan dari atas pesawat Hercules milik TNI AU, Senin (18/8/2025).

Bantuan tahap ini merupakan kelanjutan dari pengiriman perdana pada 17 Agustus 2025, yang bertepatan dengan peringatan HUT ke-80 Republik Indonesia. Dalam misi ini, BAZNAS RI menyalurkan 80 ton bantuan pangan melalui jalur udara (airdrop).

Kelaparan Gaza bukanlah kasus rakyat Gaza saja tapi merupakan tanggung jawab kita bersama sebagai umat Islam. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim maka Allah menghilangkan satu kesusahan baginya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR Bukhari No. 2262).

Bantuan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya memang mereka butuhkan, namun hanya bersifat sementara hanya menyelesaikan kasus kelaparan namun penjajahan tetap terjadi di Gaza. Solusi mendasar dan mendesak hakekatnya adalah pembebasan tanah Palestina dari penjajahan zionis. Untuk mengakhiri penjajahan di Gaza. Dan semua itu membutuhkan kesatuan pemikiran dan langkah strategis untuk bersatu menolong saudara muslim di Gaza, yakni pengiriman bantuan militer dari negeri-negeri muslim termasuk Indonesia .

Masalah Palestina yang tidak kunjung selesai adalah bukti solusi-solusi yang ditawarkan selama ini adalah solusi parsial dan sangat tidak solutif. Umat Islam harus memahami bahwa krisis dan kelaparan di Gaza adalah  tanggung jawab seluruh umat Islam. Jangan pernah berharap pada organisasi internasional seperti PBB dan Liga Arab. Mereka tidak lain adalah lembaga remote AS dan Barat. Sangat jelas posisi  lembaga Internasional lemah dan tidak berdaya ketika berhadapan dengan kepentingan AS dan sekutunya.

Umat Islam harus memahami bahwa kekuatan nyata saat ini yang mampu membantu muslim Gaza ada pada pemimpin negeri-negeri muslim. Mereka memiliki tentara, senjata dan kekuatan militer yang canggih. Namun negeri-negeri muslim sepertinya sudah kehilangan kekuatannya. Kecemasan dan ketakutan lebih besar dibandingkan rasa cintanya terhadap saudara muslim mereka di Gaza.

Lalu, sampai kapan kita menyaksikan Gaza hancur oleh genosida rudal dan kelaparan yang dilakukan zionis? Kelak anak-anak Gaza akan menuntut sikap diam umat Islam. Diamnya umat Islam dalam menghadapi ketidakadilan ini adalah tindakan kedzaliman dan merupakan dosa besar yang akan ditanya oleh Allah kelak tentang apa yang ditelah di lakukan untuk muslim Gaza.

Anak-anak, wanita, lansia di Gaza dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Gaza butuh solusi fundamental dan strategis yang mampu membebaskan Gaza.

Oleh karenanya hendaknya negeri-negeri muslim menyerukan jihad (perang) dan membuka pintu-pintu perbatasannya dengan Palestina, dan menggerakkan seluruh kekuatan tentara yang mereka miliki. Inilah yang wajib mereka lakukan dalam rangka memenuhi seruan Allah SWT  yaitu jihad fisabilillah. Inilah solusi fundamental untuk menghentikan penjajahan di Gaza.

Penguasa Muslim harus menghilangkan rasa takut dan kecemasan atas kekuatan semu AS dan Israel dan bangsa-bangsa pendukungnya. Fakta membuktikan, AS pernah mengalami kebangkrutan besar dalam perang di Afganistan dan Irak karena tidak mampu mematahkan perlawanan para mujahidin. Ini bukti  orang-orang kafir sangat takut terhadap kekuatan umat Islam. Umat Islam harusnya belajar, jika Irak dan Afganistan saja mampu melemahkan AS dan sekutunya. Tentunya dengan kekuatan bersama-sama negeri-negeri muslim akan membuat AS dan sekutunya bertekuk lutut sehingga umat Islam mampu membebaskan Palestina.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah mengusir orang-orang Yahudi dari Madina karena melakukan sejumlah pelanggaran perjanjian yang merugikan kaum muslimin saat itu. Ini adalah contoh yang harusnya dilakukan umat Islam, yaitu mengusir zionis Israel dari tanah Palestina. Sebab akar persoalannya adalah berdirinya entitas Israel di tanah kaum Muslim. Tanah Palestina adalah hak dan milik umat Islam yang diperoleh dengan tetesan darah kaum muslimin. Statusnya sebagai tanah kharajiyah tidak akan pernah berubah hingga Hari Kiamat. Karena itu, langkah damai dan solusi dua negara, hanyalah manipulasi sekaligus merupakan pengakuan tak langsung terhadap penjajahan bangsa Yahudi atas tanah kaum Muslim. Para penguasa Muslim saat ini wajib meniru para Khalifah dulu yang tidak pernah membiarkan sejengkal pun tanah Palestina dicaplok  Yahudi kafir seperti Israel. Karena mereka sangat paham Palestina adalah tanah yang dimuliakan milik seluruh umat Islam.

Sudah saatnya para penguasa negeri Islam meninggalkan sistem jahiliah saat ini yaitu demokrasi sekuler dengan cara menerapkan syariah Islam secara total dalam institusi Khilafah. Lalu umat akan berperang di belakang Khalifah (yang berfungsi sebagai perisai) untuk menghancurkan eksistensi Yahudi dan menghentikan penjajahan AS dan sekutunya.

Penguasa Muslim juga hendaknya menghentikan kerjasama dengan sistem kapitalis-imperialis pimpinan AS dan sekutunya, baik dari PBB maupun lembaga-lembaga turunannya yang lain, seperti IMF, World Bank dan lainnya. Karena semua itu adalah alat untuk menekan seluruh kebijakan-kebijakan mereka atas negeri-negeri Muslim dan memperkuat hagemoni mereka di negeri-negeri Muslim. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *