OPINI  

Penyakit Hati: Campuran Energi Tubuh dan Ketidaksadaran Jiwa

Foto ilustrasi

Oleh: Syahril Syam *)

Dalam pandangan Filsafat Hikmah, jiwa dan tubuh bukan dua realitas yang sepenuhnya terpisah, tetapi terhubung secara dinamis melalui gerak substansial. Jiwa mengendalikan dan memberi bentuk pada tubuh, namun tubuh juga dapat memengaruhi keadaan jiwa, terutama saat jiwa dalam keadaan lalai atau lemah. Salah satu bentuk paling nyata dari ketidakharmonisan ini adalah munculnya penyakit hati – seperti iri, dendam, sombong, dengki, riya’, takabur, cinta dunia berlebihan, dan sebagainya. Penyakit-penyakit ini bukan hanya gangguan spiritual, melainkan juga dampak dari respons tubuh terhadap stimulus eksternal yang tidak dikelola secara sadar oleh jiwa.

Tubuh manusia dilengkapi dengan sistem saraf, hormon, dan mekanisme refleks yang cepat merespons dunia luar. Ketika seseorang melihat orang lain lebih berhasil, tubuh mengaktifkan dopamin dan kortisol – hormon yang berkaitan dengan keinginan dan stres. Ketika seseorang menyakiti kita, adrenalin dipompa, jantung berdetak cepat, dan otot menegang. Semua reaksi tubuh ini adalah wajar secara biologis. Namun, jika jiwa tidak hadir secara sadar untuk mengelolanya, maka tubuh menjadi “pengendali sekunder” – memicu lahirnya keputusan emosional yang tidak sehat. Dari sinilah penyakit hati mulai tumbuh: dari dorongan tubuh yang tidak disaring oleh kesadaran ruhani.

Ketika jiwa lemah, lalai, atau tidak hadir secara sadar, maka ia tidak mampu menyaring dorongan-dorongan tubuh. Emosi destruktif pun mendominasi. Maka iri muncul bukan karena “kita ingin jadi baik”, tetapi karena “tubuh merasa kurang” saat melihat keberhasilan orang lain. Dendam lahir karena tubuh menyimpan trauma, dan jiwa gagal melepaskan. Sombong tumbuh dari sensasi tubuh saat dipuji, dan jiwa membiarkannya tumbuh tanpa kontrol. Dengan kata lain, penyakit hati muncul bukan hanya dari kesalahan jiwa, tetapi dari kegagalannya mengatur reaksi tubuh. Inilah yang disebut campuran antara energi tubuh dan ketidaksadaran jiwa.

Di sinilah peran jiwa yang sadar menjadi penting. Jiwa yang hadir dengan kesadaran tidak langsung menanggapi rangsangan tubuh secara impulsif, tetapi mampu menyaring dan memahami makna di balik sinyal tersebut. Ia tidak sekadar bereaksi, melainkan merespons dengan kebijaksanaan. Misalnya, ketika merasa iri, jiwa yang sadar tidak membiarkan iri itu berkembang menjadi dengki, melainkan mengubahnya menjadi doa dan harapan baik untuk orang lain. Dendam yang membara bisa dijadikan energi untuk belajar memaafkan. Kesombongan dilunakkan menjadi kerendahan hati. Rasa takut diubah menjadi kepercayaan penuh kepada Sang Maha Sempurna. Bahkan kecintaan berlebihan terhadap dunia dijadikan sebagai jembatan menuju kehidupan akhirat.

Proses ini sebagai penyempurnaan jiwa. Jiwa yang berkembang adalah jiwa yang berhasil memimpin tubuh, bukan yang dikendalikan oleh dorongan tubuh semata. Dengan demikian, jiwa yang sadar bukan hanya menjadi penyaring emosi dan dorongan, tetapi juga menjadi pemimpin dalam mengarahkan kehidupan menuju kesempurnaan spiritual dan kedamaian batin. Oleh sebab itu, penyakit hati bukan hanya persoalan akhlak atau moral belaka, melainkan juga menyangkut persoalan yang lebih dalam, yaitu persoalan keberadaan atau ontologis. Penyakit hati muncul ketika energi-energi tubuh – seperti emosi, dorongan, dan keinginan – bergerak tanpa arahan dari kesadaran ruhani.

Dalam keadaan seperti ini, jiwa gagal menjalankan tugasnya sebagai pemimpin yang seharusnya membimbing tubuh. Akibatnya, reaksi-reaksi emosional muncul tanpa kendali dan dapat membawa seseorang pada keburukan atau penderitaan batin. Memperbaiki kondisi hati bukan sekadar menahan amarah, menekan keinginan, atau berpura-pura baik, tetapi justru menumbuhkan kehadiran jiwa yang sadar dalam setiap pengalaman tubuh. Jiwa yang sadar hadir bukan untuk menolak keberadaan tubuh, tetapi untuk memimpinnya dengan hikmah dan kasih.

Dengan pemahaman ini, kita tidak lagi melihat tubuh sebagai musuh yang harus dikekang, melainkan sebagai alat yang perlu diarahkan dengan kebijaksanaan jiwa. Maka, penataan ulang kehidupan batin dimulai bukan dari penekanan, melainkan dari kesadaran – sebuah kesadaran jiwa yang memimpin secara utuh dan luhur seluruh keberadaan kita.

@pakarpemberdayaandiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *