Teguh dan Tak Terpengaruh:  Tiga Putra Aceh Diwisuda di Negeri Para Wali

Oleh: M. Syarif At-Tharii (mahasiswa Mustawa 4 Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff, Yaman)

NUSANTARANEWS. co – Tarim, Yaman — Suasana pagi itu berbeda dari biasanya. Langit kota Tarim, yang biasa menyambut mentari dengan tenang, kini dihiasi oleh semangat dan haru. Pada Kamis, 29 Mei 2025, Universitas Al-Ahgaff kembali menggelar wisuda tahunan, kali ini dengan nuansa yang lebih meriah dan penuh makna. Sebanyak 155 mahasiswa dari berbagai penjuru dunia diwisuda dalam sebuah upacara yang khidmat, diadakan di luar kawasan universitas dan disambut oleh para ulama terkemuka Tarim.

Wisuda yang dimulai pukul 08.00 pagi waktu setempat ini tak hanya menjadi momentum kelulusan akademik, tetapi juga perayaan keteguhan ilmu dan perjuangan jiwa. Di antara ratusan mahasiswa yang mengenakan jubah kebanggaan itu, tiga putra terbaik dari Aceh turut diwisuda dengan prestasi yang membanggakan.

Dari Meunasah Aceh ke Jantung Ilmu Yaman

Yang pertama, Ulul Azmi bin Muhammad Nur, atau yang lebih dikenal sebagai Tgk. Ulul, adalah putra asal Meunasah Capa, Kota Juang, Bireuen. Perjalanan pendidikannya bermula dari Tsanawiyah Ummul Ayman Samalanga, lalu dilanjutkan ke jenjang Aliyah di Dayah Thautiatut Thullab Arongan. Tahun 2019, Tgk. Ulul berangkat ke Yaman, meniti jalan ilmu yang panjang dan penuh ujian. Kini, ia menjabat sebagai Ketua Perkumpulan Pelajar Aceh di Yaman, menjadi representasi semangat kolektif pelajar nusantara yang merantau demi ilmu.

Selanjutnya, Tgk. Dian Rizki bin Muhammad Shaleh dari Simpang Mamplam, Bireuen, juga menjadi salah satu lulusan yang diwisuda. Delapan tahun masa mudanya ia abdikan di Pesantren Arongan, tempat ia menanam fondasi ilmu agama yang kuat. Pada Desember 2020, ia melanjutkan studi ke Universitas Al-Ahgaff, dan hari ini, ia mengukir prestasi sebagai alumni resmi salah satu universitas Islam paling prestisius di Timur Tengah.

Yang ketiga adalah Tgk. Muhammad Zikri bin Harwi, putra Desa Sidorejo, Kota Langsa. Perjalanan keilmuannya dimulai sejak 2013 di Dayah Ummul Ayman. Ia menyelesaikan pendidikan formal dan nonformal di pesantren tersebut sebelum melanjutkan ke Yaman, bersamaan dengan Tgk. Dian Rizki pada pertengahan Desember 2020. Selain kuliah, Tgk. Zikri aktif sebagai Ketua Badan Usaha Percetakan milik universitas — peran yang mencerminkan kepiawaian manajerialnya.

Ketiga putra Aceh ini membuktikan bahwa ilmu tidak mengenal batas geografi. Dengan nilai akademik yang baik dan kontribusi nyata dalam komunitas pelajar, mereka menjadi simbol kegigihan generasi baru Aceh yang merantau demi kemuliaan ilmu.

Zarbadi, Hikmat dan Semangat

Wisuda tahun ini terasa istimewa karena diiringi dengan arak-arakan mahasiswa yang disambut oleh tarian Zarbadi, tarian tradisional khas Tarim. Para ulama dan mahasiswa dengan tertib memasuki ruang utama acara. Prosesi dimulai dengan pembukaan oleh Ketua Angkatan Wisudawan, dilanjutkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan sepenggal hadis Nabi Muhammad yang menyentuh kalbu.

Sambutan-sambutan pun menggema dari berbagai pihak, menyampaikan apresiasi dan harapan terhadap masa depan para alumni. Acara berlangsung dengan penuh khidmat dan haru, menjadi bukti bahwa ilmu yang ditimba dengan niat dan keikhlasan akan selalu diberkahi dan dirayakan.

Tema: “Tetap Teguh, Tak Terpengaruh”

Rektor Universitas Al-Ahgaff, Prof. Dr. Abdullah Baharun, dalam sambutannya mengangkat tema wisuda ke-26 ini: “Tetap Teguh, Tak Terpengaruh.” Tema ini terinspirasi dari sabda Nabi Muhammad

“Mereka (kaum musyrikin) benar-benar telah memberontak kepada kami. Dan jika mereka menginginkan fitnah terhadap agama kami, maka kami tetap teguh menolaknya.”

Abuya Baharun menjelaskan bahwa tema ini juga diambil dari nama angkatan 26, yaitu “Nubalā’”, yang berarti orang-orang pandai. Menurut beliau, seorang yang nabil adalah mereka yang tidak termakan fitnah, dapat membedakan antara hak dan batil, serta tidak mengikuti hawa nafsu. Harapannya, para wisudawan mampu menjadi dinding teguh penolak fitnah yang menyerang Islam dan kaum Muslimin.

Mahasiswa Internasional Bersatu dalam Satu Hari Bahagia

Tak hanya dari Aceh atau Indonesia, para wisudawan datang dari berbagai provinsi dan bahkan berbagai negara, termasuk Yaman dan sejumlah negara di Afrika. Hari itu menjadi saksi bagaimana Islam mempersatukan anak-anak bangsa dari latar belakang yang berbeda untuk satu tujuan: kejayaan ilmu.

Di balik jubah wisuda itu, tersimpan tangis malam, doa panjang, dan pengorbanan keluarga. Para mahasiswa itu bukan hanya lulusan akademik, tapi juga pejuang ilmu dalam arti sebenarnya. Tiga putra Aceh — Tgk. Ulul Azmi, Tgk. Dian Rizki, dan Tgk. Muhammad Zikri — adalah bagian dari kisah panjang kebangkitan Islam yang tak akan berhenti hanya di Tarim.

Kelak, nama mereka akan tertulis dalam sejarah sebagai generasi yang “tetap teguh, tak terpengaruh.” ( Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *