banner 728x250

Ekonom Indef ungkap Butuh Perbaikan Ketahanan Pangan Untuk Meningkatkan Daya Beli Masyarakat

Foto ilustrasi Investor Daily

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Optimalisasi sektor pangan menjadi penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Untuk itu, pemerntahan baru di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka harus dapat mengoptimalkan sektor pangan ke depannya.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance [Indef] Eko Listyanto saat diskusi publik Indef  bertajuk “ Dinamika Lebaran dan Arah Ekonomi Prabowo-Gibran “ yang digelar secara daring, Selasa [26/3/2024].

Menurut Eko, mustahil ekonomi akan tumbuh di atas angka 5 persen jika pemimpin baru hanya melanjutkan program Presiden Jokowi.

Eko menambahkan, butuh perbaikan dalam ketahanan pangan untuk meningkatkan daya beli masyarakat yang berujung pada pertumbuhan ekonominya.

“ Kalau strateginya hanya melanjutkan, sulit mencapai 6%-7%, karena rekam jejak pemerintahan Jokowi di 5 persen. Kemungkinan sulit kalau bicara dalam konteks realitas hari ini. Tapi, kalau bisa memperbaiki dari ketahanan pangan kita ke depan, setidaknya ada perbaikan dari sisi daya beli,” demikian disampaikan Eko.

Masih Eko, dengan kekuatan pangan, seharusnya Indonesia tidak perlu lagi mengkhawatirkan adanya tren negara-negara di dunia melakukan pembatasan atau larangan ekspor bahan pangan sepanjang 2023.

“Lalu, dari sisi domestik negara bisa menjaga harga pangan di tengah melonjaknya permintaan dan terbatasnya suplai pada momen tertentu, seperti momen Ramadan dan Idul Fitri,” pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan, potensi adanya kanaikan inflasi bulanan yang didorong karena kenaikan harga pangan saat ramadan dan Lebaran 2024.

Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menegaskan bahwa secara historis puncak inflasi selalu terjadi pada saat Ramadan dan Lebaran karena kenaikan beberapa komoditas pangan seperti daging sapi, daging ayam ras dan telur ayam ras.

“Tiga komoditas ini selalu memberikan andil inflasi 10 terbesar pada saat ramadan, hari raya idul fitri di setiap tahun,” kata Amalia beberapa waktu lalu.

[sur/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *